Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Tulisan saya kali ini merupakan ikhtisar dari sebuah buku menarik karya Syaikh Dr. Fathi Yakan seorang ulama dan tokoh pergerakan Islam yang berjudul “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam”.

Buku tersebut merupakan karya beliau yang menyadarkan kita akan konsekuensi yang harus ditanggung ketika kita menyatakan diri sebagai seorang muslim.

Sistematika penulisan buku ini terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama diberi judul “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?” menjelaskan karakter-karakter yang harus dimiliki oleh seorang muslim agar benar-benar menjadi muslim sejati.

Pada bagian kedua dengan judul “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Gerakan Islam?” menjelaskan tentang kewajiban berjuang untuk menegakkan Islam dan bergabung dengan gerakan Islam (Harakah Islamiyah).

Menjadi muslim yang baik tidak cukup dengan hanya mengandalkan faktor keturunan, identitas atau penampilan luarnya saja.

Untuk menjadi muslim yang sejati, kita harus memilih, berkomitmen dan berinteraksi dengan Islam dalam segenap aspek kehidupan.

Dengan kata lain semaksimal mungkin kita menanamkan dan merealisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Agar komitmen tersebut dapat terwujud, pada bagian pertama Syaikh Fathi Yakan menulis tentang sifat dasar yang harus dimiliki yakni akidah yang benar dan lurus dengan mengislamkan Akidah.

Akidah yang benar dan lurus sesuai arahan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW merupakan syarat pertama menjadi muslim yang baik. (Hal. 07)

Dalam meluruskan akidah ada beberapa tuntutan yang harus dilaksanakan diantaranya mengimani Allah pencipta alam raya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Tinggi, Maha Berkehendak, Maha Adil.

Lalu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, cinta dan hanya takut kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa memohon ampun kepada-Nya, dan senantiasa berdzikir, tawakkal dan bersyukur kepada Allah Ta’ala serta selalu merasa diawasi Allah dalam setiap kondisi. (Hal. 08 – 17)

Sifat dasar selanjutnya adalah mengislamkan ibadah.

- Advertisement -

Dalam perspektif Islam Ibadah adalah kepasrahan yang total dan merasakan keagungan Dzat yang disembah (Allah). Ibadah juga menghubungkan makhluk dengan Penciptanya.

Disisi lain juga memberikan pengaruh dalam hubungan sesama makhluk. (Hal. 18)

Terdapat beberapa tuntutan yang harus dilaksanakan dalam mengislamkan ibadah diantaranya melakukan ibadah dengan penuh makna.

Lalu khusyu’, yaitu menghadirkan hati pada waktu-waktu yang telah ditentukan pada ibadah wajib dan sepertiga malam dalam ibadah sunnah tahajjud, merenungkan dan mempelajari Al Qur’an, dan menjadikan do’a sebagai tangga dalam setiap urusan. (Hal. 19 – 24)

Setelah mengislamkan akidah dan ibadah, selanjutnya mengislamkan akhlah (moral). Akhlak mulia adalah tujuan utama dari risalah Islam.

Disisi lain merupakan bukti dan buah dari keimanan yang benar, dan implementasi berbagai bentuk ibadah.

Tanpa akhlak ibadah hanya menjadi ritual dan gerakan yang tidak memiliki nilai dan manfaat. (Hal. 32, 34)

Beberapa sifat penting dalam berakhlak yang dapat dilakukan diantaranya menjauhi perkara-perkara syubhat, menjaga pandangan dan ucapan, memiliki rasa malu, lapang dada dan sabar, jujur, rendah hati, menjauhi prasangka buruk, ghibah dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain, murah hati dan dermawan.

Beberapa akhlak mulia tersebut untuk menjadikan kita teladan yang baik bagi orang lain. (Hal. 35 – 48)

Disaat keberadaan seseorang sebagai muslim mengharuskannya agar benar-benar menjadi muslim sejati dalam berakidah, beribadah dan berakhlak, ia juga dituntut bekerja keras agar masyarakat di sekitarnya menjadi masyarakat muslim.

Dengan kata lain tidak cukup menjadi muslim sejati sendirian tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya.

Berdasarkan prinsip di atas maka ada satu tanggung jawab baru yang harus diemban, yakni membangun masyarakat muslim dan menyampaikan Islam kepada masyarakat.

Karena itu kewajiban pertama yang harus dipikul oleh seorang muslim setelah kewajiban terhadap diri sendiri adalah bertanggung jawab atas keluarga, rumah dan anak-anaknya (QS. At Tahrim :06). (Hal. 49)

Tanggung jawab atas keluarga berawal dari tanggung jawab atas pernikahan.

Pernikahan yang didasari niat karena Allah Ta’ala itu diawali dengan selektif dalam menjatuhkan pilihan kepada wanita yang akan dinikahi.

Wanita yang dipilih adalah wanita yang memiliki akhlak baik, shalihah dan yang terpenting selalu berusaha agar tidak melanggar perintah Allah Ta’ala. (Hal 50 – 52)

Setelah memilih dan menikah dengan istri yang baik, ada tanggung jawab selanjutnya yang harus dilaksanakan.

Tanggung jawab tersebut, yaitu berbuat baik kepada istri, membina hubungan yang baik, dan tanggung jawab bersama antara suami dan istri dalam mendidik anak yang telah dikaruniakan Allah Ta’ala. (Hal. 53 – 56)

“Pribadi muslim sejati adalah pribadi yang mengimani Islam sebagai jalan hidup yang dapat mendorong pada tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik Islam”

Dalam kehidupan, manusia terlibat pertikaian abadi dengan nafsu dirinya sampai berhasil menguasainya atau dikuasai olehnya, atau tetap berada dalam pertikaian dan mengalami kekalahan atau kemenangan secara bergiliran sampai kematian datang menjemputnya.

Terdapat dua faktor yang dapat menunjang keberhasilan dalam melawan nafsu, yaitu hati apabila tetap hidup, lembut, jernih, teguh dan bercahaya dan akal yang dapat memandang dengan jernih, paham, dapat membedakan antara haq dengan bathil dan mempelajari ilmu-ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. (Hal. 59 – 61)

Pribadi muslim sejati adalah pribadi yang mengimani Islam sebagai jalan hidup. Keimanannya terhadap Islam dapat mendorong dirinya pada tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik Islam.

Islam berasal dari Allah dan satu satunya manhaj yang universal, syamiI (menyeluruh) dalam berbagai aspek dan fleksibel sehingga sesuai dengan segala kebutuhan dasar manusia dan dapat menyelaraskan antara tuntutan jiwa dan materi pada manusia. (Hal. 69, 70)

Disisi lain kita harus mengetahui dan meyakini bahwa sistem-sistem buatan manusia di seantero dunia memiliki kelemahan dan kegagalan karena sistem buatan manusia terbatas, lemah, temporer dan serba kekurangan.

Selanjutnya, pada bagian kedua Syaikh Fathi Yakan menulis tentang komitmen terhadap gerakan Islam.

Komitmen kepada Islam merupakan dasar sementara komitmen kepada gerakan Islam adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari komitmen tulus kepada agama ini.

Setelah mengetahui bahwa keberadaan kita sebagai muslim menuntut agar menjadikan Islam sebagai prinsip hidup.

Maka diri kita juga dituntut agar mengabdikan diri untuk Islam, mengarahkan hidup kita untuk Islam dan menggunakan segenap kemampuan serta potensi kita untuk memperkuat kedudukan Islam dan mengangkat pilarnya.

Agar hidup benar-benar terarah di jalan Islam dan umat Islam, maka harus mengetahui dan komitmen dengan beberapa hal, diantaranya, mengerti tujuan hidup (QS. Adz Dzariyat : 56), mengetahui nilai dunia tidak sebanding dengan nilai akhirat, mengetahui bahwa mati adalah sebuah kepastian dan mau mengambil nasihat darinya,

Selanjutnya mengetahui hakikat Islam dengan berusaha memahami, belajar dan mengerti segenap prinsipnya, dan mengetahui hakikat jahiliyah dengan memahami segenap pemikiran, aliran dan strateginya. (Hal. 80 – 84)

Ketika memutuskan untuk menjadi seorang muslim dan mengabdikan hidup untuk Islam, maka kehidupan kita harus dibingkai dengan karakteristik-karakteristik Islami.

Karakteristik tersebut antara lain memiliki komitmen konkret terhadap Islam, memberi perhatian terhadap kemaslahatan Islam, teguh memegang kebenaran dan percaya kepada Allah Ta’ala dan komitmen dengan perjuangan Islam. (Hal. 85 – 88)

Kemudian, komitmen terhadap Islam juga dituntut dengan kewajiban berjuang untuk Islam.

Berjuang untuk membangun kepribadian yang mengimplementasikan Islam dalam kehidupan, membangun masyarakat yang komitmen terhadap Islam dan membangun negara yang menerapkan Islam sebagai landasan hukum, sistem pemerintahan dan undang-undang serta mengusung dakwah Islam.

Dakwah yang memberi petunjuk untuk menegakkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh penghuni alam raya. (Hal. 89)

Berjuang untuk Islam ini kedudukannya sebagai kewajiban dengan beberapa alasan yaitu,

Pertama, wajib dari segi prinsip, karena merupakan alasan pembebanan taklif kepada seluruh manusia, mulai para Nabi dan Rasul atau mulai sejak manusia pertama hingga Allah menerima urusan bumi dan para penghuninya (Kiamat) (QS. Al Baqarah : 159). (Hal. 90)

Kedua, wajib dari segi hukum sebab terhentinya ajaran Allah sebagai referensi hukum di bumi dan dominasi undang-undang dan hukum buatan manusia atas seluruh negara dan bangsa mengharuskan umat Islam berjuang membangun masyarakat Islami dan memulai kehidupan Islami kembali, baik dalam keyakinan maupun hukum. (Hal. 91, 92)

Ketiga, wajib secara darurat agar kita dapat menghadapi setiap tantangan modern dan konspirasi musuh-musuh Islam, kemudian agar kita juga mampu menghentikan gelombang materialisme dan serangan atheisme yang setiap saat berusaha melumat dan menghapus eksistensi Islam (QS. Al Anfal : 39). (Hal. 93, 94)

Keempat, wajib dalam skala individu ditinjau dari kedudukannya sebagai kewajiban yang dibebankan oleh agama sehingga dianggap sebagai tanggung jawab individual, jika dari segi tanggung jawab operasional pergerakan dianggap sebagai tanggung jawab kolektif (QS. Al Maidah : 2). (Hal. 95 – 97)

Berkenaan dengan perjuangan Islam ini pada hakikatnya berjihad itu untuk kebaikan dirinya kita sendiri, karena sebenarnya kita yang membutuhkan Islam.

Syaikh Fathi Yakan juga menulis tentang tugas, karakteristik dan bekal dari gerakan Islam (Harakah Islamiyah)

Harakah Islamiyah atau gerakan Islam bertugas mengarahkan manusia agar menyembah Allah Ta’ala, baik individu maupun kelompok.

Disisi lain juga bertugas merangkul seluruh aktivis Islam diberbagai belahan dunia Islam. (Hal. 102)

Harakah Islamiyah atau gerakan Islam bertugas mengarahkan manusia agar menyembah Allah Ta’ala, baik individu maupun kelompok

Prinsip Harakah Islamiyah memiliki karakterisktik-karakteristik diantaranya,

Pertama, Rabbaniyah maksudnya segala persepsi, hukum, akhlak, adat, pemikiran harakah berasal dari agama Allah yang kekal dan risalah-Nya yang terakhir (Islam).

Kedua Independen, berasal dari kondisi nyata masyarakat muslim, bukan sistem yang diimpor dari sistem timur maupun barat.

Ketiga, modern maksudnya muatan harakah, baik akidah maupun syariat, serta persepsi terhadap alam, manusia dan hidup jauh lebih maju dan mampu menyelesaikan persoalan kemanusiaan dan kehidupan.

Keempat, komprehensif, dakwah memperbaiki seluruh aspek kehidupan.

Kelima, menghindari permasalahan-permasalahan khilafiah dalam bidang fiqh. (Hal. 107 – 110)

Kemudian karakteristik pergerakan harakah Islamiyah sendiri yaitu jauh dari kendali penguasa dan politisi, dan bertahap dan proporsional dalam menuntaskan setiap fasenya dalam membawa jama’ah kepada tujuan yang ingin dicapai.

Fase-fase tersebut meliputi ta’rif (pengenalan), takwin (pembinaan) dan tanfidz (pelaksanaan).

Asy Syahid Imam Hasan Al Banna menjelaskan bekal Harakah Islamiyah adalah bekal generasi salaf sebelum kita dan senjata yang digunakan oleh pemimpin dan teladan kita Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya ketika menyerbu dunia.

Bekal tersebut yaitu keimanan yang mendalam kepada pertolongan Allah, kepada manhaj, hak dan kesucian ukhuwah, percaya pada diri sendiri dan jihad fii sabilillah.

Selanjutnya ketika kita bergabung dengan Harakah Islamiyah harus didasari oleh kesadaran dan pemahaman, bukan sekedar sikap spontan dan kecenderungan emosional.

Hal tersebut untuk mengetahui apakah organisasi tersebut mengimplementasikan atau tidak mengimplementasikan prinsip-prinsip Islam yang orisinal.

Atau hanya cenderung pada aspek rohani (kejiwaan) dan mengabaikan aspek lainnya, seperti pemikiran, politik, jihad, persiapan, perencanaan dan lain-lain yang menjauhkan dari kancah kehidupan nyata, atau mengutamakan aspek intelektual dengan meniru pola organisasi yahudi dan nasrani. (Hal. 129 – 131)

Bergabung dengan Harakah Islamiyah harus memenuhi dimensi-dimensi yang membuktikan kedalaman akidah dan kekuatan ikatan pemikiran dan keorganisasian.

Dimensi-dimensi tersebut antara lain,

Pertama, dimensi ideologis (‘aqidy) maksudnya keterikatan dengan Harakah Islamiyah berarti keterikatan dengan agama atau keterikatan menjalankan perintah Allah dan mengharapkan ridha-Nya. (Hal. 132, 133)

Kedua, dimensi keanggotaan sepanjang masa (mashiry) artinya keberadaan anggota harus selaras dengan keberadaan jama’ah dalam kondisi apapun, dengan kata lain bersifat abadi dan tidak pernah lepas atau mundur dan melarikan diri darinya sampai yang bersangkutan menghadap Allah Ta’ala. (Hal. 135)

Dalam perjuangan Islam, ada tiga pilar yang mendukung keberhasilan perjuangan yang harus diketahui oleh segenap aktivis, yakni tujuan yang jelas mengarahkan manusia agar menyembah Allah Ta’ala dan menegakkan syariat-Nya.

Selanjutnya jalan yang jelas maksudnya manhaj Islam, dan komitmen terhadap keduanya. (Hal. 143 -146)

Pada bagian akhir Syaikh Fathi Yakan menyampaikan dengan menulis bahwa setiap muslim dapat ikut berperan bersama Harakah Islamiyah untuk menanggung beban perjuangan Islam dengan cara bergabung dengannya.

Dalam merekrut anggotanya, Harakah Islamiyah mengutamakan kualitas dari pada kuantitas, karena kualitas lebih penting. (Hal. 157)

Kemudian para anggota yang bergabung akan dibai’at. Bai’at menurut Islam adalah sunnah Nabi SAW dan hukumnya wajib dan melanggarnya dengan sengaja adalah maksiat.

Orang yang berbaiat akan berjanji setia dan patuh serta taat terhadap pimpinan (pemerintahan) selama tidak ada kekafiran yang jelas dan sesuai dengan bukti yang dibenarkan oleh ketetapan Allah SWT.

Sehingga hukum taat terhadap pemimpin wajib selama bukan dalam perkara maksiat atau mendorong kepadanya (QS. An Nisa : 59). (Hal. 159 – 161)

Secara keseluruhan bahwa kemenangan dalam perjuangan untuk mengarahkan segenap manusia untuk menyembah Allah dapat tercapai dengan ketaatan pada Allah dan pemimpin serta pengorbanan setiap para aktivis muslim dengan terlebih dahulu menjadikan diri sebagai pribadi muslim yang sejati.

Maka dari itu buku ini khusus ditujukan bagi para individu agar sadar dan semangat untuk terjun sebagai penggiat dan penggerak yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Kopdar Millenial, Inilah Gagasan Untuk Karawang

catatanmasarief.com - Ide dan gagasan yang akan saya sampaikan pada catatan kali ini mengenai solusi mengatasi persoalan sampah di Karawang. Sampah yang kian hari baunya makin menyengat tercium karena banyak bermunculan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) ilegal.

Baca Ebook Politik Islam (Siyasah Syar’iyah)

Buku Politik Islam ini penjelasan dari kitab as-Siyasah as-Syar'iyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Bisakah Karawang Bebas Banjir?

catatanmasarief.com - Cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini mengakibatkan banjir kembali melanda Kabupaten Karawang. Lalu bisakah Karawang bebas banjir?

Baca Ebook Teach Like Finland

Buku ini memuat rahasia tentang strategi dan anjuran - anjuran yang sangat mudah dipraktekkan dari sistem pendidikan kelas dunia.

Baca Online Ebook Self Driving

Saya tidak tahu apa yang ada di kepala Anda saat ini, tetapi saya tahu sesuatu yang mendasar tengah berubah di sebagian besar generasi muda bangsa ini.

Ghazwul Fikri, Perang Tak Berdarah Yang Mematikan

Kini permusuhan yang mereka lakukan terhadap Islam adalah dengan cara yang lebih halus namun mematikan, yaitu Ghazwul Fikri.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: