Ikhtisar Buku Kenapa Umat Islam Tertinggal

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Buku ini ditulis berawal dari sebuah pertanyaan besar seorang ulama asal Sambas, Kalimantan, bernama Syaikh Muhammad Basyuni Imran yaitu “Mengapa Umat Islam Tertinggal” dalam suratnya pada tahun 1929 kepada ulama Mesir terkemuka, Syaikh Rasyid Ridha.

Kemudian Syaikh Rasyid Ridha pun meminta kepada Sahibul Bayan yakni Syaikh Syakib Arslan untuk menulis risalah menjawab pertanyaan ini. Risalah itu dimuat di majalah Al Manar, majalah yang diterbitkan oleh Syaikh Rasyid Ridha dari tahun 1315 hingga 1354.

Selanjutnya, risalah karya Syaikh Arslan ini diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1940 dan disebarkan ke seluruh dunia termasuk Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan tahun 1954 dan lalu diterjemahkan dan diterbitkan ulang pada tahun 2013 oleh Pustaka Al Kautsar.

Dalam buku ini, dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, Syaikh Arslan menganalisis beberapa penyebab kemunduran umat Islam. Analisisnya masih sangat relevan dengan kondisi umat muslim saat ini. Yang menarik adalah, beliau tidak menyalah-nyalahkan pihak non-Muslim, melainkan mengajak umat Islam untuk introspeksi diri, dengan menggunakan argumen logis serta dalil Al Quran dan hadis.

Menurut Syaikh Arslan, ada 6 faktor penyebab ketertinggalan umat Islam :

1. Kebodohan.

2. Pengetahuan yang tanggung.

Menurut Syaikh Arslan, ini jauh lebih berbahaya daripada bodoh sama sekali. Orang bodoh saat dibimbing orang berilmu, maka akan patuh tanpa banyak alasan. Sedangkan orang yang berpengetahuan tanggung tidak menyadari dan enggan mengakui bahwa dirinya tak banyak tahu. (Hal. 65-66)

3. Kerusakan akhlak.

4. Dekadensi moral para pemimpin dan ulama.

Di bagian ini, Syaikh Arslan dengan blak-blakan mengkritik para pemimpin yang berbuat sewenang-wenang dan para ulama yang menjadikan ilmu sebagai ladang penghidupan, menjilat pemimpin yang fasik, dan membiarkan para pemimpin melakukan pelanggaran agama.

Masyarakat pun tertipu oleh serban dan pangkat tinggi mereka dan mengira fatwa-fatwa mereka sesuai syariat.

Akibat semua ini, lenyaplah kemaslahatan umat, Islam terpuruk, musuh-musuh Islam merajalela dan semua itu adalah dosa yang harus ditanggung para ulama tersebut. (Hal. 67-68)

- Advertisement -

5. Sifat pengecut dan penakut serta rasa putus asa yang menjangkiti umat Islam.

Sebagian besar umat Islam merasa minder terhadap bangsa Barat dan menganggap tak ada peluang bagi muslim untuk mengungguli mereka. Akibatnya, bangsa Barat semakin merajalela menguasai kaum muslimin.

Syaikh Arslan kemudian mengambil contoh kemajuan Jepang untuk membantah pernyataan orang-orang bodoh dan pengecut yang mengatakan bahwa segala kejayaan umat Islam dahulu karena kondisi sebelum bangsa Barat menemukan aneka peralatan tempur modern.

Maka jawabannya ilmu pengetahuan modern tergantung pada pemikiran dan tekad.

“Tidakkah Anda melihat bahwa Jepang hingga tahun 1868 masih sama dengan bangsa-bangsa Timur ‘kuno’ lainnya? Akan tetapi ketika mereka bertekad untuk mengejar bangsa-bangsa yang maju, mulailah mereka mempelajari ilmu-ilmu Eropa.

Mereka membangun industri seperti industri Eropa. Itulah yang mereka lakukan selama 50 tahun secara konsisten.

Nah setiap umat Islam yang hendak bangkit dan menyusul bangsa-bangsa yang maju pun bisa melakukan hal itu sambil tetap berpegang teguh kepada agama. Seperti halnya bangsa Jepang, mereka mempelajari segala ilmu Eropa tanpa terkecuali namun tetap memegang teguh agama yang mereka yakini.”

“Syaikh Arslan menyesalkan umat Islam yang enggan berkorban untuk mencapai kemajuan”

Beliau menulis,

“Hanya saja, untuk memiliki senjata harus rela mengeluarkan biaya. Nah kaum muslimin tidak mau keluar uang. Mereka malah ingin menang tanpa senjata dan amunisi atau ingin senjata dan amunisi tanpa modal sedikitpun dan ketika mereka kalah, mereka berteriak, “Mana janji Allah dalam Al Quran?” (Hal. 72, 73, 74).

Di halaman 81 Syaikh Arslan menulis, “Biang kerok kelemahan umat Islam masa kini adalah sifat pengecut dan kedekut (kikir sekali). Ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW, “Itu lantaran kalian mencintai dunia dan membenci kematian.”

6. Hilangnya kepercayaan diri.

Syaikh Arslan menulis, “Bagaimana umat Islam bersaing dengan Eropa di kancah pertempuran sementara belum apa-apa mereka sudah berkeyakinan bahwa pastilah Eropa yang akan menang?” (Hal. 85)

Kemudian Syaikh Arslan mengatakan “Siapa saja yang berjalan di jalan yang tepat pastilah ia sampai ke tujuan. Jika umat Islam mempelajari ilmu-ilmu modern, niscaya mereka bisa melakukan aktivitas-aktiviats pembangunan yang dilakukan bangsa Barat. Lagipula tidak ada perbedaan dalam kompetensi manusia.” (Hal. 89)

Selain 6 faktor tersebut di atas, tambahan faktor pada bagian III yaitu kejumudan (kebekuan) pada masa lalu.

Selain dirusak oleh kelompok ingkar (jahid), Islam juga dirusak oleh kelompok jumud (jamid) yang tidak menghendaki perubahan sama sekali dan penyesuaian sekecil apapun dalam ajaran Islam.

Mereka beranggapan bahwa meniru orang kafir adalah sama dengan kafir dan bahwa sistem pengajaran modern adalah perbuatan orang-orang kafir.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Inilah Tiga Langkah Menjadi Penghafal Al Qur’an

catatanmasarief.com - Mengetahui keutamaan dan mendambakan ingin menjadi penghafal Al Qur’an saja tidak cukup, perlu upaya keras dan sungguh-sungguh untuk dapat menjadi penghafal Al Qur'an.

Jalani Masa PSBB Dengan Sikap Qana’ah

Pada catatan kali ini akan membahas tentang qana’ah, lebih tepatnya menjalani masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pandemi Covid-19 dengan sikap qana’ah.

Waspada! Prostitusi Berkedok Spa di Karawang

catatanmasarief.com - Namun kemudian saya ditawari untuk pelayanan “plus – plus”, karena sudah janda, ya akhirnya bersedia, sudah terlanjur jadi sekalian deh. Lumayan untuk nambah penghidupan anak.

Mengatasi Masalah Psikologis Siswa Angkatan Covid-19

Guru bukan hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai konselor yang membantu siswa dalam menyelesaikan masalah psikologis yang dihadapinya.

Membentuk Karakter Cara Islam

catatanmasarief.com - Menanggapi persoalan krisis moral yang terjadi, pada tulisan kali ini merupakan ikhtisar dari sebuah buku karya Anis Matta. Anis Matta dalam buku ini memaparkan banyak hal berkaitan dengan karakter manusia.

Cegah Sengketa Waris Dengan Mempelajari Ilmunya

catatanmasarief.com - Persoalan warisan masih menjadi hal yang tabu dan sensitif bagi sebagian orang yang berakibat pada salahnya pembagian.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

  1. Umat Islam harus bangkit.. Jangan mau di jajah terus.. Kita jadikan referensi syaikh Arslan sebagai motivasi kita..

    • Iya kang, kebodohan itu karena tidak mau belajar. Pengetahuan yang tanggung itu belum tuntas belajarnya tapi sudah berani bersuara atau malah menyalahkan ustadz² yg menurutnya keliru, akibatnya membingungkan umat.

  2. Saya setuju dengan semua poin diatas. Untuk poin 4 sendiri saya merasa bimbang dan sedih melihat banyaknya ulama yang seharusnya menjadi panutan malah banyak diantara mereka yang tidak mencontohkan hal baik sehingga malah membuat kesan agama islam dipandang buruk oleh masyatakat mungkin termasuk saya sendiri. Padahal saya pengen orang2 tau kalo islam itu bukan agamanya yang seperti itu.

    • Iya kang setuju. Dalam belajar agama di zaman sekarang ini kita mesti selektif dalam memilih guru. Selektif bukan berarti membenarkan satu pihak atau guru lalu menjelekkan yang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: