Corona, Kenapa Masyarakat Pada Panik?

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Virus 2019-nCoV atau yang biasa dikenal virus Corona menjadi wabah yang menakutkan sejak pertama kali mewabah di Wuhan, Cina bagian tengah pada bulan Desember 2019.

Virus Corona yang kini secara resmi dikenal dengan nama Covid-19, disebut wabah menakutkan karena jumlah kasus secara global terus bertambah, meskipun demikian jumlah korban meninggal akibat virus ini mencapai 6 persen, artinya jumlah penderita yang sembuh lebih banyak daripada korban meninggal.

Dikutip dari CNN Indonesia, korban meninggal akibat virus Corona di seluruh dunia sampai pada hari ini, Kamis (5/3) telah mencapai 3.254 orang. Sedangkan mereka yang dinyatakan sembuh mencapai 51.171 orang.

Wabah virus Corona (Covid-19) menimbulkan kepanikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pemerintah menetapkan dua orang warga asal Depok, Jawa Barat positif terkena virus Corona, masyarakat Indonesia pun kemudian panik dan khawatir, bahkan sampai bisa disebut agak sedikit berlebihan.

Beredarnya informasi hoaks di media sosial dan pesan chat WhatsApp semakin menambah kepanikan di masyarakat. Terutama dua orang asal Depok tersebut yang semakin tertekan mentalnya akibat berita – berita hoaks mengenai mereka.

Setelah menetapkan bahwa Indonesia kini tidak berstatus negatif wabah Corona, Pemerintah menginginkan agar masyarakat tidak panik dan khawatir. Akan tetapi, dilansir dari pinterpolitik.com dalam temuan psikolog asal Amerika Serikat (AS) Daniel Kahneman dan Amos Tversky, cara penyampaian suatu informasi ternyata mempengaruhi cara penerima informasi dalam menafsirkan informasi yang diterimanya.

Melalui Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, dengan santai menyampaikan, masyarakat harus bergotong royong menghadapi virus yang sebenarnya biasa saja. Karena menurutnya, angka kematian penyakit flu biasa justru jauh lebih tinggi dari virus Corona.

Memahami pernyataan Terawan, boleh jadi, cara penyampaiannya akan menciptakan kesan bahwa pemerintah Indonesia – khususnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) – seolah memandang kasus virus Corona bukanlah persoalan besar, sehingga masyarakat diharapkan dapat lebih tenang.

Pernyataan Menkes Terawan tersebut tentu berdasarkan data statistik yang dimilikinya. Namun respon publik ternyata menunjukkan sebaliknya. Justru yang belakangan ini terjadi masyarakat menunjukan gejala Panic buying.

Panic buying adalah tindakan membeli sejumlah besar produk yang tidak biasa untuk mengantisipasi atau setelah bencana atau bencana yang dirasakan atau mengantisipasi kenaikan harga.

Masyarakat berbondong – bondong memborong barang – barang kebutuhan pokok, apalagi masker dan cairan pembersih tangan (Hand Sanitizer) yang telah lebih dulu langka karena diburu masyarakat.

Menkes, Terawan, masyarakat harus bergotong royong menghadapi virus yang sebenarnya biasa saja

Merujuk pada fakta ini, apakah mungkin dapat disimpulkan bahwa Menkes Terawan tidak memiliki kapabilitas untuk memahami psikologi publik?

Pada kasus hebohnya masyarakat karena virus Corona, efek tersebut terlihat jelas – di mana masyarakat memiliki ketakutan berlebih terhadap virus Corona. Pakar Ekonomi Unair, Gigih Prihantoro yang dilansir dari suarasurabaya.net mengatakan bahwa Panic buying terjadi karena pemberitaan terkait bahaya Corona yang seringkali dilebih – lebihkan.

- Advertisement -

Hal itu yang menyebabkan masyarakat mengalami kewaspadaan sehingga pikiran mereka tidak rasional lagi, ditambah lagi dengan berita – berita soal kelangkaan berbagai produk, akhirnya masyarakat berpikir, ‘kalau saya nggak cepat ambil barang, saya akan kehabisan barang’.

Dari sisi psikologis, dilansir dari South China Morning Post dalam suara.com, seorang profesor psikologi di Universitas Hongkong, Christian Chan mengatakan, tingkat kecemasan yang terlihat dalam gelombang panic buying baru – baru ini mencerminkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Kemudian di sisi lain, hasil penelitian profesor psikologi sosial di University of Sussex di Inggris, John Dury menerangkan bahwa nasihat ‘jangan panik’ yang disampaikan pemerintah dinilai lebih buruk dari tidak berguna.

Maksudnya, saran seperti itu didasarkan pada ketidakpercayaan pemerintah terhadap masyarakat. Pada akhirnya hal ini ‘menabur’ ketidakpercayaan karena ini dianggap menunjukkan ‘pemerintah menahan atau menutupi sesuatu dari publik’.

Lebih lanjut Dury menjelaskan bahwa pemberitaan tentang panic buying mendorong lebih banyak orang untuk melakukannya juga, yang tujuannya untuk melindungi diri sendiri.

Panic buying yang terjadi mengakibatkan stok ketersediaan barang di berbagai toko semakin langka sehingga harga pun melonjak tinggi.

Pemerintah Kurang Serius Menanggulangi Corona

Berbagai kebijakan pemerintah dalam menanggulangi kasus virus Corona ini dinilai kurang serius. Merujuk pada pendapat profesor psikologis sebelumnya, maka wajar jika kepercayaan masyarakat pada pemerinta saat ini berada pada titik terendah, sehingga masyarakat melakukan berbagai upaya untuk melindungi dirinya sendiri, bahkan ada anggapan nyawa begitu murah di Indonesia.

Membandingkan upaya negara lain dalam penanggulangan virus Corona, di Jepang seluruh sekolah diliburkan dan Disneyland ditutup sementara, Arab Saudi menutup dan menolak jama’ah dari berbagai negara yang hendak menunaikan ibadah umroh.

Segala langkah kebijakan yang dilakukan itu untuk membatasi turis asing masuk ke negaranya dan membatasi serta mengurangi aktivitas kerumunan massa.

Sementara di Indonesia sendiri, kebijakan pemerintah malah membuka peluang seluas – luasnya kepada turis asing untuk datang ke Indonesia. Berikut kebijakan – kebijakan ‘lucu’ dan ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi kasus virus Corona:

Sementara di Indonesia sendiri, kebijakan pemerintah malah membuka peluang seluas – luasnya kepada turis asing untuk datang ke Indonesia

Pertama, Pemerintah mengeluarkan kebijakan pemberian insentif tarif tiket pesawat untuk keperluan pariwisata. Pemerintah mengatakan bahwa Kebijakan ini untuk mengantisipasi dampak wabah Covid-19 terhadap sektor pariwisata nasional.

Kedua, Pemerintah menggelontorkan dana sebesar 72 miliar untuk influencer. Masih sama dengan kebijakan pertama, kebijakan ini untuk meningkatkan perekonomian dari sektor pariwisata.

Ketiga, Pemerintah kurang koordinasi dengan pemerintah daerah dalam menanggulangi virus Corona. Hal ini ditunjukan dari pernyataan Menkopolhukam, Mahfud MD mengambil tindakan dan memberikan pernyataan dalam menyikapi pengumuman positif virus Corona di Indonesia membuat heboh masyarakat.

Seperti diketahui bahwa beberapa Pemerintah Daerah seperti Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengambil langkah dengan membentuk Crisis Center dan Tim Tanggap untuk pencegahan virus Corona.

Tindakan para kepala daerah itu patut diapresiasi, justru pernyataan Mahfud MD itulah yang dinilai bahwa pemerintah kurang sigap dalam menanggulangi virus Corona.

Singkat kata, alih – alih menuding adanya Pemda yang mendramatisir virus Corona, bukankah pemerintah pusat sudah seharusnya meningkatkan koordinasi dan sinergi agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas terkait virus tersebut ataupun terkait penentuan kebijakan publik lainnya untuk menanggulangi virus Corona?

Gotong Royong Hadapi Virus Corona

Koordinasi dan Sinergitas antara pemerintah dan masyarakat sudah saatnya harus terbangun dan terjalin dengan baik. Pemerintah harus membangun kembali kepercayaan publik dengan memahami kondisi dan psikologis masyarakat untuk mengurangi kepanikan yang terjadi.

Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan – kebijakan yang memang dibutuhkan masyarakat, agar masyarakat merasa aman dan tenang dalam menghadapi wabah virus Corona ini. Segera ditinjau ulang atau bahkan menghentikan segala kebijakan yang telah dikeluarkan, kebijakan penanggulangan virus Corona yang selama ini membuat gaduh dan panik di masyarakat.

Segala kepanikan dan kehebohan yang belakangan ini terjadi dapat dikurangi atau bahkan dihentikan apabila antara pemerintah dan masyarakat benar – benar gotong royong dalam menghadapi wabah virus Corona. Dengan demikian segala dampak yang terjadi akibat wabah ini baik dari sektor kesehatan, sosial dan ekonomi dapat diminimalisir.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Jadilah Tokoh Publik dengan Memenuhi Tiga Level Personal Branding

Menjadi tokoh publik yang kredibel, kita harus memiliki personal branding yang baik. Caranya adalah dengan memenuhi tiga level dalam personal branding.

Karawang dan Tantangan Bonus Demografi

catatanmasarief.com - Pada rentang tahun 2020 hingga 2035 Karawang akan mengalami bonus demografi. inilah upaya yang dapat dilakukan dalam memanfaatkannya.

Implementasi Karakter Muslim Negarawan

Muslim Negarawan merupakan profil ideal yang terinterpretasi dari sosok ‘Pemimpin Masa Depan yang Tangguh’ sebagaimana termaktub dalam Visi KAMMI.

Ikhtisar Buku Humas Gerakan

catatanmasarief.com - Buku Humas Gerakan merupakan dokumentasi dari kumpulan makalah, tulisan dan file-file presentasi Edo Segara terkait kehumasan

Baca Online Ebook Api Sejarah 2

catatanmasarief.com - API SEJARAH Jilid Kesatu dan Kedua, mengangkat sejarah juang jihad Ulama dan Santri sejak abad ke 7 M hingga masa presiden RI ke 7.

Indahnya ‘Taman Baliho’ Karawang

catatanmasarief.com - Kota Karawang merupakan kota yang sangat indah dengan tata ruang kota yang dibangun dengan desain yang menyajikan modernitas dan kenyamanan bagi warganya

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

  1. Setelah ada positif korona akhirnya pemerintah melarang turis dari iran, korea, jepang dan cina. Sebuah langkah yang sebenarnya agak telat menurut saya.

    Setelah ini, harapannya jangan panic buying seperti yang terjadi di jakarta. satu2nya barng yang habis di daerah saya adalah masker, kalau logistik llain masih banyak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: