Resume Buku Qowaidud Da’wah Ilallah (Part. 1)

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Berdakwah itu menabur cinta. Ketika berdakwah, seorang da’i mengupayakan keselamatan umat manusia dari api neraka. Da’i menawarkan surga sebagai hadiah kepada orang-orang di sekelilingnya, dan menunjukkan mereka jalan menuju bahagia.

Tulisan kali ini merupakan ikhtisar dari buku Qowa’idud Da’wah Ilallah (Kaidah-kaidah Dakwah) karya seorang da’i dan juga guru besar, beliau bernama Dr. Hammam Abdurrahim said.

Buku edisi terbaru ini versi lengkap dari cetakan pertamanya. Berisi 21 kaidah yang mengandung ta’shil syar’i terhadap beragam amal Islami. Selain itu membahas tentang bagaimana menyikapi sebuah fitnah, lalu menawarkan prinsip “berani masuk untuk menghadapinya”. Kemudian membahas bahaya uzlah (mengasingkan diri) dari umat di saat umat membutuhkan para mujahid yang amilin.

Kaidah 1. Dakwah adalah Jalan Keselamatan Dunia Akhirat

Dakwah adalah puncak ibadah kepada Allah. Seorang da’i sudah semestinya memahami bahwa tujuan Allah menciptakan manusia itu hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah adalah mengagungkan perintah Allah, dan berdakwah merupakan manifestasi tertinggi dari pengagungan terhadap Allah.

Berdakwah berarti menyeru untuk mengikuti suatu pemikiran, mengusung suatu tujuan dan mengerahkan segala kemampuan untuk hal itu. (Hal. 3 – 4)

Tidak ada kerugian dalam dakwah. Jalan dakwah tidak selalu penuh kesulitan, kepayahan, rugi, dan sakit. Walaupun jalan dakwah tidak terlepas dari rintangan dan ujian, dakwah adalah sesuatu yang enak dirasakan dan nyaman di hati.

Oleh karena itu, para da’i rela mengorbankan sesuatu yang berharga dari miliknya di jalan dakwah. Dengan dakwah, mereka menjadi orang paling bahagia.

Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa kedamaian bagi umat manusia. Jika kita mengkaji ayat-ayat tentang perselisihan para nabi dengan kaumnya, akan tampak orang-orang yang menentang dan mendustakan seorang rasul akan segera dienyahkan dengan siksa Allah.

Akan tetapi, datangnya dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sudah tidak ada pemusnahan seperti ini. Hal Ini merupakan karunia Allah untuk memuliakan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena masih ada orang-orang yang tekun menyampaikan hujjah dan menegakkan perintah Allah, itulah para da’i. Ketika di bumi tidak ada yang berdakwah lagi, maka kiamat akan datang. (Hal. 8 – 9)

Kaidah 2. Hidayah Allah dari Tanganmu Lebih Baik dari Unta Merah

Hidayah Allah dari tanganmu lebih baik dari unta merah. Itulah kabar dari Raulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ketika menyerahkan panji Islam pada perang Khaibar dalam hadist riwayat Imam Bukhari.

- Advertisement -

Demikianlah. Dakwah harus ditegakkan, karena petunjuk Allah adalah sebenar-benarnya petunjuk. Tidak ada setelah petunjuk ini selain kesesatan.

Dakwah harus ditegakkan, karena petunjuk Allah adalah sebenar-benarnya petunjuk. Tidak ada setelah petunjuk ini selain kesesatan

Ketika Allah telah memberikan pertolongan kepada para da’i Islam, kemudian menyiapkan orang-orang yang menerima dakwahnya, maka sesungguhnya hasil dari semua itu adalah sesuatu yang mulia dan agung. (Hal. 15)

Kaidah 3. Pahala Diperoleh Karena Berdakwah Bukan Karena Hasilnya

Pahala diperoleh karena berdakwah. Kaidah ini berusaha mengoreksi keyakinan bahwa pahala dakwah tergantung dari hasil yang tampak secara riil. Bagi orang yang memiliki keyakinan seperti ini, dakwah diserupakan dengan pekerjaan duniawi, yang dilihat dari hasil akhirnya. (Hal. 21)

Seorang da’i tidak seharusnya merasa tertekan dan kalut ketika orang-orang berpaling dan tidak mau beriman. Dalam hal ini Allah Ta’ala hanya membebani rasul-Nya sesuai dengan kemampuan. Jadi tak usah bersedih saat banyak yang berpaling. (Hal. 23)

Jangan terburu-buru melihat hasil. Para da’i yang terburu-buru ingin melihat hasil duniawi yang bersifat riil merupakan kesalahpaham, dan juga menyalahi kaidah-kaidah dakwah yang sudah jelas terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para da’i tetap dituntut untuk berikhtiar maksimal. (Hal. 25 – 27)

Kaidah 4. Da’i Wajib Mencapai Level Mubalig

Berdakwah di jalan Allah tidak berbeda dengan orang yang beriklan dan berpromosi dalam urusan duniawi. Seperti itu jugalah seorang da’i. Allah memberikan tugas kepada para rasul-Nya untuk menjadi seorang mubalig, yakni menyampaikan Islam dengan terang dan jelas. (Hal. 31)

Seorang da’i harus mencapai level mubalig guna menyampaikan risalah dengan baik. Seorang mubalig harus membekali diri dengan pemahaman terhadap nash dan mempraktikkannya. Selain itu, mubaligh juga harus menguasai tata bahasa dengan baik agar dapat berbahasa secara benar.

Al Qur’an menegaskan pentingnya berbicara dengan fasih dan benar. Sebagaimana do’anya nabi Musa ‘alahissalam yang termaktub dalam surat Thaha ayat 27-28. Di sisi lain, seorang da’i harus memiliki teman dalam berdakwah. Keberadaan teman dapat menguatkan da’i dan membantunya menjadi tenang, serta meyakinkan mad’u (penerima dakwah) untuk menerima risalah dakwah. (Hal. 32 – 37)

Seorang da’i agar sampai pada level mubalig harus menggunakan sarana pendukung. Ketika menyampaikan dakwah kepada masyarakat dapat dengan bantuan metode dakwah, media bahkan melalui makhluk-makhluk Allah dan keajaiban ciptaan-Nya. Para nabi dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga menggunakan sarana seperti ini. (Hal. 38 – 40)

Dalam berdakwah – agar mencapai level mubalig – seorang da’i harus berupaya dengan beragam cara dan juga harus menyampaikan pesan dakwah dengan lembut, tidak dengan keras. (Hal. 43 – 45)

Kaidah 5. Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Sambil Memohon Bantuan Rabbani

Allah menghendaki dakwah ini dilakukan dengan upaya manusiawi. Seorang da’i sejati adalah da’i yang mampu memanfaatkan segala sarana dan menempuh proses untuk melakukan dakwah. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, siang malam melakukan dakwah dengan menggunakan segala sarana yang ada di masanya. (Hal. 51)

Sekarang ini banyak yang salah dalam memahami Surat Al-Baqarah ayat 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Sebagian orang memahami bahwa yang dimaksud dengan kesanggupan adalah batas minimal dari apa yang dapat dilakukan oleh seseorang.

Padahal maksudnya di sini adalah, seorang da’i harus mengerahkan segala kemampuannya sekuat mungkin, dan jerih payahnya harus semakin bertambah dengan seiring bertambahnya hari. (Hal. 52 – 54)

Kemampuan sangat dipengaruhi oleh keinginan pribadi yang kuat. Ketika keinginan tidak ada, maka seseorang menjadi tidak mampu. Bagaimanapun kondisinya, setiap orang memiliki kewajiban berdawah.

Berdakwah di jalan Allah bukan hanya dalam bentuk perang saja, melainkan mempunyai makna yang lebih luas. Salah satu bentuk berjihad di jalan Allah itu adalah dengan berdakwah. Seorang muslim dituntut untuk mengerahkan segala kemampuannya dan bertanggung jawab untuk menolong agama Islam dengan segala macam bentuk jihad. (Hal. 60 – 61)

Sifat-sifat orang beriman salah satunya adalah rasa kasih sayang. Al-isyfaq mengandung rasa khasyah disertai dengan kelembutan dan merendahkan diri. Orang yang rasa khasyah-nya sampai pada level isyfaq, maka orang ini sangat takut (khauf) dengan murka dan siksa Allah baik sekarang maupun nanti. (Hal. 64)

Kaidah 6. Da’i adalah Cerminan dan Contoh Nyata Bagi Dakwahnya

Seorang da’i tidak dapat dipisahkan dari dakwahnya. Hal ini sudah melekat dalam benak masyarakat. Seorang da’i menjadi cermin dan saksi bagi dakwahnya. Dengan cerminan ini, masyarakat menjadi menerima dakwah ataupun menolaknya.

Apabila perilaku seorang da’i jauh dari ajaran Islam, maka hal itu justru dapat menjadi fitnah yang bisa membuat masyarakat semakin menjauhi agama Islam dan membuat orang menjadi tidak tertarik dengan Islam. (Hal. 69)

Para sahabat merupakan contoh yang benar dan mencerminkan dakwah serta ke-Islamannya. Para sahabat memberikan cerminan mulia dari agama ini kepada manusia. (Hal. 70 – 71)

Sebaik-baik perkataan adalah yang dilakukan. Orang-orang saleh mengatakan, “Ilmu menuntut untuk diamalkan. Apabila diamalalkan maka akan tetap ada, sedangkan apabila tidak, maka akan sirna.”

Jadi bagi seorang da’i, sebelum meminta orang lain melakukan sesuatu, maka seorang da’i harus terlebih dahulu melakukan hal tersebut. (Hal. 73)

Kaidah 7. Serulah Manusia Sesuai Kadar Akal dan Pemahaman Mereka

Seorang da’i yang bijak harus mempertimbangkan kadar kemampuan pikiran mad’u dan tidak boleh membebaninya di luar batas kemampuan mereka. Imam Bukhari mengatakan, “Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dari ilmu yang ringan sebelum ilmu yang besar.” (Hal. 77)

Dalam kaidah ini orang-orang terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, orang awam yang tidak belajar. Kedua, orang-orang terpelajar dan setingkat dengan mereka pengetahuannya. Lalu ketiga, orang-orang yang spesialis dalam bidang keilmuan tertentu. (Hal. 81 – 82)

Kaidah 8. Ujian (Ibtila’) adalah Sunnatullah Sekaligus Jalan Menuju Aplikasi Dakwah dan Pembentukan Jiwa Da’i

Ketika pekerjaan semakin berat, sulit, dan rumit, maka seseorang butuh bekerja lebih besar lagi dalam mempersiapkan dan melatih diri agar sesuai dengan tingkat kesulitan pekerjaan tersebut.

Bekerja untuk agama Allah bermacam-macam, luas, dan tidak ada habisnya. Oleh karena itu, sudah menjadi kehendak Allah apabila seorang da’i harus mendapat cobaan yang berat. Orang-orang yang beriman tidak akan dapat mencapai tujuannya kecuali dengan melewati ujian.

Fungsi dari ujian atau ibtila’ yaitu untuk membangun dan mengokohkan kaum muslimim. Di sisi lain berfungsi untuk membersihkan, hingga yang tersisa tinggal unsur-unsur yang baik dan kuat. Orang yang tidak tabah tidak akan sanggup tegar menghadapi ujian.

Ibtila’ dapat menguak keteguhan orang-orang yang benar dan kesungguhan dan keimanan mereka. (Hal. 85 – 86)

Kaidah 9. Medan Dakwah itu Luas

Seorang da’i hendaklah memulai dakwahnya dari lingkungan terdekat, dan mulai dari anak-anak atau pemuda sebelum kepada orang tua. Demikian itu jika pada orang terdekat tidak perlu banyak mukaddimah karena sudah saling mengenal, dan kepada anak-anak, karena mereka belum terasuki oleh pemikiran dan perilaku tertentu. Jadi bisa lebih mudah berinteraksinya. (Hal. 93 – 95)

Selanjutnya seorang da’i bisa memulai dakwahnya dari orang-orang yang rendah hati dan orang-orang terpelajar. Lalu juga bisa dari orang-orang yang belum menganut aliran tertentu dan bahkan bisa mulai dari saudara seprofesi.

Berdakwah di pusat-pusat kekuatan masyarakat mempunyai andil besar dalam mempercepat proses perubahan. Kita juga dapat mengambil pelajaran untuk tetap menjaga tahapan-tahapan dalam dakwah. (Hal. 97 – 102)

Berdakwah di pusat-pusat kekuatan masyarakat mempunyai andil besar dalam mempercepat proses perubahan

Kaidah 10. Waktu Merupakan Salah Satu Unsur Penting Bagi Dakwah

Pertama kali yang harus dipahami ketika berdakwah, bahwa realitas kehidupan yang dihadapi adalah realitas yang tidak islami. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya karena pengaruh paham materialis ateis yang rusak.

Ini artinya, ketika berdakwah, seorang da’i berhadapan dengan mad’u yang sudah terjerumus dalam aliran pemikiran dan perilaku rusak yang menjadi dinding penghalang bagi tersampaikannya dakwah tersebut.

Oleh karena itu, metode yang baik dalam berdakwah adalah jangan terburu-buru meminta mad’u untuk segera memberi keputusan atas dakwah yang kita sampaikan. Hendaklah meminta mad’u untuk mengambil waktu sebelum menentukan sikap.

Sampaikan kepadanya mengenai dampak penerimaan dakwah, di samping hal-hal positif yang menggembirakan dan harapan-harapan yang akan menjadi kenyataan.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Baca Online Ebook Api Sejarah 2

catatanmasarief.com - API SEJARAH Jilid Kesatu dan Kedua, mengangkat sejarah juang jihad Ulama dan Santri sejak abad ke 7 M hingga masa presiden RI ke 7.

Baca Ebook Orangtua Cermat Anak Sehat

catatanmasarief.com - Orangtua punya tanggung jawab untuk mempelajari dasar - dasar kesehatan anak jika ingin menjadi dokter pertama dan terbaik bagi anaknya. Siap menjadi dokter pertama dan terbaik bagi anak Anda? Gali ilmunya dalam buku ini dan selamat membaca.

Baca Ebook Dalam Dekapan Ukhuwah

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara - menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta.

Kopdar Bareng Kang Emil, Ini Inovasi Untuk Karawang

catatanmasarief.com - Menjawab persoalan pengangguran di Karawang kang Emil akan melakukan inovasi baru dalam agenda kopdar.

Implementasi Karakter Muslim Negarawan

Muslim Negarawan merupakan profil ideal yang terinterpretasi dari sosok ‘Pemimpin Masa Depan yang Tangguh’ sebagaimana termaktub dalam Visi KAMMI.

10 Cara Edukatif Selama Libur Pencegahan Covid-19

Selama 14 hari liburan sekolah masa pencegahan Covid-19 dapat diisi dengan berbagai kegiatan edukatif agar anak tetap produktif dan menjaga prestasi akademiknya.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!