Waspada! Prostitusi Berkedok Spa di Karawang

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Hai sobat mas Arief, pada awalnya saya sebenarnya tidak kepikiran untuk menulis catatan tentang hal – hal yang bikin sensitif kayak gini, karena memang tidak niat membahas topik ini.

Namun belakangan ini, melalui media sosial saya disuguhkan berita – berita tentang maraknya kasus prostitusi, apalagi kasus digerebek dan ditutupnya tempat spa dan pijat D’Crown yang menurut informasi sebagai tempat praktek spa dan pijat “esek – esek”, tahu kan itu tempat praktek kayak apa kalau udah “plus – plus”?

Satu tahun yang lalu, pada saat acara reuni alumni kelas SMK, salah seorang sahabat saya pernah menyampaikan informasi bahwa beberapa tempat pijat dan spa di Karawang menyediakan fasilitas pijat “plus – plus”. Mulai dari hanya sekedar meraba – meraba terapisnya sambil HJ (Handjob) sampai pelayanan full service.

Saya yang memang kurang gaul sama hal – hal mengenai tempat – tempat pijat dan spa, jadi sedikit kurang percaya dengan informasi itu, namun dia meyakinkan bahwa sudah berkunjung melakukan observasi langsung.

Waktu satu tahun memang cukup lama untuk kembali saya mengangkat topik ini. Setelah mencari informasi di beberapa sumber mengenai praktek prostitusi berkedok pijat dan spa, termasuk informasi D’Crown yang beberapa waktu lalu cukup ramai diberitakan, rasa penasaran saya kembali muncul untuk mengetahui langsung realitas sebenarnya.

Untuk mengetahui perbedaan antara tempat pijat dan spa biasa dengan yang “plus – plus”. Berdasarkan informasi dari beberapa sumber dan observasi lapangan, setidaknya terdapat tiga tanda dari lima ciri – ciri tempat pijat dan spa yang menyediakan fasilitas pijat “plus – plus”.

Pertama, dari segi lokasi, di Karawang, tempat pijat dan spa itu berada di tempat yang strategis dan jauh dari keramaian. Lokasi ini dipilih karena memang sebagai tempat yang eksklusif dan untuk menghindari hal – hal bersinggungan dengan masyarakat.

Secara tampilan, hanya menggunakan papan nama seadanya yang bertuliskan nama tempatnya dan pelayanan apa yang bisa diberikan. Kemudian tempatnya tertutup, dalam arti kaca di jendela dan pintu masuk dilapisi dengan stiker atau tirai sehingga orang tidak bisa melihat dari luar dengan jelas apa yang ada dan terjadi di dalamnya.

Kedua, dari segi waktu atau jam buka, mulai beroperasi lebih siang pada pukul 11.00 WIB dan tutup lebih malam pada rentang waktu pukul 23.00 WIB sampai 23.30 WIB, dari umumnya tempat pijat dan spa.

Ketiga, tidak memiliki terapis pria, semuanya wanita yang melayani pelanggan pria dan wanita. Para terapis ini berpakaian seragam serba mini yang memperlihatkan setiap lekuk badannya. Kemudian, setiap pengunjung dapat memilih dengan terapis siapa akan dilayani dengan melihat daftar terapis pada layar monitor yang ada pada meja receptionist.

Keempat, setelah selesai dipijit atau spa, pelanggan ditawari pelayanan “plus – plus” dengan harga yang variatif, harga itu adalah biaya uang tip yang diberikan kepada terapis setelah pelayanannya selesai.

Kelima, jika pada umumnya tempat pijat dan spa banyak di kunjungi kaum hawa, berbeda dengan tempat ini lebih digandrungi oleh kaum pria. Sehingga apabila berkunjung ke sana akan lebih sering menjumpai pria yang rata – rata berusia 20 sampai 30 tahun, namun ada juga yang berusia 40 sampai 50 tahun ke atas.

Itulah lima ciri yang jarang masyarakat umum tahu, karena memang mungkin masyarakatnya yang cuek, selain itu juga tempat itu mendapat dari perlindungan keamanan dari beberapa pihak. Wah! pihak mana tuh yang ngelindungin tempat kaya gitu?

- Advertisement -

Pada akhir bulan Oktober 2019 kemarin, saya mendapat kesempatan untuk wawancara dengan seorang terapis pijat dan spa. Setelah sebelumnya mencari narasumber ke berbagai tempat pijat dan spa yang menurut informasi sebagai tempat praktek pijat dan spa “plus – plus”. Akhirnya ada yang bersedia setelah nego karena wawancaranya tidak gratis.

Cukup berdebar – debar berhadapan langsung dengan wanita yang berpakaian serba minim. Sebut saja Raya (nama samaran) berusia 27 tahun, seorang terapis di tempat praktek pijat dan spa bernama Jingga (nama samaran) yang terletak di sekitar kawasan Industri Karawang.

Pijat dan spa plus-plus

Mengawali pembicaraan, saya mulai dengan sebuah pertanyaan mengenai keterangan diri dan riwayat kiprah dia sebagai terapis. Berikut petikan wawancara dengan Raya.

Sudah berapa lama jadi terapis?

Kira – kira sudah empat tahun, kalau di sini (Jingga) baru sekitar dua bulanan, sebelumnya jadi terapis di D’Crown, lalu setelah tutup, pindah ke Cikarang dan balik lagi jadi terapis di Karawang.

Bagaimana awalnya bisa jadi terapis?

Saya dulu bekerja jadi pegawai garmen di Subang. Kemudian saya di ajakin teman untuk bekerja jadi terapis di Karawang, D’Crown. Awalnya di training dulu sampai benar – benar bisa mijit.

Kok mau jadi terapis “Plus – plus”?

Pada awal kerja di D’Crown, saya hanya jadi terapis pijat dan spa aja, dan tidak tahu kalau ada “plus – plus”-nya. Namun kemudian saya ditawari untuk pelayanan “plus – plus”, karena sudah janda, ya akhirnya bersedia, sudah terlanjur jadi sekalian deh. Lumayan untuk nambah penghidupan anak.

Berapa pendapatan jadi terapis dan biaya pelayanan “plus – plus”?

Gaji kerja di sini (Jingga), hitungannya Rp. 20.000 per – pelanggan, belum dipotong pemeriksaan kesehatan. Lalu pelayanan “plus – plus” nya, mulai dari Rp. 200.000 untuk meraba – raba aja sambil HJ, Rp. 300.000 pelayanan body service (ML) dan Rp. 400.000 full service (HJ, body service dan BJ).

Oya, Asal daerah dari mana dan apakah sudah berkeluarga?

Saya berasal dari Subang, daerah pintura, lebih tepatnya di Kecamatan Patokbeusi. Saya sudah pernah berkeluarga, namun akhirnya pisah, dan hak asuh anak yang masih berusia sekolah TK jatuh ke saya.

Mengetahui dari Subang, saya menjadi penasaran, kenapa para pekerja terapis “plus – plus” dan PSK, dari beberapa sumber informasi banyak berasal dari subang ya?

Setelah saya telusuri di internet, saya menemukan fakta menarik yang dilansir dari Kumparan News bahwa, subang menjadi Kabupaten terinveksi HIV/AIDS tertinggi no. 4 se – Jawa Barat, yang dibuktikan dengan adanya sebuah kampung prostitusi.

Dari fakta itu, artinya subang menjadi tempat maraknya praktek prostitusi, yang kemudian hal tersebut dianggap lumrah oleh sebagian oknum masyarakatnya, dan berawal dari sanalah sebagian warganya yang berprofesi sebagai PSK atau terapis “plus – plus” ada yang melakukan prakteknya dengan bekerja di daerah lain.

Namun kemudian saya ditawari untuk pelayanan “plus – plus”, karena sudah janda, ya akhirnya bersedia, sudah terlanjur jadi sekalian deh. Lumayan untuk nambah penghidupan anak

Oke, back to interview,

Apakah semua terapis di sini memberikan pelayanan “plus – plus”?

Ya, semua gitu, cuman kalau saya ada pelayanan mandi barengnya juga, karena sudah sama – sama tanpa busana ya jadi sekalian aja mandi.

Selama bekerja di sini, apakah pernah digerebek petugas?

Selama di sini (jingga) belum pernah di gerebek tuh, yang karena tempatnya juga strategis dan bayarannya juga kuat ke beberapa oknum petugas dan para preman wilayah sini. Ya kalau digerebek terus, nanti anak saya mau makan apa dan dari mana?

Waktu itu, kenapa D’Crown bisa digerebek dan akhirnya ditutup?

Ya, mungkin bayarannya kurang kuat kali, dan juga diantara para pelanggan dan terapisnya ada yang berusia masih di bawah umur.

Dari kalangan mana saja pelanggan yang datang selama bekerja di sini?

Ya, beragam, biasanya sih buruh pabrik dan para mister jepang atau korea, karena memang lokasinya yang deket Kawasan industri.

Pekerjaan ini sangat rentan dengan penularan penyakit kelamin, memang tidak khawatir?

Setiap dua minggu sekali, ada pengecekan kesehatan dengan dokternya yang datang ke sini. Kemudian lagipula kita mainnya pada pakai pengaman yang disiapin sendiri masing – masing.

Pertanyaan terakhir, pemilik tempat ini berasal dari mana dan apakah sering datang?

yang punya tempat ini orang korea, jarang ke sini, karena bisnis pijat dan spa – nya bukan hanya di sini, ada juga di Cikarang, Bekasi dan beberapa tempat lainnya.

Selama kurang dari satu jam atau sekitar 45 menitan saya mewawancarai Raya. Dari hasil wawancara itu dapat diambil kesimpulan, bahwa Raya melakukan pekerjaan itu karena faktor finansial yang menjadi motivasinya. Lalu pekerjaan itu berawal dari hanya seorang terapis yang kemudian terjerumus ke dalam praktek prostitusi terselubung.

Hal yang membuat saya agak miris adalah, anaknya mendapatkan asupan makanan dari uang hasil pekerjaannya itu.

Bagaimana akan ada berkahnya? Lalu bagaimana nasib masa depan anak itu nanti? Dalam tubuhnya mengalir darah dari makanan yang diperoleh dari pekerjaan prostitusi itu?  Entahlah. Yang jelas, Raya hanya salah satu dari banyak wanita yang ‘mungkin’ terpaksa terjun atau terjerumus ke dalam dunia prostitusi karena faktor ekonomi yang menghimpit mereka.

Menjadi PR kita bersama untuk menghilangkan praktek prostitusi ini dari Indonesia, khususnya Karawang. Semoga Karawang mampu terbebas dari jerat praktek prostitusi.

Oya, bagi segenap masyarakat untuk berhati – hati dalam memilih dan mengunjungi tempat pijit dan spa yang ada di Karawang. Jangan sampai ‘sengaja memilih’ atau terjebak ke tempat pijit dan spa berbahaya itu terutama bagi yang berusia masih di bawah umur.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Kopdar Bareng Kang Emil, Ini Inovasi Untuk Karawang

catatanmasarief.com - Menjawab persoalan pengangguran di Karawang kang Emil akan melakukan inovasi baru dalam agenda kopdar.

Baca Online Ebook Ilusi Demokrasi

Buku ini membahas tentang kritik Islam atas sistem kehidupan modern dan upaya umat Islam merestorasi cara hidup Islami sebagai jalan keluarnya.

Resume Buku Membangun Humas Gerakan (Part. 1)

catatanmasarief.com - Humas memiliki posisi yang sangat penting dalam sebuah organisasi gerakan, terutama bila banyak berinteraksi dengan masyarakat. Edo Segara mengupas tuntas dalam bukunya Humas Gerakan

Isti’ab, Meningkatkan Kapasitas Rekrutmen Dakwah

Tulisan kali ini ikhtisar dari sebuah buku buah tangan dari Syaikh Fathi Yakan dengan judul asli, Al-Isti’ab fi Hayatid-Da’wah wad Da’iyah, hasil jerih payah yang panjang dan dan buah berbagai pengalaman pahit dalam kancah perjuangan Islam

Menjaga Spirit 212 Dalam Kehidupan Sehari-hari

catatanmasarief.com - Tahun 2018 ini menjadi tahun kedua diselenggarakannya reuni 212. Suatu momen untuk menguatkan ukhuwah

Baca Online Ebook Self Driving

Saya tidak tahu apa yang ada di kepala Anda saat ini, tetapi saya tahu sesuatu yang mendasar tengah berubah di sebagian besar generasi muda bangsa ini.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: