Advertisement

Strategi Saat Kerja di Rumah Akibat Wabah Corona

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Demi mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19), beberapa negara mulai menerapkan kebijakan Lockdown bagi segenap warga negaranya, sehingga para pegawai dinas pemerintahan dan perusahaannya mulai Kerja dari Rumah (KDR) atau Work From Home (WFH).

Di Indonesia sendiri, belum menerapkan kebijakan Lockdown, namun kebijakan Kerja dari Rumah (KDR) bagi dinas pemerintahan di beberapa daerah, instansi pendidikan dan beberapa perusahaan sudah mulai diterapkan sejak senin kemarin.

- Advertisement -

Selama periode ini, kita diminta untuk tetap bertanggung jawab atas pekerjaan, sembari terus menjaga kesehatan dan tetap waspada untuk mengurangi risiko penularan penyakit Corona, bagi pribadi dan keluarga.

Bagi ribuan orang tua, bekerja di rumah alias bekerja jarak jauh merupakan tantangan ekstra. Sebab orang tua harus mencoba menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan rumah tangga. Di sisi lain wabah penyakit dari virus Corona tetap jadi perhatian.

Penerapan kebijakan Kerja dari Rumah (KDR) atau Work From Home (WFH) bukan hanya menjadi tantangan produktivitas bagi para orang tua dalam bekerja di rumah. Hal ini juga menjadi tantangan bagi anak yang mana sebagai pelajar. Mereka pun juga dituntut untuk tetap produktif dalam belajar guna menjaga prestasinya. Baca 10 cara edukatif selama libur pencegahan Covid-19.

KDR dalam konteks sekarang bukan karena didesain dari awal. Namun lebih karena “kecelakaan”, sehingga dalam prakteknya, penerapan KDR tidak sesederhana seperti diucapkan.

Tantangan dalam penerapan KDR ini ada pada persiapan syarat teknis dan non teknis yang perlu diperhatikan dan dipenuhi, baik itu dari karyawan maupun lembaganya.

Menurut AM Lilik Agung seorang Bussiness Trainer dalam kompas.com, syarat teknis yang perlu disediakan adalah perkakas kerja (laptop atau komputer), jaringan internet, data yang mudah diunduh, dan perkakas komunikasi lainnya yang memudahkan karyawan untuk saling berinteraksi dengan karyawan lainnya.

Selain itu, syarat teknis lainnya adalah ruangan khusus di rumah untuk bekerja, atau tidak perlu khusus yang penting nyaman selama digunakan untuk bekerja.

Dari syarat teknis saja tidak sedikit karyawan yang mengalami hambatan karena kurangnya persiapan, tantangan yang biasa ditemui dari syarat teknis ini diantaranya banyak rumah karyawan yang tidak siap untuk dijadikan tempat bekerja. Entah karena memang ruang rumahnya terbatas sehingga tidak nyaman untuk bekerja, maupun jaringan internet (komunikasi lain) yang terbatas.

Di sisi lain, bagi perusahaan sendiri dalam mempersiapkan syarat teknis ini berbeda – beda tantangan yang dihadapinya. Misalnya Tokopedia, Bukalapak dan semacamnya, perusahaan yang lahir dan tumbuh di era digital dan para karyawannya pun kebanyakan kaum millenial.

- Advertisement -

Perusahaan platform digital itu meski biasanya penerapan sistem kerjanya konvensional, artinya bekerja di kantor, dalam mempersiapkan syarat teknis untuk menerapkan kebijakan KDR masih dapat dilakukan.

Lalu bagaimana dengan perusahaan – perusahaan otomotif, tekstil atau pembuat makanan yang sistem kerjanya sangat bergantung pada kehadiran karyawan ke tempat kerja?

Dilansir dari oto.detik.com, bahwa perusahaan otomotif turut melakukan pencegahan virus corona di lingkungan kerjanya. Meski belum diliburkan secara total, beberapa perusahaan otomotif melakukan antisipasi agar tak ada pekerja yang terjangkit virus corona.

Artinya bagi perusahaan sendiri persiapan teknis ini merupakan tantangan tersendiri, dan harus benar – benar dipersiapkan dengan baik agar produktivitas karyawan tidak menurun.

Kemudian syarat yang lebih penting dari syarat teknis adalah non teknis. Ini berhubungan dengan budaya kerja. Memindahkan budaya kerja yang sudah terbentuk dari kebiasaan bekerja di kantor menjadi bekerja di rumah, perlu penyesuaian yang tidak mudah.

Sistem yang berjalan di tempat kerja membentuk kebiasaan karyawan dalam pengelolaan waktu, sistematika bekerja dan interaksi yang langsung terhubung dengan karyawan lain. Sementara ketika KDR tidak ada sistem yang mengatur.

Kedisiplinan diri yang ketat pada batas waktu (deadline) dan fokus pada pekerjaan menjadi sebuah keharusan. Khusus bagi karyawan yang mempunyai anak balita atau anak usia sekolah, juga menjadi tantangan sendiri.

Mengubah pola pikir bahwa jam kerja ketika di rumah adalah waktu untuk bekerja bukan waktu untuk keluarga, bukan perkara mudah. Terlebih bertemu dengan keluarga terbatas pada pagi hari ketika mau berangkat, dan malam hari ketika pulang dari kerja. Konsentrasi akan terbagi untuk keluarga dan pekerjaan.

Strategi Agar Tetap Produktif Saat KDR

- Advertisement -

Bekerja dari rumah menjadi pilihan bagi banyak karyawan pada saat ini. Bagaimana agar perpindahan tempat kerja ini tetap membuat karyawan produktif?

Dikutip dari berbagai sumber, berikut strategi yang bisa dilakukan agar tantangan bekerja di rumah dapat diatasi agar produktivitas tidak menurun.

Pertama, mempersiapkan diri dengan mengubah pola pikir bahwa saat ini di rumah adalah waktu untuk bekerja.

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan mempersiapkan kondisi rumah agar kondusif untuk bekerja. Mulai dari berkordinasi dengan segenap keluarga, sampai memenuhi kebutuhan pribadi untuk menjaga kesehatan mental dan fisik yang dapat menunjang produktivitas selama bekerja di rumah.

Setelah itu, kedua mendisiplinkan diri secara ketat. Bekerja sesuai jam kerja kantor. Kemudian meluangkan waktu untuk bercengkerama bersama keluarga atau mengerjakan hobi yang lain pada jam istirahat, tidak menjadi soal. Hanya saja skala prioritasnya perlu ditentukan.

Meminjam kuadran Eisenhower, pekerjaan kantor tetap menjadi kuadran penting yang mendesak. Sedangkan bertemu keluarga atau mengerjakan aktivitas lain adalah kuadran penting namun tidak mendesak.

Meminjam kuadran Eisenhower, pekerjaan kantor tetap menjadi kuadran penting yang mendesak.

Strategi pertama dan kedua di atas lebih ditekankan pada pemenuhan syarat non teknis dalam KDR, yaitu menghadirkan budaya kerja di rumah.

Selanjutnya syarat teknis. Strategi ketiga, menentukan ruangan yang nyaman untuk bekerja. Ruangan itu bisa ruangan khusus atau kamar pribadi yang disesuaikan agar nyaman untuk bekerja.

Keempat, pastikan perkakas pendukung kerja (laptop, komputer, jaringan internet, alat komunikasi atau apapun yang biasa dipakai saat bekerja) dapat digunakan dengan maksimal.

Perkakas kerja merupakan senjata utama untuk KDR. Bekerja dari rumah sifatnya individu bukan komunal seperti ketika bekerja di kantor. Alhasil perkakas pendukung kerja menjadi faktor mutlak untuk menuntaskan pekerjaan.

Kelima, apabila dalam keadaan biasa bekerja dalam bentuk tim, dalam KDR ini komunikasi dengan tim hal yang perlu dibangun.

Dengan menetapkan jadwal video conference call atau dengan memberikan laporan secara berkala kepada tim, bisa membantu rekan kerja mengetahui apa yang sedang kita lakukan, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk menyesuaikan.

Sehingga penggunaan gadget bisa fokus pada hal – hal penting yang menunjang produktivitas dalam bekerja di rumah.

Beraktivitas di rumah selama 14 hari ini bukan berarti libur dan bebas bepergian kemana saja. Masa itu tetap untuk bekerja dari rumah guna mencegah penularan virus Covid-19. Menjadi momentum untuk pembuktian, bahwa produktivitas bekerja di rumah tidak kalah dengan bekerja di kantor.

Selamat bekerja dengan kinerja yang justru bertambah optimal. Semoga bermanfaat.

- Advertisement -
Apa yang kamu rasakan?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Advertisement

Must Read

Advertisement

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: