Ghazwul Fikri, Perang Tak Berdarah Yang Mematikan

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Sejak Allah Ta’ala mengusir iblis Laknatullah ‘alaihi dari surga-Nya karena kesombongan dan ketidakpatuhannya terhadap perintah-Nya, sejak saat itu iblis menyatakan perang terhadap manusia.

Perang antara Iblis dengan manusia digencarkan dengan beragam cara, hal itulah yang membuat manusia terbagi ke dalam dua golongan yakni golongan orang – orang beriman dan golongan kafir.

Golongan orang – orang beriman adalah golongan yang mengikuti Nabi dan Rasul beriman kepada Allah Ta’ala. Lalu golongan kafir adalah kebalikan dari golongan beriman, dan golongan inilah yang menjadi bala tentaranya Iblis dari jenis manusia.

Menelaah sejarah, permusuhan abadi golongan kafirin telah terjadi sejak dahulu lalu berlanjut pada peperangan dengan pasukan salibis Romawi dan Persia, beserta musuh dalam selimut yaitu Yahudi dan kaum munafikin.

Besarnya rasa permusuhan golongan kafirin ini diabadikan Al Qur’an dalam firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al Maidah : 82)

Jika dulu permusuhan terjadi dengan kontak fisik melalui peperangan dan penindasan, kini cara yang mereka lakukan adalah dengan cara yang lebih halus namun mematikan, yaitu Ghazwul Fikri.

Mengenal Ghazwul Fikri

Secara Bahasa, ghazwul fikri terdiri dari dua suku kata yaitu ghazwah dan fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi. Sedangkan fikr berarti pemikiran. Jadi, secara bahasa ghazwul fikri diartikan sebagai invansi pemikiran.

Perang pemikiran atau ghazwul fikri adalah sebuah cara lain dari musuh Islam untuk menghadapi umat Islam dalam merusak sendi – sendi Islam secara keseluruhan.

Perang pemikiran ini berbeda dengan perang militer atau fisik. Perang pemikiran lebih “mudah”, hemat waktu dan biaya bahkan lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Dalam Al Qur’an, perang pemikiran (Ghazwul fikri) sendiri pertama kali dilakukan oleh iblis Laknatullah ‘alaihi kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al A’raf ayat 22

“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah memakan buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Dalam ayat itu Iblis Laknatullah ‘alaihi memperdaya Adam ‘alaihissalam dan istrinya dengan menyimpangkan makna perintah Allah Ta’ala sesuai dengan keinginannya, yaitu menambahkan alasan pelarangan Allah Ta’ala yang dibuat sendiri yang Adam ‘alaihissalam dan istrinya tidak punya pengetahuan tentang sebab tersebut.

- Advertisement -

Sehingga ghazwul fikri (perang pemikiran) merupakan penyimpangan fakta dan informasi yang ada agar sesuai dengan maksud jahat melalui cara yang sangat halus dan licin serta masif.

Dalam buku syarah Rasmul Bayan, Ustadz Jasiman, Lc., mengatakan target dari ghazwul fikri ini adalah berubahnya pribadi – pribadi muslim sehingga menjadi orang – orang yang memberikan al Wala – u lil kafirin (Loyalitas, kesetiaan, dan kecintaan kepada orang – orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala).

Ghazwul fikri (perang pemikiran) merupakan penyimpangan fakta dan informasi yang ada agar sesuai dengan maksud jahat melalui cara yang sangat halus dan licin serta masif

Kemudian untuk mewujudkan target besar itu, ada empat langkah yang dilakukan dalam ghazwul fikr. Pertama, Ifsadul akhlaq (merusak akhlak), yaitu memporak – porandakan etika dan moral kaum muslimin sehingga tidak lagi berakhlak sesuai etika dan moral ajaran Islam.

Kaum muslimin diserbu dengan budaya permissivisme (paham serba boleh), hedonisme (paham memburu kelezatan materi), gemar bersenang – senang, mencabut nilai – nilai kesopanan, kesantunan, dan rasa malu dari kalangan pria maupun wanita.

Kedua, Tahthimul fikrah (menghancurkan pemikiran), yaitu mengacaukan pemahaman kaum muslimin dengan memunculkan berbagai macam isme – isme yang asing dan bertentangan dengan ajaran Islam, seperti, marheinisme, sekulerisme, komunisme, liberalisme, dan lain-lain.

Ketiga, Idzabatus syakhsiyyah (melarutkan kepribadiaan), yaitu menggoyahkan sikap hidup kaum muslimin sehingga enggan beramar ma’ruf nahi munkar dan bahkan bersikap mujamalah (basa – basi), toleran atau ikut – ikutan kepada orang – orang yang menyimpang dari nilai – nilai ajaran Islam.

Misalnya dengan dalih HAM, tidak sedikit kaum muslimin ikut – ikutan mentolerir, bahkan melegalkan hal – hal yang bertentangan dengan nilai – nilai agama. Contoh, lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Keempat, Ar-Riddah (murtad), yaitu melepaskan kewajiban agama, mengingkarinya, bahkan keluar dari agama.

Menurut Ali Abdul Halim Mahmud dalam buku Al – Ghazwul Fikri wat Tiyaratul Muadiyah Lil Islam, ghazwul fikri (perang pemikiran) merupakan suatu upaya untuk menjadikan bangsa yang lemah atau sedang berkembang, tunduk kepada negara penyerbu.

Semua negara, negara Islam khususnya, agar selalu menjadi pengekor setia negara – negara maju, sehingga terjadi ketergantungan di segala bidang.

Semua bangsa, khususnya bangsa Islam, mengadopsi ideologi dan pemikiran kafir secara membabi buta dan serampangan, berpaling dari manhaj Islam, Al Quran dan Sunnah.

Kemudian bangsa – bangsa mengambil sistem pendidikan dan pengajaran negara – negara penyerbu serta menggunakan bahasa penyerbu.

Umat Islam terputus hubungannya dengan sejarah masa lalu, sirah nabinya dan salafus saleh. Menanamkan moral, tradisi dan adat – istiadat bangsa penyerbu di negara yang diserbunya.

Tahapan Dalam Ghazwul Fikri

Mengutip dari Tarbawiyah.com, ghazwul fikri yang dilancarkan oleh musuh – musuh Islam dilakukan secara bertahap melalui tiga fase. Pertama al – Inhilal, yaitu masa – masa degradasi kekuatan kaum muslimin.

Kedua, al – Ihtilal, yaitu fase pendudukan, perampasan, atau penjajahan terhadap umat Islam, dan ketiga, fase Ma ba’dal ihtilal, yaitu masa setelah pendudukan, perampasan, atau penjajahan terhadap umat Islam.

Syaikh Nabil bin Abdurrahman Al-Muhaisy dalam buku al – Ghazwul Fikri lil ‘Alamil Islami mengatakan, pada fase pertama al – Inhilal musuh – musuh Islam melakukan aktivitas yang menjadi strategi mereka.

Pertama, al – Istisyraq (orientalisme), yaitu sebuah studi yang dilakukan oleh para orientalis terhadap Islam mengenai budaya, bahasa, sejarah, agama, kondisi sosial, ekonomi, politik, dan segala sesuatu yang berkaitan umat Islam.

Orientalisme ini dilakukan dengan empat dasar motivasi. Pertama, Motivasi imperialisme, yaitu menjadikan orientalisme sebagai langkah awal dari sebuah rencana invasi militer atau penguasaan negara lain.

Kedua, Motivasi agama, yaitu menebarkan agama dengan cara melemahkan keyakinan orang lain terhadap agamanya. Mereka menebarkan keraguan terhadap kebenaran risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga, Motivasi ilmiah, yaitu ada diantara mereka yang mempelajari Islam dengan motivasi ilmiah semata.

Lalu keempat, motivasi ekonomi, yaitu melakukan studi dengan tujuan untuk menguasai pasar dunia Islam, menguasai lembaga ekonomi, mengeksploitasi sumber daya alam, menjadikan negara – negara kaum muslimin sebagai konsumen produk – produk negara Eropa.

Kemudian Kedua, at – Tanshir (kristenisasi), yaitu upaya orang – orang kristen dalam mengajarkan agama Kristen dan menyebarkannya ke berbagai negara. Namun, kenyataannya kristenisasi ini hanyalah menjadi tujuan sekunder. Tujuan utama mereka adalah imperialisme.

Ketiga Taqthi’u ashali daulatil khilafah (memutuskan hubungan umat Islam dengan daulah khilafah), yaitu upaya menghancurkan daulah khilafah Islamiyah dengan memecah belah umat Islam melalui cara menebarkan ide nasionalisme di wilayah negeri – negeri muslim.

Selanjutnya masih dalam buku Al-Ghazwul Fikri lil ‘Alamil Islami. Pada fase kedua,  al – Ihtilal, musuh – musuh Islam semakin gencar melakukan aktivitas orientalisme dan kristenisasi.

Selain itu mereka juga berupaya melakukan fashlud Dini ‘anid daulah (memisahkan urusan agama dari kenegaraan), Nasyrul qaumiyyah (menyebarkan faham nasionalisme / kebangsaan), dan Isqatul khilafah (meruntuhkan khilafah).

Fase kedua ini virus – virus pemikiran secara masif masuk ke berbagai bidang kehidupan kaum muslimin, diantaranya melalui at – Ta’lim (Pendidikan), al – I’lam (Media) dan al Qanun (Undang – undang).

Berikutnya fase Ma ba’dal ihtilal, atau bisa disebut  pula fase setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Pada masa inilah terjadi at – Taghyir (perubahan) yang demikian besar di dunia Islam, yaitu perubahan as – Siyasiy (politik), Ijtima’i (sosial kemasyarakatan), dan Khuluqiy (moralitas).

Tahapan ghazwul Fikri ada tiga fase, fase pertama al-Inhilal, kedua al-Ihtilal, dan ketiga Ma ba’da al Ihtilal

Umat Islam kini telah berada pada fase ketiga, dimana dampak dari bahayanya ghazwul Fikri (perang pemikiran) telah menimpa setiap sendi kehidupan umat Islam.

Bahaya yang timbul bukanlah rasa sakit atau luka fisik, akan tetapi rusaknya moral, hancurnya pemahaman, larutnya kepribadian, dan pembangkangan dari ajaran agama.

Dampak Ghazwul Fikri

Umat Islam kini telah tertipu dan terpedaya oleh musuh – musuh Islam, karena silau pada kekuatan dan kemajuan materi serta konsep-konsep dan pemikiran ataupun  peradaban asing.

Lalu umat Islam memiliki rasa kecenderungan bahkan mencintai dan berkasih sayang kepada orang – orang kafir yang memusuhi Islam dengan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang dan toleransi terhadap keburukan yang mereka lakukan.

Setelah mencintai, umat Islam menaati keinginan orang – orang kafir dan mengikuti petunjuk – petunjuk mereka. Sehingga kemudian betul – betul menyerupai mereka baik dalam corak pemikiran, perilaku, dan tampilan fisik.

Lalu Inilah akhirnya yang terjadi. Muncul dalam tubuh umat Islam orang – orang yang menyerahkan loyalitasnya kepada orang – orang kafir dan musuh – musuh Islam. Mereka mencintai, menolong, mengikuti dan mendekat kepada mereka.

Ghazwul fikri (perang pemikiran) akan menyeret seorang muslim kepada al – Hayatul jahiliyyah (kehidupan jahiliyyah). Dimana sifat, sikap, kondisi, dan perilakunya tidak sejalan dengan nilai – nilai ajaran Islam.

Wallahua’lam.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Adakah Rasulullah Dalam Hidup Kita?

catatanmasarief.com - Ada hal yang meresahkan hati dan pikiran saya, bertahun – tahun memperingati maulid, mendengar kajian dan ceramah maulid, adakah Rasulullah dalam hidup kita, terutama pada saya pribadi?

Resume Buku Syarah 10 Muwashafat (Part. 2)

catatanmasarief.com – Buku Syarah 10 Muwashafat mengkaji tuntas tentang sejumlah karakter dan muwashafat orang – orang yang sempurna keimanannya. Berikut ini seri kedua dari ikhtisar Buku Syarah 10 Muwashafat.

Waspada! Prostitusi Berkedok Spa di Karawang

catatanmasarief.com - Namun kemudian saya ditawari untuk pelayanan “plus – plus”, karena sudah janda, ya akhirnya bersedia, sudah terlanjur jadi sekalian deh. Lumayan untuk nambah penghidupan anak.

Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin

catatanmasarief.com - Buku Perangkat - Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin merupakan himpunan studi terhadap tarbiyah Ikhwanul Muslimin

10 Cara Edukatif Selama Libur Pencegahan Covid-19

Selama 14 hari liburan sekolah masa pencegahan Covid-19 dapat diisi dengan berbagai kegiatan edukatif agar anak tetap produktif dan menjaga prestasi akademiknya.

Baca Ebook Teach Like Finland

Buku ini memuat rahasia tentang strategi dan anjuran - anjuran yang sangat mudah dipraktekkan dari sistem pendidikan kelas dunia.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

  1. Nemu tulisannya di wall grup FB WB. Akhirnya ada yang bahas ini. Nggak akan ada habisnya dan selalu suka nyimak tulisan/ceramah ttg ghazwul fikr.

    Salam kenal mas.

    • Iya mas betul, selalu menarik untuk didiskusikan agar kita semakin bertambah wawasannya tentang Ghazwul Fikr dan waspada.

      Salam kenal kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: