Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Buku Perangkat – Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin merupakan himpunan studi terhadap tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang dilakukan oleh Syeikh Ali Abdul Halim Mahmud, seorang ulama Mesir.

Buku ini bersumber dari berbagai dokumen Jama’ah, ditambah dengan berbagai informasi yang dinukil dari tulisan para pemerhati gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Pembahasan dalam buku ini dibatasi hanya menyangkut perangkat – perangkat dan analisisnya dengan pengenalan atas sejarah, tujuan, syarat, rukun, etika, agenda acara dan karakter pelaksananya di setiap perangkat tersebut.

Sehingga Buku ini terbagi kedalam dua Bab. Bab pertama, mengenai tujuan – tujuan tarbiyah dalam Ikhwanul Muslimin dan Bab kedua, mengenai sarana – sarana tarbiyahnya.

Sekilas mengenai tarbiyah Ikhwanul Muslimin, dalam mukaddimahnya, Syaikh Ali menyampaikan bahwa gerakan Ikhwanul Muslimin dimulai pada bulan Dzulhijjah 1346 H/1928 M di kota Ismailia lalu berpindah ke Kairo, Mesir pada 1350 H/1932 M.

Berdasarkan pengalaman Syaikh Ali, fase gerakan ini pada sepuluh tahun pertama adalah masa ta’sis (pemancangan pondasi) lalu sepuluh tahun kedua adalah masa penyebaran dakwah di Mesir, Arab dan seluruh dunia.

Keharusan tarbiyah dalam Ikhwan telah dimulai sejak diletakkannya Undang – undang Pokok Jama’ah tahun 1349 H/1931 M. Pada saat awal sejarah Jama’ah Imam Syahid Hasan Al Banna menyerukan tiga tahapan aktivitas Jama’ah yakni, Ta’rif (Pengenalan), Takwin (Pembinaan) dan Tanfidz (Penegakan). Setiap tahapan tersebut akan tegak hanya dengan tarbiyah.

Pada bab pertama Syaikh Ali menerangkan tentang tujuan tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang terdiri dari beberapa poin antara lain, definisi tarbiyah, tujuan tarbiyah Islamiyah dan tarbiyah Ikhwaniyah dan tujuannya.

Definisi tarbiyah yang dinukil dari berbagai dokumen, surat dan para tokohnya, adalah cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.

Tarbiyah Islamiyah sendiri, secara garis besar, memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, sebagai sarana ibadah kepada Allah sesuai dengan syariat-Nya.

Dalam tahap ini, Ibadah yang menuntut terwujudnya banyak unsur dari seorang muslim, antara lain, unsur iman, unsur Islam, unsur ihsan, unsur keadilan, unsur amar ma’ruf nahi munkar dan unsur jihad di jalan Allah untuk menjadikan kalimat Allah yang tertinggi.

Kedua, tegaknya khilafah Allah di muka bumi. Tahap ini pengangkatan manusia sebagai khalifah menuntut aktivitas pemakmuran bumi dan pemanfaatan segala sesuatu yang Allah Ta’ala berikan untuk umat manusia (QS. Hud. 61).

Ketiga, saling mengenal sesama manusia. Pada tahap ini menyiapkan manusia untuk dapat hidup penuh kasih sayang dengan saudaranya setelah dihimpun oleh akidah yang benar dan ajaran Allah Ta’ala (QS. Al Hujurat : 13).

- Advertisement -

Keempat, kepemimpinan dunia. Inilah janji Allah pada tahap ini. Allah menjanjikan tiga hal kepada orang – orang beriman, antara lain, mengangkat kekhalifahan, pengokohan kedudukan di bumi dengan Islam sebagai sistemnya dan pergantian kondisi dari rasa takut kepada rasa aman (QS. An Nur : 55).

Kelima, menghukum dengan syariat. Setelah Islam mencapai puncak kepemimpinan dunia, selanjutnya adalah menegakkan hukum syariat di segala lini. Inilah tujuan utama tarbiyah Islamiyah yaitu tegaknya syariat Allah Ta’ala (QS. Al Jatsiyah : 18). (Hal. 11 – 15)

Kemudian tarbiyah Ikhwaniyah (tarbiyah ala Ikhwan) memiliki dua tujuan yakni tujuan permanen dan tujuan kontekstual.

Secara global tujuan permanen memiliki dua tujuan pokok, pertama, mewujudkan tujuan – tujuan tarbiyah Islamiyah yang baku dengan mengantarkannya dari tataran konsep ke dunia realitas. Kedua, membantu orang melalui perangkat yang dipakai untuk merealisasikan tujuan – tujuan tarbiyah Islamiyah.

Tujuan kontekstual tarbiyah Ikhwaniyah intinya adalah bagaimana upaya menghadapi perubahan arus nilai (pemikiran & peradaban, sistem nilai sosial & politik, ekonomi, sarana kehidupan dan cara pandang terhadap alam, kehidupan dan benda hidup) secara ilmiah dan tepat berlandaskan ajaran Islam, sekaligus bagaimana merumuskan cara terbaik untuk itu. (Hal 16, 26)

Selanjutnya pada bab kedua Syaikh Ali menerangkan tentang perangkat tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang terdiri dari fikrah, manhaj Jama’ah dan perangkat – perangkat khusus.

Inilah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna tentang fikrah Jama’ah. Pertama, Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa hukum dan ajaran Islam itu komprehensif, mengatur seluruh urusan manusia di dunia dan akhirat (QS. Al Qashash : 77).

Kedua, Ikhwanul Muslimin menyakini bahwa asas dan mata air ajaran Islam adalah Kitab Allah dan Sunnah RasulNya yang jika berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat selamanya.

Ketiga, Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa Islam sebagai agama yang universal. Islam adalah sistem kehidupan yang mengatur semua aspek kehidupan umat dan bangsa disetiap masa. (Hal. 93 – 94)

“Manhaj integral yang diserukan Jama’ah ini adalah manhaj yang bersumberkan dari Al Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi yang suci”

Manhaj integral yang diserukan Jama’ah ini adalah manhaj yang bersumberkan dari Al Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi yang suci.

Sehingga sikap Ikhwanul Muslimin terhadap kekuatan bahwa mereka harus kuat dan bekerja dengan semangat besar pula. Terhadap revolusi mereka tidak memikirkan, mengandalkan, apalagi meyakini hasil dan manfaatnya.

Terhadap pemerintahan Ikhwanul Muslimin tidak menuntut tegaknya pemerintahan untuk kepentingan diri sendiri. Apabila Ikhwan mendapatkan amanah ini, maka siap memikulnya, tetapi jika tidak hal ini tetap menjadi agenda manhaj ikhwan.

Terhadap khilafah Ikhwanul Muslimin meyakini sebagai lambang persatuan umat, bentuk formal dari jalinan antar umat Islam dan syiar Islam yang harus dipikirkan dan diperhatikan perwujudannya oleh kaum muslimin. (Hal. 101 – 106)

Dalam mentarbiyah para anggotanya, Jama’ah mempergunakan beragam perangkat yang meliputi, usrah, katibah, rihlah, mukhayyam, daurah, nadwah dan muktamar.

Pertama, Usrah yang merupakan perangkat pertama dalam membentuk kader muslimin yang militan. Ia merupakan batu pertama dalam struktur bangunan jamaah.

Dalam tahap ini, yang dilakukan adalah pembentukan kepribadian anggota untuk ditarbiyah secara integral, menyentuh seluruh sendi kepribadian, untuk selanjutnya memformat mereka dengan format Islam sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Usrah ini memiliki lima perangkat. Pertama, pertemuan pekanan. Kedua, tempat pertemuan yang nyaman dan jauh dari keramaian yang mengganggu konsentrasi pikiran dan hati. Ketiga, pertemuan di masjid. Keempat, pertemuan di rumah-rumah anggota usrah. Kelima, memperluas jaringan usrah dengan mempertemukan anggota-anggota keluarga peserta usrah. (Hal. 202 – 204)

Kedua, Katibah adalah proses menghimpun dan mengumpulkan beberapa usrah dengan beberapa yang lain sebagai pasukan jama’ah untuk mempersiapkan diri dengan program bermuatan perjuangan, ketahanan dan ketegaran.

Katiba juga proses mentarbiyah sekelompok anggota usrah dengan pola tarbiyah yang bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik beserta seluruh anggota badan untuk melaksanakan ibadah secara umum, juga untuk tahajud, dzikir, tadabbur dan berpikir secara khusus. (Hal. 239)

Selanjutnya adalah rihlah. Jika usrah dan katibah lebih berdimensi pikir, ruh, dan aneka kegiatan yang berkaitan untuk menyuburkan keduanya, maka rihlah lebih berdimensi kepada fisik.

Sehingga, rihlah merupakan pelengkap tarbiyah yang memiliki kedudukan sangat penting untuk menciptakan iklim sosial keikhwanan yang dipandu oleh nilai-nilai Islam dan kedisiplinan secara fisik sehari penuh. (Hal. 273)

Kemudian, perangkat tarbiyah yang tak kalah pentingnya adalah mukhayyam atau mu’asykar. Bisa dibilang, mukhayyam merupakan gabungan antara usrah, katibah dan rihlah.

Dalam mukhayyam ini ada tiga tujuan pokok yaitu pengumpulan, tarbiyah dan pelatihan. Pengumpulan bermakna berkumpulnya anggota dalam satu waktu, baik anggota tingkat awam, khusus, para pemimpin jamaah maupun tingkat pemimpin internasional.

Aspek tarbiyah dalam mukhayyam meliputi mencelup kehidupan pribadi dengan celupan Islam dan membersihkan diri dari noda selama 24 jam dalam beberapa hari atau beberapa pekan.

Adapun tujuan pada aspek ini yaitu, membiasakan para peserta hidup secara militer, pendidikan kesabaran, bekerjasama antar seluruh anggota, pengajaran sejarah harakah Islam, memperkenalkan anggota dengan pemimpin jamaah, dan pembahasan aneka persoalan penting yang sudah diagendakan.

Sedangkan pelatihan dalam mukhayyam meliputi latihan hidup secara militer, interaksi dengan pemimpin, memikul tanggungjawab, menggunakan kebutuhan baik secara keuangan, keahlian maupun pengetahuan, menggunakan waktu secara full time, melakukan penjagaan dan keamanan serta melatih para anggota untuk menjaga informasi, rahasia terkait jamaah kepada pihak luar. (Hal. 295 – 302)

Perangkat berikutnya yang tak kalah pentingnya dalam tarbiyah Ikhwanul muslimin adalah daurah, nadwah dan muktamar.

Daurah merupakan aktivitas mengumpulkan anggota dalam jumlah relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, penelitian, dan pelatihan tentang suatu masalah, dengan mengangkat tema tertentu yang dirasa penting bagi keberlangsungan amal islami.

Nadwah sendiri merupakan berkumpulnya sekumpulan orang di suatu tempat pertemuan untuk melakukan kajian dan musyawarah tentang suatu tema. Sedangkan muktamar merupakan forum besar untuk melakukan musyawarah membahas dan mengkaji suatu persoalan.

Dalam sejarah jamaah beberapa muktamar yang sudah dilakukan adalah Muktamar al-Manshurah, Muktamar Asyuth, Muktamar Palestina, Muktamar Parlemen-parlemen Internasional, dan lain sebagainya. (Hal. 317, 331, 344)

Terakhir dalam penutup buku ini, Syaikh Ali menyampaikan bahwa tarbiyah individu dengan perangkat – perangkat ini adalah metodologi paling ideal untuk membangun umat. Suatu metodologi yang tidak ada bandingannya diantara metodologi lainnya.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Indahnya ‘Taman Baliho’ Karawang

catatanmasarief.com - Kota Karawang merupakan kota yang sangat indah dengan tata ruang kota yang dibangun dengan desain yang menyajikan modernitas dan kenyamanan bagi warganya

Cegah Sengketa Waris Dengan Mempelajari Ilmunya

catatanmasarief.com - Persoalan warisan masih menjadi hal yang tabu dan sensitif bagi sebagian orang yang berakibat pada salahnya pembagian.

Menjaga Spirit 212 Dalam Kehidupan Sehari-hari

catatanmasarief.com - Tahun 2018 ini menjadi tahun kedua diselenggarakannya reuni 212. Suatu momen untuk menguatkan ukhuwah

Jadilah Tokoh Publik dengan Memenuhi Tiga Level Personal Branding

Menjadi tokoh publik yang kredibel, kita harus memiliki personal branding yang baik. Caranya adalah dengan memenuhi tiga level dalam personal branding.

Jalani Masa PSBB Dengan Sikap Qana’ah

Pada catatan kali ini akan membahas tentang qana’ah, lebih tepatnya menjalani masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pandemi Covid-19 dengan sikap qana’ah.

Lima Kesalahan Mahasiswa Selama Kuliah

catatanmasarief.com - Kini, mahasiswa seakan kehilangan jatidirinya. Mahasiswa seakan kehilangan arah dalam melangkah sehingga mereka hanya berani secara fisik semata namun tak berkutik ketika berdialektika. Inilah lima kesalahannya!

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!