Kiat Memikat Hati Objek Dakwah

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Tulisan kali ini resume sebuah buku berjudul “Bagaimana Menyentuh Hati” karya Abbas As-Siisi. Buku ini mengajarkan pada kita, setiap muslim, bahwa dalam berdakwah harus dengan cara yang menyentuh hati. Cara yang sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dakwah adalah seruan dan ajakan yang sesungguhnya berorientasi mengubah arah kehidupan umat manusia. Arah kehidupan dari kebatilan menuju kebenaran, dari kegelapan menuju cahaya dan dari kerancuan menuju pada kejelasan. Semua itu bermula dari hati.

Karena bermula dari hati itulah maka dalam berdakwah tidak boleh ada paksaan terhadap objek dakwah. Suatu paksaan untuk menerima apa yang kita dakwahkan yakni agama Islam. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 256 :

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam pengantar awal buku ini. Dr. Al-Habr Yusuf Nur Ad-Daim menyampaikan bahwa Syaikh Abbas Hasan As-Siisi adalah salah seorang tokoh generasi awal Ikhwanul Muslimin. Beliau dikenal sebagai sosok yang akhlaknya sangat baik, raut wajahnya ceria dan bersahabat serta sorot matanya menyejukkan.

Beliau merupakan tokoh da’i yang memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman tentang rahasia hati. Oleh karenanya sebagaimana halnya generasi pertama didikan Imam Hasan Al Banna. Dalam langkah yang mereka tempuh diorientasikan untuk membersihkan hati mereka dengan hidayah Ilahiah terlebih dulu, baru kemudian memberikan pengetahuan dan pengalaman yang mereka dapatkan kepada orang lain.

Syaikh Abbas As-Siisi masih dalam pengantar buku ini menyajikan beberapa Kalamullah dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berdakwah dengan sikap lemah lembut.

Terdapat salah satu ayat menarik yang penulis sampaikan yakni dalam surat Al Ahzab ayat empat yang artinya, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya…”

Dari potongan ayat tersebut beliau menyimpulkan bahwa tidak mungkin pemilik hati yang sarat cinta dan keimanan pada saat yang sama ia adalah orang yang berhati gersang, kasar, serta menyimpan rasa dengki dan kebencian pada pihak lain.

Sebagai pembuka, Syaikh Abbas menyampaikan sebuah wasiat dari Imam Hasan Al Banna. Sebuah wasiat yang menggambarkan bagaimana hakikat dakwah Ikhwanul Muslimin yang dimulai dari pembentukan pribadi muslim (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyyah). Berawal dari pribadi – pribadi itulah yang nantinya akan menjadi tonggak masyarakat dan peradaban yang lebih besar lagi. (Hal. 22)

Dakwah merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Maka dari itu menjadi seorang da’i seharusnya merupakan keniscayaan. Imam Hasan Al Banna memberikan sebuah analogi tentang peran seorang da’i dalam dakwah Islam.

“Di setiap kota terdapat pusat pembangkit tenaga listrik. Para pegawai memasang instalasinya di seluruh penjuru kota. Memasang kabel pada setiap tiang. Setelah itu aliran listrik masuk ke setiap pabrik, rumah dan tempat lainnya. Jika aliran listrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga listrik ada dan tersimpan di pusat pembangkit listrik, hanya saja tenaga listrik yang ada itu tidak dapat dimanfaatkan.” 

Yang dimaksud dengan pusat pembangkit tersebut adalah Al Qur’an Al-Karim yang menjadi sumber pembangkit kekuatan umat muslim. Sedangkan seorang da’i berperan sebagai petugas di pembangkit listrik tersebut yang mengalirkan kekuatan ini dari pusat pembangkit ke dalam hati setiap muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya. (Hal. 24-25)

- Advertisement -

Dalam berdakwah sudah pasti akan menemui berbagai rintangan dan kendala. Permasalahan yang menghadang seorang da’i di tengah medan dakwah terkadang justru muncul dari dalam dirinya.

Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuatu tersebut. Seseorang yang tidak memiliki kunci, maka sulit baginya untuk masuk. Manusia yang hatinya terkunci sehingga sulit dimasuki oleh dakwah, bagaikan brankas besar yang sebenarnya dapat dibuka hanya dengan kunci yang kecil.

Demikianlah persoalannya, yang sesungguhnya kembali kepada diri sang da’i itu sendiri, yakni berkaitan dengan potensi dirinya secara ruhiah, di samping kecakapannya untuk membuat program, serta ketahanan dalam mewujudkannya. (Hal. 26)

Artinya seorang da’i dalam berdakwah harus sangat memperhatikan kondisi ruhiyah atau keimanannya. Karena ruhiyah atau keimanan yang kuat akan menjadi modal bagi ketahanan dirinya dalam berdakwah dan menjadi kunci pembuka untuk masuknya hidayah ke dalam hati seseorang.

Ruhiyah atau keimanan yang kuat merupakan modal bagi ketahanan diri seorang da’i dalam berdakwah

Seorang da’i hendaklah memperhatikan celah-celah kebaikan yang ada pada orang lain kemudian memupuknya, sehingga celah-celah keburukan yang ada padanya tersingkir dan ia mau bangkit berdiri melangkah di jalan Islam. (Hal. 27)

Dalam kehidupan ini manusia diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu:

  1. Manusia yang berperilaku dengan akhlak Islamiah artinya orang yang rajin beribadah.
  2. Manusia yang berperilaku dengan akhlak asasiyah artinya orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mau terang-terangan dalam berbuat maksiat karena ia masih menghormati harga dirinya.
  3. Manusia yang berperilaku dengan akhlak jahiliah, inilah orang yang disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “Sejelek-jelek teman bergaul” (HR. Muslim)

Urutan karakteristik tersebut menunjukkan skala prioritas bagi seorang da’i dalam berdakwah.

Tipe karakteristik pertama adalah yang paling dekat dengan nilai-nilai dakwah dan paling mudah menerima dan memahami dakwah, maka harus diprioritaskan untuk didakwahi. Tipe kedua lebih diprioritaskan dibandingkan dengan tipe ketiga karena mereka masih malu untuk melakukan maksiat secara terang-terangan. Sedangkan tipe ketiga, tipe paling akhir karena perbuatan dan perangainya yang jelek.

Akan tetapi, bukan berarti seorang da’i harus tetap berpegang dan terikat dengan urutan ini, karena kadangkala keadaan bisa mengubah pandangannya dalam hal ini dengan izin Allah ta’ala seperti yang terjadi pada Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu., Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu dan yang lain. (Hal. 33)

Kita harus menyadari bahwa kita tidak diwajibkan untuk memastikan mereka semua menerima ajakan kita, namun jika mereka semua menerima ajakan kita, itu adalah rahmat dari Allah.

Adapun da’i yang menghabiskan waktunya hanya untuk satu orang dengan harapan agar orang tersebut mau menerima ajakannya adalah tidak benar. Orang tersebut akan merasa bahwa dirinya diajak dengan cara yang sangat berlebihan, sehingga ia akan berprasangka buruk, dan bisa jadi ia akan lari dari ajakan itu, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah ta’ala.

Kaidah yang harus kita perhatikan adalah, “Ambil-lah yang mudah dan tinggalkan yang sulit, jika ada yang mudah”. (Hal. 37)

Syaikh Abbas As-Siisi menyebutkan dan menjelaskan secara menarik disertai dengan contoh baik yang berasal dari pengalaman pribadinya, shirah nabawiyah maupun dari kisah orang-orang di sekitarnya. Ada suatu perbuatan yang menurut beliau dengan seizin Allah ta’ala akan dapat menjadi kunci untuk membuka hati objek dakwah.

Adapun perbuatan tersebut yaitu menghafal nama dan cara memulai berkenalan. Menghafal nama adalah hal yang penting, karena dari sinilah terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya sesama individu. Dengan cara yang tepat dan sesuai tuntunan Islam dalam memulai perkenalan, setiap orang tentu akan merasa senang jika dipanggil dengan namanya, apalagi dengan nama yang paling ia sukai. (Hal. 37, 39)

Kemudian pendekatan dakwah dengan metode dakwah fardiyah. Yang dimaksud dengan dakwah fardiyah adalah dakwah yang dilakukan secara personal. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang nasrani bernama Adas. (Hal. 45)

Ada salah satu Hadits yang mengajarkan tentang sarana dan metode dakwah yang mudah dipelajari dan diterapkan oleh para da’i. Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam: jika bertemu maka berilah salam, jika tidak kelihatan maka cari tahulah, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan hamdalah maka jawablah (dengan mengucapkan ‘yarhamukallah’, dan jika meninggal dunia maka hantarkanlah (ke pemakaman).”

Dalam hadits tersebut mengajarkan dalam berdakwah penting untuk memenuhi hak seorang muslim. Pertama, jika bertemu maka berilah salam. Kedua, jika tidak kelihatan maka cari tahulah. Ketiga, jika sakit maka jenguklah. Keempat, jika ia mengundangmu maka penuhilah. Kelima, jika ia bersin dan mengucapkan “hamdalah” maka jawablah (ucapkan “yarhamukallah”). Keenam, jika ia meninggal dunia maka antarkanlah ke tempat pemakamannya. (Hal. 54-56)

Cara bertutur kata dan penampilan seorang da’i akan menarik perhatian orang yang mendengar dan melihatnya. Karena pada dasarnya jiwa manusia cenderung dan tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. (Hal. 80)

Ada beberapa sarana-sarana pembuka hati yang Syaikh Abbas As Siisi kutip dari beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya, pertama menjadi pribadi yang paling berguna bagi orang lain. Kedua, menjadi pribadi yang perbuatannya membuat orang lain gembira atau meringankan kesulitannya.

Lalu ketiga, menjadi pribadi yang mampu mengendalikan amarahnya. Keempat menjadi pribadi yang membantu menyelesaikan urusan orang lain dan kelima menjadi pribadi yang menghindari perilaku yang jelek. (Hal. 118, 119)

Kemudian ada dua sifat yang harus dimiliki seorang da’i agar dakwahnya berhasil, yaitu memiliki sifat cerdas dan bersih. Cerdas yang dimaksud adalah cerdas akalnya, dimana ia mampu memandang segala sesuatu secara proporsional. Dan bersih yang dimaksud adalah bersih hatinya, hati yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain serta hati yang tidak bersuka ria diatas peneritaan orang lain. (Hal. 152)

Dua sifat yang harus dimiliki seorang da’i agar dakwahnya berhasil, yaitu memiliki sifat cerdas dan bersih

Secara keseluruhan Syaikh Abbas As Siisi menyampaikan bahwa keberhasilan dalam berdakwah sangat dipengaruhi oleh pribadi seorang da’i mulai dari kondisi ruhiyah dan kepribadiannya, lalu penampilan dan sampai pada metode yang digunakan. Sebaik-baik teladan yang dapat dijadikan contoh dalam berdakwah adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Abbas As Siisi menulis buku ini secara to the point dengan beragam poin pentingnya berada di halaman-halaman awal. Lalu banyak sekali hikmah dari kisah-kisah yang disampaikan membuat buku ini mudah untuk dipahami. Dengan demikian buku ini menarik dan sangat penting dibaca bagi Anda para aktivis dakwah.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Islam, Pemuda dan Perubahan Sosial

catatanmasarief.com - Sepanjang sejarah, aksi – aksi para pemuda telah menjadi salah satu penentu perubahan sosial – politik di berbagai belahan dunia.

Cegah Sengketa Waris Dengan Mempelajari Ilmunya

catatanmasarief.com - Persoalan warisan masih menjadi hal yang tabu dan sensitif bagi sebagian orang yang berakibat pada salahnya pembagian.

Baca Ebook Konspirasi Bencana Alam

Banjir, kekeringan, tsunami, badai dan letusan vulkanik adalah "senjata masa depan". Buku ini menelanjangi fakta suram tentang siapa yang melakukannya dan mengapa?

Baca Online Ebook Ilusi Demokrasi

Buku ini membahas tentang kritik Islam atas sistem kehidupan modern dan upaya umat Islam merestorasi cara hidup Islami sebagai jalan keluarnya.

Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah

Tulisan kali ini ikhtisar dari sebuah buku buah tangan dari Syaikh Fathi Yakan dengan judul asli, Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad Da’iyah, hasil jerih payah yang panjang dan dan buah berbagai pengalaman pahit dalam kancah perjuangan Islam

Rindu Yang Mendalam Kepada Rasulullah SAW

catatanmasarief.com - Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia yang ditanamkan dalam hati adalah rasa rindu kepada seseorang.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!