Dengan Al Qur’an Hati Bersinar

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Al Qur’an merupakan mukjizat mulia yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Al Qur’an menjadi cahaya petunjuk yang mengangkat derajat umat dari kejahiliyahan kepada cahaya yang membimbing umatnya meniti jalan yang lurus dalam menggapai ridho Allah Ta’ala.

Dalam surat Asy Syura/42 ayat 52, Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya Jilid 7/269 menjelaskan bahwa Firman Allah Ta’ala “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami.” (Asy-Syura: 52). Yang dimaksud ialah wahyu Al-Qur’an.

“Sebelumnya tidaklah kamu mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula megetahui apakah iman itu.” (Asy-Syura: 52). Yakni secara rinci, sebagaimana yang telah disyaratkan (diperintahkan) untukmu di dalam Al-Qur’an.

“tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami “(Asy-Syura: 52)

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. (Fushshilat: 44), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Ta’ala “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy-Syura: 52). Yaitu jalan yang hak lagi lurus.

Cahaya petunjuk yang terkandung dalam Al Qur’an akan dapat masuk ke dalam hati apabila senantiasa mempelajari dan mentadabburi Al Qur’an sehingga akan membuat hati bersinar lalu hidup akan penuh keridhoan Allah Ta’ala.

“Cahaya petunjuk yang terkandung dalam Al Qur’an akan dapat masuk ke dalam hati apabila senantiasa mempelajari dan mentadabburi Al Qur’an”

Tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an akan melahirkan ilmu yang banyak dan bermanfaat. Dengannya akan dibedakan antara kebenaran dengan kebatilan, iman dengan kekafiran, manfaat dengan madharat, kebahagiaan semu dengan kebahagiaan hakiki, calon penghuni surga dengan penghuni neraka, dan sebagainya.

- Advertisement -

Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentadabburi ayat-ayat-Nya. Dia Azza wa Jalla berfirman dalam surat Shad/38 ayat 29,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapat pelajaran.”

Kemudian bagaimana Al Qur’an memberikan pengaruh kepada diri dalam proses tadabbur dalam meraih cahaya petunjuk Allah Ta’ala?

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Qaaf/50 ayat 37,

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan.” (Qaf: 37). Maksudnya ialah, pelajaran.

Firman Allah Ta’ala, “bagi orang-orang yang mempunyai hati.” (Qaf: 37). Yaitu hati yang hidup dan menyadarinya. Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah akal.

Kemudian firman Allah Ta’ala, “atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikan.” (Qaf: 37). Yakni mendengar kalam dan menghafalnya, memikirkannya serta memahaminya dengan hatinya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Ta’ala, “atau yang menggunakan pendengarannya.” (Qaf: 37) Artinya, tidak berbicara kepada dirinya sendiri dalam hatinya saat mendengarkannya.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa orang-orang Arab mengatakan terhadap orang yang menggunakan pendengarannya, bahwa dia mendengarkan dengan kedua telinganya dan hatinya hadir, tidak alpa dari apa yang di dengarkannya itu.

Dari penjelasan makna ayat tersebut dapat dipahami bahwa, efektifitas pengaruh itu tergantung pada faktor yang memberi pengaruh, obyek yang dipengaruhi dan syarat terjadinya pengaruh. Dalam hal ini sesuatu yang mempengaruhi (Al Qur’an), obyek yang dipengaruhi (hati yang hidup), ada syarat (memperhatikan).

Tanda adanya pengaruh dalam mentadabburi Al Qur’an adalah bertambahnya keimanan dalam diri.

Salah seorang sahabat nabi yang merupakan salah satu murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jundub bin ‘Abdillah mengatakan, “kami bersama nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam, saat kami pemuda, kami belajar iman sebelum Al Qur’an. Lalu kami belajar Al Qur’an, sehingga iman kami bertambah.

(Sunan Ibnu Majah, 1/74, no.64, dan Imam Tarikh al-Kabir, 2/221, Sunanul Kubro , 2/49, no. 5498, Mu’jam al-Kabir, 2/225 no. 1656, dan dishahihkan oleh Syekh al-Bani dalam Shahih Sunan Ibn Majah, 1/16, no.52).

Al Qur’an merupakan sumber inspirasi dan energi kehidupan, semakin besarnya pengaruh Al Qur’an dalam hati dan diri maka akan semakin meningkat keimanan kita dan petunjuk Allah akan senantiasa membimbing kehidupan kita, karena kehidupan yang hakiki dapat diraih dengan petunjuk Al Qur’an.

Oleh karena itu hidupkanlah hati kita agar dapat menikmati lezatnya Al Qur’an dengan mengikuti manhaj dan metode yang diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sehingga hati kita akan bersinar dengan cahaya petunjuk Al Qur’an.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Ijtihad Membangun Basis Gerakan

catatanmasarief.com - Buku ini merupakan kumpulan gagasan dari Amin Sudarsono, sebuah upaya untuk membangun fondasi pokok dari gerakan KAMMI.

Rindu Yang Mendalam Kepada Rasulullah SAW

catatanmasarief.com - Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia yang ditanamkan dalam hati adalah rasa rindu kepada seseorang.

Inilah Tiga Langkah Menjadi Penghafal Al Qur’an

catatanmasarief.com - Mengetahui keutamaan dan mendambakan ingin menjadi penghafal Al Qur’an saja tidak cukup, perlu upaya keras dan sungguh-sungguh untuk dapat menjadi penghafal Al Qur'an.

Waspada! Prostitusi Berkedok Spa di Karawang

catatanmasarief.com - Namun kemudian saya ditawari untuk pelayanan “plus – plus”, karena sudah janda, ya akhirnya bersedia, sudah terlanjur jadi sekalian deh. Lumayan untuk nambah penghidupan anak.

Membangun Personal Branding Dalam Berdakwah

catatanmasarief.com - Personal branding diperlukan pertama kali ketika ingin membangun kepercayaan Publik dalam berdakwah

Ikhtisar Buku Kenapa Umat Islam Tertinggal

catatanmasarief.com - Buku ini ditulis berawal dari sebuah pertanyaan besar "Mengapa Umat Islam Tertinggal?"

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

  1. Judulnya sama kayak tema Haflah Khatmil Qur’an SIT Harapan Umat Karawang.. 🙂

    Al Qur’an memang harus selalu kita pelajari dan tadabburi agar hati kita bersinar dengan cahaya petunjuk Allah Ta’ala…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: