Advertisement

Ikhtisar Buku Humas Gerakan

catatanmasarief.com – Buku Humas Gerakan merupakan dokumentasi dari kumpulan makalah, tulisan dan file-file presentasi Edo Segara terkait kehumasan yang bertujuan untuk menjawab tuduhan propaganda Barat yang buruk dalam mencitrakan Islam.

Dalam pendahuluannya Edo Segara menjelaskan urgensi kehumasan dalam gerakan bahwa humas berperan sebagai salah satu Front Liner penting dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Pada bagian pertama Edo Segara mengawali tulisannya dari hal yang mendasar yakni landasan kehumasan terdapat dalam Al Qur’an salah satunya surat Yasin ayat 13 – 21 yang maknanya berbicara tentang pentingnya Networking dalam berdakwah untuk menguatkan gerakan dalam menyampaikan kebenaran dakwah. (Hal. 07)

Kemudian secara definisi bahwa humas gerakan adalah memvisualisasikan Islam melalui komunikasi yang baik dari humas. Dari definisi tersebut maka dalam sebuah organisasi humas memiliki tujuan diantaranya, sosialisasi agenda gerakan, pencitraan, membentuk opini publik dan terciptanya jaringan. (Hal. 18, 21, 22)

Dalam halaman 27 dijelaskan bahwa manajemen humas mencakup, manajemen seluruh kegiatan kehumasan yang dilakukan organisasi dan manajemen terhadap satuan kegiatan kehumasan sendiri berupa pengelolaan event, pengeloaan penerbitan internal, konferensi pers dan lain-lain.

Pada bagian kedua Edo Segara membahas tentang membangun opini gerakan yang dijelaskan melalui dua hal penting yakni propaganda dan opini publik. Mengutip Harold D. Laswell dalam tulisannya Edo Segara menjelaskan definisi propaganda adalah teknik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan memanipulasi representasinya. (Hal. 30)

Adapun beberapa teknik propaganda yang berkaitan erat dengan objek sasaran yang dituju diantaranya, Name Calling dan Glittering Generalies (memberikan gelar buruk kepada pihak lain dan membuat gelar baik kepada kelompoknya),

Transfer (menghubungkan dirinya dengan citra positif orang/kelompok lain), transfer disini maksudnya teknik propaganda dengan menggunakan pengaruh tokoh atau kelompok agar komunikan terpengaruh secara psikologis terhadap apa yang sedang dipropagandakan.

Lalu teknik Testimonials, Plain Folks (Jargon), Card Stacking (kepalsuan fakta), Bandwagon Technique (menggemborkan kesuksesan), Reputable Mouthpiece (mengemukakan yang tidak sesuai) dan terakhir Rayuan/himbauan/ iming-iming. (Hal. 36)

Kemudian berbicara definisi opini publik, Edo Segara mengutip Emory S. Bogardus dalam “The Making of Publik Opinion” yang mengatakan bahwa opini publik merupakan hasil pengintegrasian pendapat berdasar diskusi yang dilakukan di dalam masyarakat demokratis. (Hal. 37)

“Opini publik merupakan hasil pengintegrasian pendapat berdasar diskusi yang dilakukan di dalam masyarakat demokratis”

Selanjutnya opini publik terbentuk karena adanya aktivitas komunikasi yang bertujuan mempengaruhi orang lain atau pihak lain. Dalam pembentukan opini publik ini humas berperan dengan memberikan kepada publik lebih banyak keterangan terkait hal-hal yang kontroversial dan menimbulkan perhatian yang lebih besar pada kelompok yang menghadapi hal-hal yang bersifat kontroversial. (Hal. 43, 44)

Pada halaman 49 Edo Segara menjelaskan bahwa manajemen isu merupakan keahlian yang tidak terpisahkan dari humas, karena meliputi public relation, lobbying atau government relation, futurism, trend tracking atau media monitoring, perencanaan strategi atau finansial dan hukum.

Pada bagian ketiga membahas tentang strategi pencitraan gerakan. Secara garis besar citra merupakan tujuan pokok sebuah humas gerakan. Hasil yang diharapkan dalam perencanaan pencitraan meliputi, citra positif, kepercayaan, realitas, manfaat dan keterikatan. (Hal. 65)

Dalam dunia aktivitas kehumasan, terdapat beberapa jenis citra (image) yang dikenal yakni, Citra Cermin (mirror image), Citra Kini (current image), Citra Keinginan (wish image), Citra Organisasi (organization image), Citra Penampilan (performance image) dan terakhir Citra Serba Aneka (multiple image).

Citra Serba Aneka (multiple image) maksudnya ialah bagaimana humas menampilkan (awareness) terhadap identitas, atribut, logo, sekretariat dan penampilan para kader organisasi yang kemudian diidentikan ke dalam suatu citra serba aneka yang diintegrasikan terhadap citra organisasi. (Hal. 67)

Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Definisi jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari. Pelakunya adalah wartawan (journalist) dan penulis (writer).

Karakteristik bahasa jurnalistik pada umumnya antara lain, jelas, sederhana, hemat kata, hindari mubazir kata (kata yang bisa dihilangkan) dan kata jenuh (ungkapan klise), singkat, dinamis, membatasi penggunaan akronim, mengikuti kaidah bahasa dan penulisan, satu gagasan satu kalimat dan mendisiplinkan pikiran (tidak mencampurkan kalimat aktif dengan pasif). (Hal. 70)

Pada bagian keempat membahas tentang komunikasi dan jejaring bagi gerakan. Pada bagian ini Edo Segara memaparkan terkait membangun aliansi gerakan. Dilihat dari kedekatan visi dan fungsi dibedakan menjadi dua macam yakni, pertama aliansi strategis yang bertugas sebagai penggerak utama sekaligus penentu arah dan pengendali kebijakan.

Lalu kedua aliansi taktis yang bertugas sebagai supporting unit yang membantu penyediaan sarana, logistik, data dan kader yang dibutuhkan aliansi strategis. Secara keseluruhan aliansi ini memiliki tiga tugas utama antara lain, pertama menganalisis isu-isu strategis, merumuskan grand design dan melakukan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan publik tingkat makro. (Hal. 86, 87)

“Secara keseluruhan aliansi memiliki tiga tugas utama antara lain, pertama menganalisis isu-isu strategis, merumuskan grand design dan melakukan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan publik tingkat makro”

Selanjutnya membangun jaringan gerakan, Edo Segara menulis kiat praktis membangun jaringan sebagai berikut :

1. Kenali kawan dan lawan dengan baik

2. Data semua pihak kawan atau lawan

3. Pahami kaidah “tidak ada kawan sejati, tidak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan”

4. Hadiri pertemuan yang melibatkan banyak elemen

5. Pahami cara berfikir setiap elemen

6. Bangun aliansi taktis lalu aliansi strategis

7. Berprinsip kepercayaan

8. Waspada terhadap perubahan peta aliansi

9. Toleransi

10. Sabar dan ulet (Hal. 88, 89)

Pada halaman 93 dan 94 Edo Segara juga menulis tentang kiat praktis dalam negosiasi antara lain, memahami tujuan atau kepentingan yang ingin dicapai, memahami kepentingan pihak lain, menentukan batas kompromi, mengawali negosiasi dengan informal, cair dan elegan dan terakhir menaikkan terus tawar menawar dengan sesuatu yang diandalkan. Adapun hal yang harus dipersiapkan yaitu peta persoalan dan intensif serta kepemimpinan.

Lima hukum komunikasi yang efektif yaitu respect, empathy, audible maksudnya dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik, lalu clarity maksudnya pesan yang disampaikan jelas atau tidak menimbulkan multi interpretasi dan terakhir humble. (Hal. 100 – 106)

Pada bagian kelima atau bagian akhir buku Humas Gerakan ini membahas seputar panduan humas gerakan KAMMI yang lebih jelasnya terdapat pada manhaj kehumasan KAMMI.

Apa yang kamu rasakan?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Advertisement

Must Read

Advertisement

Related Articles

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: