Bisakah Karawang Bebas Banjir?

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini mengakibatkan banjir kembali melanda Kabupaten Karawang. Genangan air di beberapa titik di Karawang akhirnya terulang kembali.

Menurut kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Asep Wahyu Suherman, yang dilansir dari idntimes.com bahwa semua daerah rawan banjir di Karawang, namun ada delapan kecamatan yang masuk kategori rawan banjir yang perlu diwaspadai.

Delapan kecamatan tersebut ialah Kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Rengasdengklok, Karawang Barat, Cikampek, Cilamaya, Pakisjaya dan Kecamatan Batujaya.

Selain delapan kecamatan yang rawan banjir itu, baru-baru ini di Kecamatan Tirtajaya sebagaimana dilansir dari kompas.com bahwa telah terjadi sebanyak 61 rumah dan 150 hektar sawah dan tambak terendam banjir.

Karena banjir yang kembali terulang setelah sekian lama, alhasil menimbulkan pertanyaan besar, bisakah Karawang bebas banjir?

Pertanyaan itu tertuju untuk kita semua, karena mengatasi banjir ini bukan hanya tugas dari BPBD atau Pemerintah Daerah namun itu menjadi tugas kita semua, apabila banjir ini teratasi, toh manfaatnya dapat kita rasakan bersama.

Banjir di sebuah kota atau kabupaten bukanlah hal yang asing. Di berbagai kota besar belahan dunia, khususnya kota yang berada di daerah pantai, bencana banjir menghantui setiap saat. Misalnya Kuala Lumpur (Malaysia), Rotterdam (Belanda), Tokyo (Jepang), dan lain-lain.

Penyebab terjadinya banjir di Karawang bukan hanya karena akibat intensitas curah hujan yang tinggi di beberapa wilayah dan meluapnya sungai citarum serta gelombak ombak yang tinggi di pesisir pantai.

Namun terjadinya banjir juga akibat belum seluruhnya masyarakat sadar dalam menerapkan pola hidup yang dapat mencegah datangnya banjir dan terjadi derasnya arus urbanisasi.

Arus urbanisasi menyebabkan tingginya permintaan kebutuhan lahan untuk penduduk baru yang berpindah ke Karawang sehingga area resapan air semakin berkurang. Resapan air yang berkurang dan bertambahnya gedung menyebabkan area tersebut sangat rentan dengan banjir.

Berdasarkan data server disdukcapil Kabupaten Karawang yang dilansir dari karawangkab.go.id bahwa arus urbanisasi mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun 2016 tercatat sekitar 30 ribu pendatang tinggal di Karawang. Tahun 2017 bertambah 1000 orang sehingga bertambah sekitar 31 ribu orang. Sedangkan di tahun 2018, sekitar 11.600 orang datang ke karawang dalam kurun waktu 5 bulan.

Dari data itu maka arus urbanisasi di Karawang meningkat tajam tak terkendali. Hal ini belum ditambah dengan pembangunan mall, apartemen dan hotel yang sangat mengurangi ketersediaan lahan resapan air.

- Advertisement -

Lalu upaya apa yang dapat dilakukan untuk setidaknya bertahap mewujudkan Karawang bebas dari ancaman banjir manakala hujan datang setiap tahun?

Ada dua upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir, apabila belum dapat dicegah, setidaknya meminimalisir dampak dari terjadinya banjir.

Dua upaya itu, pertama membangun masyarakat sadar banjir. Upaya ini merupakan penerapan budaya menjaga lingkungan bersih dan tidak membuang sampah sembarangan dalam rangka mencegah terjadinya banjir.

Walau budaya ini bukan hal yang baru, namun ternyata budaya ini belum menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Karawang. Masih didapati masyarakat yang membuang sampah sembarangan sehingga bermunculan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di beberapa titik, termasuk di sepanjang sisi irigasi yang kian hari sampahnya semakin menumpuk.

Untuk itu perlu untuk terus digalakkan dan mendisiplinkan diri setiap individu di masyarakat akan budaya menjaga lingkungan bersih dan tidak membuang sampah sembarangan serta menanamkan pemahaman terkait manfaat apabila kita membiasakan diri menerapkan budaya ini.

Disisi lain pemerintah juga harus menegaskan kembali penerapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3) yang dalam pasal 22 ayat 2 bahwa setiap orang, badan hukum dan/atau perkumpulan bertanggung jawab atas kebersihan.

“Pemerintah juga harus menegaskan kembali penerapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3)”

Peraturan itu untuk mendorong masyarakat untuk menjaga keberlanjutan, memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi serta manfaat dari lingkungan binaan dari hasil pembangunan kota.

Belajar dari jepang yang masyarakat dan pemerintahnya saling mendukung dan bekerjasama dalam membudayakan Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3) di kehidupannya sehari-hari.

Mereka menjadikan perilaku membuang sampah sembarangan sebagai sebuah aib yang memalukan, hal itu menjadi sangsi sosial yang efektif dalam tatanan kehidupannya yang dikombinasikan juga dengan sangsi tegas dari pemerintahnya.

Selanjutnya apabila arus urbanisasi tidak dapat dibendung, maka upaya kedua yaitu melakukan rekayasa teknis.

Guna memutus mata rantai banjir, maka secara teknis, pemerintah harus melakukan langkah-langkah antisipasif yang diperlukan untuk pengembangan Karawang yang lebih mampu beradaptasi, mengantisipasi, melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim.

Produk Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detil Tata Ruang harus dijadikan acuan dalam penataan kota oleh penyelenggara kota dan dipatuhi seluruh anggota masyarakat, sehingga peruntukan lahannya tidak bisa diubah-ubah.

Pemerintah juga harus melakukan perbaikan menyeluruh saluran air/irigasi (mikro, meso dan makro) yang terhubung baik, bebas sampah/lumpur/ limbah, penataan jaringan utilitas yang terpadu (pipa gas, air bersih, air limbah, kabel listrik, telepon, serat optik), serta menertibkan semua bangunan yang berdiri di atasnya.

Kemudian bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melakukan normalisasi sungai citarum dan cibeet yang melintasi Karawang

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Karawang sebagai aset, potensi, dan investasi kota jangka panjang harus kembali ditegaskan fungsi dan pemanfaatannya sesuai amanat Perda Nomor 2 Tahun 2015.

RTH perlu dikembangkan dan dioptimalkan sebagai daerah resapan air berupa taman kota, taman pemakaman, lapangan olahraga, kebun raya, hutan mangrove, jalur hijau bantaran kali, tepian rel kereta api, bawah saluran tegangan tinggi, dan kolong jalan/jembatan layang.

Sekali lagi, banjir yang terjadi di Karawang harus segera di cegah dengan berbagai upaya, dan ini menjadi tugas kita bersama. Untuk itu pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama dalam mewujudkan Karawang bebas banjir, karena Karawang adalah rumah kita bersama.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Awas Istidraj, Jebakan Nikmat Padahal Azab

catatanmasarief.com - Jebakan berupa kehidupan yang nyaman saat ibadah tidak terlalu taat bahkan bisa dibilang sedang jauh dari Allah itu istidraj namanya.

Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?

catatanmasarief.com - Tulisan saya kali ini merupakan ikhtisar dari sebuah buku yang berjudul “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam” karya Dr. Fathi Yakan.

Baca Online Ebook Api Sejarah 2

catatanmasarief.com - API SEJARAH Jilid Kesatu dan Kedua, mengangkat sejarah juang jihad Ulama dan Santri sejak abad ke 7 M hingga masa presiden RI ke 7.

RUU P-KS, Mengatasi Masalah Tambah Masalah

catatanmasarief.com - Di Indonesia kekerasan seksual menjadi perhatian serius pemerintah sehingga upaya yang kini dilakukan pemerintah untuk menghentikan kasus ini yaitu rencana akan disahkannya RUU P-KS pada tahun ini.

Ijtihad Membangun Basis Gerakan

catatanmasarief.com - Buku ini merupakan kumpulan gagasan dari Amin Sudarsono, sebuah upaya untuk membangun fondasi pokok dari gerakan KAMMI.

Menjaga Spirit 212 Dalam Kehidupan Sehari-hari

catatanmasarief.com - Tahun 2018 ini menjadi tahun kedua diselenggarakannya reuni 212. Suatu momen untuk menguatkan ukhuwah

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!