Membentuk Karakter Cara Islam

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Dunia terbalik, barangkali itu ungkapan yang cukup mewakili kondisi zaman saat ini. Dimana kebrobokan moral lebih disukai ketimbang kebaikan moral. Pergaulan bebas, aborsi, pembunuhan, korupsi, kekerasan dan daftar kebobrokan moral lainnya yang masih panjang menjadi hal lumrah yang justru lebih sering mendapatkan pemakluman.

Sementara sesuatu yang benar menjadi salah di mata masyarakat umumnya. Dunia sudah terbalik. Manusianya kini berada dalam krisis moral dan kepribadian berkepanjangan.

Menanggapi persoalan tersebut, pada tulisan kali ini merupakan ikhtisar dari sebuah buku karya Anis Matta. Anis Matta dalam buku ini memaparkan banyak hal berkaitan dengan karakter manusia, proses pembentukannya, serta langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membentuk karakter melalui pendekatan cara Islam. Sehingga buku ini cukup tepat hadir untuk menawarkan solusi perbaikan dan pembentukan moral.

Pada bab-bab awal, Anis menjelaskan tentang penyebab terjadinya krisis moral. Berbicara krisis moral, Anda pernah mendengar kata “split personality”? atau kepribadian yang terpecah? Semua itu berhubungan dengan proses pembentukan karakter seorang manusia. Karakter yang ada di dalam dirinya.

Krisis Moral dan Kepribadian

Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, itulah kondisi masyarakat sedang mengalami krisis moral.

Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.

Penyebab terjadinya krisis moral meliputi empat hal yaitu, pertama, Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai, misalnya etika dan estetika.

Kedua, Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya. Ketiga, munculnya antagonisme dalam pendidikan moral. Lalu keempat, lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral.

Krisis moral ini menimbulkan begitu banyak ketidakseimbangan di dalam masyarakat yang tentunya tidak membuat masyarakat bahagia. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu, kembali menempuh jalan Allah, kembali kepada jalan Islam. “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38)

Akhlak Dalam Semua Sisi Kehidupan

Anis Matta mendefinisikan ulang akhlak, bahwa akhlak adalah nilai pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural, dan refleks.

Jadi, jika nilai Islam mencakup semua sektor kehidupan manusia, maka perintah beramal shalih pun mencakup semua sektor kehidupan manusia itu.

Jika nilai Islam mencakup semua sektor kehidupan manusia, maka perintah beramal shalih pun mencakup semua sektor kehidupan manusia itu. Akhlak = Iman + Amal Shalih

- Advertisement -

Makna akhlak Laa Ilaaha Illallaah merupakan sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki individu manusia dan merekonstruksi visi, membangun mentalitas, serta membentuk akhlak dan karakternya.

Demikianlah, Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki masyarakat manusia dan mereformasi sistem, serta membangun budaya dan mengembangkan peradabannya.

Walaupun Islam merinci satuan akhlak terpuji, namun dengan pengamatan mendalam, kita menemukan satuan tersebut sesungguhnya mengakar pada induk karakter tertentu. Sedangkan akhlak tercela seperti penyakit syubhat dan syahwat, sama bersumber dari kelemahan akal dan jiwa.

Pembentukan prilaku

Faktor-faktor pembentuk perilaku terbagi dalam dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor pembentuk perilaku yang berasal dari internal antara lain,

  1. Insting biologis, seperti lapar, dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus, maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya, dan seterusnya.
  2. Kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri.
  3. Kebutuhan pemikiran, yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos, agama, dan sebagainya.

Faktor pembentuk perilaku yang berasal dari eksternal meliputi tiga faktor yaitu, Lingkungan keluarga, Lingkungan sosial dan Lingkungan pendidikan.

Kemudian dalam Islam, faktor pembentuk akhlak terbagi menjadi dua yaitu, pertama fitriyah, sifat bawaan yang melekat dalam fitrah seseorang yang dengannya ia diciptakan, baik sifat fisik maupun jiwa.

Kedua muktasabah, sifat yang sebelumnya tidak ada namun diperoleh melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan, pelatihan, dan pengalaman.

Proses pembelajaran

Dalam konsep Islam, karakter tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap.

Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis.

Tahapan perkembangan perilaku

Dalam perkembangannya, perilaku manusia berkembang dalam tiga tahap, antara lain :

Tahap I (0 – 10 tahun)

Perilaku lahiriyah, metode pengembangannya adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman), indoktrinasi

Tahap II ( 11 – 15 tahun)

Perilaku kesadaran, metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog, pembimbingan, dan pelibatan

Tahap III ( 15 tahun ke atas)

Kontrol internal atas perilaku, metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup, dan penguatan tanggung jawab kepada Allah swt

Ambivalensi Kejiwaan Manusia

Ambivalensi adalah dua garis jiwa yang berbeda bahkan berlawanan, namun saling berhadapan. Fungsinya merekatkan sisi-sisi kepribadian manusia tetap utuh, memperluas wilayah kepribadian manusia dengan tetap menjaga pusat keseimbangannya dan menjaga dinamika perkembangan jiwa manusia.

Seseorang akan memiliki tingkat kesehatan mental yang baik, jika garis jiwa yang ambivalen berjalan dan bergerak secara harmonis, seakan simfoni indah orkestra handal.

Maka langkah yang harus ditempuh agar simfoni tersebut mengalun indah dan harmonis adalah pertama, dengan mengatur posisi dan komposisi garis jiwa itu secara benar dan hilangkan semua kecenderungan jiwa yang salah.

Kedua, berikan atau tentukan arah kecenderungan jiwa secara benar dan natural dan ketiga, lihat ekspresinya dalam bentuk sikap dan perilaku kesehariannya.

Garis jiwa yang ambivalen ada dalam diri manusia sejak ia lahir sampai ia mati, melekat, dan mewarnai semua sisi kehidupannya. Walaupun demikian, tetap ada perbedaan mendasar tentang objek dan alasan yang melahirkan garis jiwa menjadi perilaku, pada tahapan usia yang berbeda pula.

Selanjutnya pada bab ini Anis Matta menjelaskan tentang proses pembentukan karakter dan langkah merubah karakter yang telah terbentuk dalam diri seseorang.

Pembentukan Kepribadian

Kepribadian manusia tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi terbentuk setelah melalui beberapa proses dalam kehidupannya, proses itu antara lain.,

  1. Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideologi, dan sebagainya.
  2. Nilai membentuk pola pikir seseorang yang secara keseluruhan ke luar dalam bentuk rumusan visinya.
  3. Visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas.
  4. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap.
  5. Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara kumulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian

Tiga langkah merubah karakter

Apabila karakter telah terbentuk namun bukan karakter yang baik, karakter itu masih dapat berubah dengan tiga langkah, yaitu terapi kognitif, terapi mental dan perbaikan fisik.

Pertama, terapi kognitif adalah cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya dengan memperbaiki cara berfikir.

Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya dengan memperbaiki cara berfikir. (Halaman 71)

Langkah-langkah dalam melakukan terapi ini melalui beberapa tahapan antara lain :

Pengosongan, berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah, menyimpang, tidak berdasar, baik dari segi agama maupun akal yang lurus.

Pengisian, berarti mengisi kembali benak kita dengan nilai-nilai baru dari sumber keagamaan kita, yang membentuk kesadaran baru, logika baru, arah baru, dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah.

Kontrol, berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita, sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh.

Doa, berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita

Kedua, terapi mental. Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis.

Langkah-langkah dalam melakukan terapi ini melalui beberapa tahapan antara lain :

Pengarahan, berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas, yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita

Penguatan, berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan, kemauan, dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa, sebelum kita melakukan suatu tindakan.

Kontrol, berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita

Doa, berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan, penguatan, dan pengendalian bagi mental kita

Ketiga, perbaikan fisik. Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasar-dasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur, yaitu gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan, olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup dan istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di majelis terdekat denganku di hari kiamat?” Kemudian Rasul mengulanginya sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, Ya rasulullah !” Lalu Rasul bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (H.R. Imam Ahmad)

Jika kebanyakan buku tentang karakter memaparkan isinya secara deskriptif, maka “Membentuk Karakter Cara Islam” cukup berbeda. Inilah yang menurut saya menjadi kelebihan buku ini. Anis Matta menulis buku ini secara sistematis dan to the point, bahkan cenderung teknis.

Secara keseluruhan, buku ini sangat baik bagi para orang tua sebagai referensi untuk membentuk karakter anak sejak lahir. Juga bagi para guru dan pendidik dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah maupun terhadap anak didiknya. Di luar itu, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memperbaiki diri.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Kasus Pornografi di Karawang, Salah Siapa?

catatanmasarief.com - Saat ini publik Karawang diramaikan dengan kasus pembuatan dan penyebaran pornografi oknum pemuda Karawang

Implementasi Karakter Muslim Negarawan

Muslim Negarawan merupakan profil ideal yang terinterpretasi dari sosok ‘Pemimpin Masa Depan yang Tangguh’ sebagaimana termaktub dalam Visi KAMMI.

Baca Ebook Dalam Dekapan Ukhuwah

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara - menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta.

Ghazwul Fikri, Perang Tak Berdarah Yang Mematikan

Kini permusuhan yang mereka lakukan terhadap Islam adalah dengan cara yang lebih halus namun mematikan, yaitu Ghazwul Fikri.

Mewujudkan Karawang Menjadi Kota Bahagia

catatanmasrief.com - Karawang kota bahagia merupakan suatu cita - cita yang ingin diwujudkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Rindu Yang Mendalam Kepada Rasulullah SAW

catatanmasarief.com - Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia yang ditanamkan dalam hati adalah rasa rindu kepada seseorang.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!