Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Dakwah merupakan tugas berat bagi para da’i dan kader dakwah. Namun bukan berarti boleh dihindari, karena dakwah disamping menantang sekaligus tugas mulia. Dengan demikian amanah ini mesti dilaksanakan dengan kerja keras, sungguh – sungguh dan perencanaan matang.

Seorang da’i yang hendak memasuki kancah dakwah, pasti dihadapkan kepada objek dakwah (mad’u) yang beragam. Keragaman itu adalah perbedaan intelektual, status sosial, karakter, kecenderungan dan lain – lain. Bahkan problematika mereka juga beragam, tergantung kondisi masing – masing.

Menghadapi persoalan itu, tulisan kali ini ikhtisar dari sebuah buku buah tangan dari Syaikh Fathi Yakan dengan judul asli, Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad Da’iyah. Buku ini adalah hasil jerih payah yang panjang dan dan buah berbagai pengalaman pahit yang penulis rasakan dalam kancah perjuangan Islam, di berbagai tempat dan peristiwa.

Buku Ini dibagi menjadi dua bagian pokok, pertama bagaimana agar seorang da’i bisa masuk kepada objek dakwah yang memiliki perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain – lain. Kedua, bagaimana memperlakukan objek dakwah yang telah menjadi pendukung dakwah untuk dijaga komitmennya. Kemudian digali potensinya dan dioptimalkan agar bermanfaat bagi perjuangan dakwah.

Isti’ab dalam Dakwah dan Da’i

Mengawali dengan memahami makna isti’ab. Isti’ab (daya tampung) adalah kemampuan da’i untuk menarik objek dakwah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan sebagainya.

Sehingga da’i yang sukses adalah da’i yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan dakwahnya, sekalipun kecenderungan, karakter dan tingkatan mereka beragam. Disamping mampu menarik sejumlah besar manusia dan mampu menampung mereka baik dalam tataran pemikiran ataupun pergerakan. (Hal. 03 – 04)

Seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan Isti’ab. Karena tanpa kemampuan ini Ia tidak akan bisa menjadi da’i yang produktif dan aktivis di medan dakwah. Tingkatan – tingkatan kemampuan dalam isti’ab diisyaratkan dalam sebuah hadist:

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Maka ada bagian bumi yang baik, ia menerima air hujan itu dengan baik lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Ada juga bagian bumi yang menahan air, lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan air yang disimpannya, sehingga mereka bisa minum dan menyirami tanaman dari air tersebut. Bagian lainnya adalah padang tandus, ia sama sekali tidak bisa menyimpan air dan juga tidak menumbuhkan apapun. Demikian itu adalah perumpamaan orang yang diberi kepahaman dalam agama, lalu ia dapat memanfaatkan apa yang aku bawa itu, hingga ia senantiasa belajar dan mengajarkan apa yang ia pahami. Dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak ambil peduli dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku sampaikan”. (HR. Bukhari – Muslim). (Hal. 05 – 07)

Isti’ab memiliki hubungan yang sangat mendasar dengan keberhasilan dakwah. Karena tidak akan ada keberhasilan dakwah tanpa kemampuan isti’ab seorang da’i. (Hal. 08)

Isti’ab memiliki dua sisi, yaitu Isti’ab eksternal dan internal. Isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang – orang yang berada di luar dakwah, di luar pergerakan dan di luar organisasi. Atau   orang – orang yang belum bergabung. Isti’ab internal adalah penguasaan terhadap orang – orang yang berada di dalam organisasi, yakni mereka yang telah bergabung ke dalam Jama’ah dan pergerakan.

Kedua sisi ini saling melengkapi dan sangat penting serta memerlukan kemampuan yang tinggi untuk menguasainya. Karena keberhasilan seorang da’i sangat terkait dengan kemampuannya menguasai keduanya. (Hal. 09)

Seorang da’i dituntut untuk memiliki batas minimal kemampuan Isti’ab. Karena tanpa kemampuan ini Ia tidak akan bisa menjadi da’i yang produktif dan aktivis di medan dakwah.

Isti’ab Eksternal

- Advertisement -

Merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, tuntutan yang harus dipenuhi para da’i dalam proses isti’ab dan rekruitmen diantaranya:

  1. Kepahaman tentang Agama

Menjadi da’i, seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam. Karena urgensi pemahaman ini, dalam nash Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: ‘adakah sama orang – orang yang mengetahui dengan orang – orang yang tidak mengetahui? ‘Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran” (Az – Zumar [39]: 09)

Dalam ayat lain terdapat dalam surat Saba’ [34] ayat 06, surat Al Jatsiyah [45] ayat 18. Lalu dalam hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wahai manusia sesungguhnya ilmu hanya didapat dengan belajar, sedang pemahaman hanya akan didapat melalui pendalaman (tafaquh) dan barang siapa yang dikehendaki Allah baik maka ia akan diberi kepamahan dalam agama, sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba – Nya adalah ‘ulama” (HR Bukhari). (Hal. 14 – 16)

  1. Keteladanan yang Baik

Seorang da’i harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat, agar ia memiliki pengaruh dalam masyarakat, sehingga mereka bisa direkrut. Karena pengaruh ucapan tidak seefektif pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan, perbutan Dzahir harus sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. (Hal. 25)

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang – orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa – apa yang tiada kamu kerjakan” (Ash – Shaff [61]: 2 – 3). (Hal. 29)

  1. Kesabaran

Dalam merekrut dan mempengaruhi masyarakat dibutuhkan kesabaran. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam – macam, memiliki kelebihan dan kekurangan yang beragam, memiliki tabiat yang berbeda – beda dan memiliki kepentingan yang berlainan.

Di lain pihak hidayah tidak akan bisa masuk ke dalam jiwa seseorang sekaligus, ia memerlukan usaha yang terus – menerus hingga mencapai tingkat yang diinginkan. Hal ini tentu membutuhkan kesabaran. (Hal. 33)

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman, “Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang – orang yang khusyu” (Al-Baqarah [02]: 45). (Hal. 38)

Kemudian dalam hadist, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang berusaha untuk bersabar, maka Allah akan mengaruniai kesabaran dan tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih luas bagi seseorang selain dari kesabaran” (HR. Bukhari – Muslim). (Hal. 40)

  1. Santun dan Lemah Lembut

Masyarakat membenci kekerasan dan akan menjauhi pelakunya. Oleh karena itu bersikap lemah lembut harus dilakukan seorang da’i dalam usaha menarik masyarakat. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertawakkal kepada – Nya” (Ali ‘Imran [03]: 159). (Hal. 42)

  1. Memudahkan, Tidak Mempersulit

Manusia memiliki karakter, kemampuan dan daya tahan yang berbeda – beda. Apa yang bisa dilakukan seseorang belum tentu bisa dilakukan oleh orang yang lain, karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah mereka dan jangan membuat mereka lari” (HR. Bukhari – Muslim). (Hal. 51 – 53)

  1. Tawadhu’ dan Merendahkan Sayap

Salah satu sifat paling menonjol yang menjadikan seorang da’i disukai oleh keluarga dan masyarakatnya, juga menjadikan ia memiliki pengaruh yang sangat kuat adalah sifat tawadhu’ dan merendahkan sayap.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang merendahkan sayap, yang mau menghimpun dan mau dihimpun. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah orang yang mengadu domba, yang memecah belah orang – orang yang saling mencintai, dan mencari – cari aib orang yang tidak berdosa” (HR Thabrani). (Hal. 58 – 59)

Sedangkan kesombongan hanya akan menjadi dinding penghalang antara da’i dan masyarakat, bahkan akan menjadikan da’i terisolasi dan tidak disukai lingkungannya.

Fenomena kesombongan ini tampak dalam berbagai hal seperti lebih senang bergaul dengan orang – orang kaya dan berpangkat daripada dengan orang miskin ataupun orang – orang awam, lebih memperhatikan pakaian, penampilan dan suka meremehkan orang yang terlihat kumal, suka memilih – milih audien, lebih mementingkan ungkapan yang dibuat – buat dan merasa takjub serta bangga dengan ilmu yang dimiliki. (Hal. 59 – 60)

  1. Wajah Berseri – seri dan Perkataan yang Baik

Wajah merupakan cermin yang merefleksikan kejiwaan. Jika wajah seseorang seram maka hal itu merupakan cerminan dari kekasarannya, dan jika wajah seseorang berseri – seri dan murah senyum, maka ini adalah pertanda kebaikannya.

Wajah berseri – seri dan perkataan yang baik termasuk sifat yang dapat menyebabkan terbukanya hati masyarakat, sehingga mereka mau mendekat dan menerima apa yang disampaikan. (Hal. 67)

Dalam nash Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Al Ahzab [33]: 70). (Hal. 70)

  1. Dermawan dan Berinfak Kepada Orang Lain

Kedermawanan adalah syarat yang harus dimiliki oleh seorang da’i agar sukses dalam dakwah dan dapat menarik manusia. Kedermawanan dengan materi menunjukkan kelapangan jiwa, sebaliknya orang yang kikir menunjukkan kekerdilan jiwanya. (Hal. 76)

Seorang da’i harus menggunakan hartanya sebagai sarana agar masyarakat yang didakwahi mendapat hidayah, misalnya dengan memuliakan tamu karena Islam mewajibkannya. Lalu memberi hadiah kepada orang lain, hal itu termasuk akhlak Islam yang dianjurkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selain itu juga berbagai perbuatan mulia yang diperintahkan Allah Ta’ala yang menuntut kedermawanan, seperti berinfak kepada fakir miskin, menanggung anak yatim, memperhatikan hak tetangga dan hak semisal lainnya yang bertentangan dengan kebakhilan. (Hal 77 – 80)

  1. Melayani orang lain & membantu keperluan mereka

Seorang da’i wajib menerjemahkan pemikiran dan konsepnya dalam bentuk tindakan konkret, yaitu dengan turut merasakan problematika umat dan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menyelesaikannya. (Hal. 86)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amalan yang paling utama adalah menyenangkan seorang mukmin, dengan cara memberi pakaian, makanan, minuman dan memenuhi kebutuhannya” (HR Thabrani). (Hal. 96)

Isti’ab Internal

Isti’ab Dakhili (daya tampung internal) adalah kemampuan dan keahlian untuk menampung objek dakwah yang telah berada di tengah – tengah barisan dakwah. Baik oleh para pemimpin maupun para anggotanya. Tujuannya untuk mendayagunakan potensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah dan pergerakan. (Hal. 101)

Dalam proses pembentukan ini, harus melalui beberapa tahapan sesuai dengan aturan – aturan yang ada. Tahapan – tahapan itu antara lain: Pertama, isti’ab ‘aqidi dan tarbawi, kedua, isti’ab haraki.

Isti’ab ‘Aqidi dan Tarbawi

Dalam Tahap ini para kader harus dibersihkan dari berbagai problem masa lalu, meluruskan aqidah, perilaku, akhlak, mengarahkan kecenderungan, menentukan, menjelaskan arah sasaran dan tujuan mereka. (Hal. 103)

Isti’ab tarbawi tidak boleh didikte oleh suatu fase atau situasi, tetapi mutlak diperlukan baik bagi para pemula ataupun para senior dan isti’ab tarbawi harus memperhatikan berbagai perkembangan kehidupan tahapan – tahapan alami dan khusus yang dilalui oleh para individu. (Hal. 106)

Lalu isti’ab tarbawi juga harus memenuhi semua bidang tarbiyah, baik pemikiran, spiritual dan kebutuhan fitrah manusia dan isti’ab tarbawi harus terukur dan menggunakan parameter syari’at dengan mengambil semua ‘azimah (hukum asal) – nya dan berbagai keringanannya bukan produk emosi dan keinginan pribadi semata. (Hal. 107)

Isti’ab memiliki dua sisi, yaitu Isti’ab eksternal dan internal. Isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang – orang yang berada di luar dakwah, di luar pergerakan dan di luar organisasi. Atau   orang – orang yang belum bergabung. Isti’ab internal adalah penguasaan terhadap orang – orang yang berada di dalam organisasi, yakni mereka yang telah bergabung ke dalam Jama’ah dan pergerakan.

Aspek penting dan mendasar yang harus dimiliki dalam pembentukan pribadi muslim, yaitu

1. Sunnah Rasul dalam Pembentukan Pribadi Muslim

Rasulullah saw menggunakan metode yg unik sesuai dengan kesempurnaan manhaj Islam dan fitrah yang ditetapkan Allah Ta’ala, memandang manusia apa adanya layaknya manusia dengan memperhatikan kecenderungan dan kebutuhan manusia. (Hal. 108)

  1. Beberapa Kaidah Asasi dalam Sunnah

Kaidah utama yang dijelaskan dalam Sunnah Nabawiyah tentang kerangka pembentukan pribadi Muslim yaitu memenangkan sisi positif atas sisi negatif dan memenangkan sikap proporsional atas sikap berlebih – lebihan.

Dalam sikap proporsional dan tidak berlebih – lebihan diisyaratkan dalam hadist yang berkaitan dengan komitmen pribadi kepada Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini sangatlah keras, maka masuklah ke dalamnya dengan lembut” (HR Ahmad). (Hal. 111)

Lalu berkaitan dengan dakwah dan menarik orang kepada Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah dan jangan membuat mereka lari” (HR Bukhari-Muslim). (Hal. 112)

Kemudian kaidah utama lainnya yang dijelaskan dalam Sunnah Nabawiyah, yaitu Sedikit dan kontinu lebih baik daripada banyak tapi terputus, sunnah Rasul dan mendahulukan prioritas dalam pembentukan. (Hal. 114 – 116)

Lalu pembentukan melalui keteladanan, pembentukan yang menyeluruh dan tidak parsial, keshalihan lingkungan dan pengaruhnya dalam pembentukan serta dampak pahala dan hukuman dalam pembentukan. (Hal. 121 – 131)

Isti’ab Haraki

Isti’ab haraki adalah kemampuan sebuah pergerakan dalam menampung para anggotanya, pendukungnya, simpatisannya dan juga kemampuan gerakan dan para anggotanya dalam menampung berbagai persoalan, prinsip dan kaidah – kaidah pergerakan.

Ada beberapa permasalahan pokok yang berhubungan dengan isti’ab haroki antara lain:

  1. Hal yang Berkaitan dengan Daya Tampung Gerakan terhadap para Anggotanya

Untuk bisa menampung para anggotanya, gerakan harus memenuhi beberapa syarat yaitu proses tarbiyah yang matang, tersedianya berbagai potensi dan kapabilitas serta faktor pendukung lainnya dalam sebuah pergerakan, misalnya manajerial yang handal, perencanaan yang matang, konsep yang jelas dalam pendidikan, pemikiran, politik dan sebagainya. (Hal. 138)

Lalu memahami semua anggotanya dengan benar, mengetahui potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya dan hal lainnya. Dengan mengetahui semua ini akan sangat membantu untuk menentukan tugas dan tanggungjawab masing – masing individu dan menempatkan pada posisi yang tepat, sehingga akan membuahkan hasil yang memuaskan. (Hal. 139)

Mengerahkan seluruh anggota dan bukan sebagian saja atau hanya orang – orang yang berprestasi saja karena bagaimanapun akan melipatgandakan hasil dan menghindari fitnah yang ditimbulkan oleh para “penganggur” atau orang – orang yang tidak memiliki tugas dan peran dakwah. (Hal. 140 – 142)

  1. Terkait dengan isti’ab haraki

Ada beberapa masalah penting yang terkait dengan pergerakan yang harus dikuasai oleh para da’i yaitu, pemahaman yang benar dan sempurna tentang sasaran dan sarana yang digunakan, memahami tanzhim dan tabiatnya dengan benar, pemahaman yang benar dan menyeluruh terhadap tabiat teman dan lawan berikut konsekuensinya. (Hal. 143 – 147)

Lalu pemahaman yang baik tentang berbagai aspek, tabiat dan kebutuhan amal, menjauhi fenomena istiknaf atau keengganan utk bergabung dalam masyarakat, instansi atau berbagai organisasi yang ada. (Hal. 149 – 152)

Jika gerakan Islam tidak mau beranjak dari tempatnya, setelah memiliki kader – kader pilihan, dan tidak mau bergaul dengan masyarakat, mendidik, membimbing, mengarahkan, membantu, memimpin, meringankan kesulitan mereka dan melakukan perbaikan di tengah – tengah mereka, maka masyarakat akan meninggalkannya.

Sehingga akhirnya gerakan ini akan hancur karena tidak memiliki akar dan kekuatan di dalam masyarakat dalam melakukan pertarungan mempertahankan eksistensi.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Membangun Personal Branding Dalam Berdakwah

catatanmasarief.com - Personal branding diperlukan pertama kali ketika ingin membangun kepercayaan Publik dalam berdakwah

Islam, Pemuda dan Perubahan Sosial

catatanmasarief.com - Sepanjang sejarah, aksi – aksi para pemuda telah menjadi salah satu penentu perubahan sosial – politik di berbagai belahan dunia.

Ghazwul Fikri, Perang Tak Berdarah Yang Mematikan

Kini permusuhan yang mereka lakukan terhadap Islam adalah dengan cara yang lebih halus namun mematikan, yaitu Ghazwul Fikri.

Ternyata, Inilah Pesan Ayahku

catatanmasarief.com - Hatinya terharu, dia ingat pesan ayahnya. Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ayahnya.

Baca Online Ebook Api Sejarah 2

catatanmasarief.com - API SEJARAH Jilid Kesatu dan Kedua, mengangkat sejarah juang jihad Ulama dan Santri sejak abad ke 7 M hingga masa presiden RI ke 7.

Memahami Psikologis Siswa Angkatan Covid-19

Segala persoalan selama pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sangat berdampak pada kondisi psikologis, terutama bagi siswa. Hal ini sangat patut jadi bahan perhatian yang serius.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: