Ikhtisar Buku Selamatkan Indonesia

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Kenyataan bahwa globalisasi sangat besar pengaruhnya bagi bangsa Indonesia, ada dampak positif dan juga banyak sekali dampak negatif. Bisa kita lihat sekarang ini Indonesia mengalami krisis jati diri dan semakin berkurangnya rasa nasionalisme.

Banyak budaya kita yang diklaim oleh malaysia, misalnya saja Reog Ponorogo, bukan hal sulit bagi malaysia untuk mengklaim bahwa budaya tersebut adalah milik malaysia, ini dikarenakan bahwa jati diri sebuah bangsa sudah rapuh, tidak ada yang melestarikan budaya – budaya Indonesia.

Bukan hanya itu kekayaan Indonesia yang melimpahpun sudah dijarah bangsa asing, politikpun juga atas pengaruh bangsa asing, bangsa asing di nomor satu kan tapi nasib rakyat Indonesia masih banyak yang dapat dikategorikan orang miskin,itulah akibat dari kurangnya nasionalisme bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia saat ini sedang terjajah seperti ketika penjajah datang ke Indonesia, mereka menguasai Indonesia, mereka merampas kekayaan alam kita, mereka merampas semua yang kita miliki demi kesenangan mereka. Tapi kita tidak merasakan itu, karena kita tidak dijajah secara fisik dan militer namun dijajah kemandirian dan kedaulatan kita.

Seperti yang dikatakan oleh Bapak Amien Rais “Bangsa Indonesia telah tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri”.

Bangsa Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh bangsa asing bahkan dapat dikatakan patuh terhadap bangsa asing. Munculnya para elite nasional  di negara ini yang tunduk terhadap bangsa asing, menyebabkan eksploitasi dan destruksi yang semakin meluas. Hal ini muncul bersamaan dengan adanya globalisasi.

Pada zaman dahulu V.O.C berjaya di Indonesia karena ada beberapa raja yang membukakan pintu lebar-lebar untuk bangsa Belanda, dan itu terulang di Indonesia ketika semua negara tidak ada yang menyambut kedatangan Presiden Bush, justru Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambutnya seperti maharaja diraja.

Dengan adanya globalisasi, masyarakat dipengaruhi secara ekstensif dan lebih intensif  oleh peristiwa yang terjadi di masyarakat lain. Peristiwa tersebut berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Globalisasi juga menyangkut berbagai dimensi budaya, lingkungan hidup, keuangan, perdagangan, teknologi serta perpindahan manusia.

Menurut Bank Dunia (World Bank) globalisasi ekonomi adalah proses sharing kegiatan ekonomi dunia yang berjalan melanda semua masyarakat di berbagai negara dengan mengambil 3 bentuk kegiatan, yaitu perdagangan internasional, investasi asing langsung dan aliran pasar modal.

Jan Aart Scholtc menggambarkan 5 definisi luas tentang globalisasi yaitu :

Pertama, globalisasi sebagai internasionalisasi, diantara negara terjadi saling tukar dan saling ketergantungan internasional, terutama menyangkut modal dan perdagangan.

Kedua, globalisasi sebagai liberalisasi, proses pemusnahan berbagai restriksi politik sehingga ekonomi dunia menjadi lebih terbuka dan tanpa batas.

Ketiga globalisasi sebagai universalisasi informasi, komunikasi, transportasi dan berbagai kegiatan masyarakat dunia lainnya.

- Advertisement -

Keempat, globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi, merebaknya struktur modernitas barat (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme dan birokratisme) yang cenderung merusak budaya lokal yang sudah ada sebelumnya. Lalu kelima, globalisasi sebagai deteroterialisasi, ruang sosial tidak lagi dipetakan berdasarkan peta, jarak dan batas teritorial.

Tiga institusi pilar yang menopang globalisasi adalah IMF (International Monetary Fund), Bank Dunia (World Bank) dan WTO (World Trade Organization).

John Williamson adalah orang yang pertama kali mengamati ketiga lembaga tersebut disatukan dengan ideologi yang bernama Washington Consensus. Williamson juga merekomendasikan sepuluh langkah perbaikan ekonomi.

Langkah perbaikan itu yaitu perdagangan bebas, liberalisasi pasar modal, nilai tukar mengambang, angka bunga ditentukan pasar, deregulasi pasar, transfer aset dari sektor publik ke sektor swasta, fokus ketat dalam pengeluaran publik pada berbagai target pembangunan sosial, anggaran berimbang, reformasi pajak dan perlindungan atas hak milik dan hak cipta. IMF, World Bank dan WTO menentukan arah globalisasi, menentukan aturan-aturan yang harus diikuti, memberikan hadiah serta memberikan hukuman pada negara yang menentang.

Dengan kekuasaan tersebut, Washington konsensus bermaksud untuk menghancurkan seluruh rintangan nasional terhadap perdagangan, mengakhiri proteksionisme, memperluas pasar dan zona bebas, dan memungkinkan mengalirnya modal kemana saja dengan kendala dan regulasi minimal.

Margaret Thatcher membuat istilah pada waktu itu yang dikenal dengan nama TINA (There Is No Alternative), maksudnya tidak ada pilihan lain bagi semua negara dan semua negara harus memahami serta menyesuaikan diri dengan TINA.

Namun saat ini perkembangan globalisasi menjadi semakin layu, yang dikarenakan adanya imperialisme ekonomi yang ternyata cukup menyengat dalam proses globalisasi. Presiden Soekarno sebelumnya pernah mengatakan bahwa akan adanya neokolonialisme, yaitu dimana kita hidup berada di bawah kendali agen-agen mantan penjajah kita.

Imperialisme dan kolonialisme pada tempo dulu bercirikan 3 hal yaitu, ada kesenjangan kemakmuran antara penjajah dan negara terjajah, hubungan antara kaum penjajah dan terjajah adalah hubungan yang eksploitatif atau bersifat menindas, dan negara terjajah sebagai pihak yang lemah, kehilangan kedaulatan dalam arti luas.

Menurut pengamatan Chomsky, kejahatan kebanyakan korporasi dalam melanggar HAM yang merusak lingkungan dan menguras kekayaan alam negara-negara berkembang memang sulit dijangkau oleh hukum dan politik dari negara yang menjadi korban globalisasi. Dari dampak imperialisme ekonomi inilah yang mengakibatkan kesenjangan kaya-miskin menjadi semakin nyata terlihat.

Pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an globalisasi yang didasarkan pada neoliberalisme berjalan sangat lancar bagi kepentingan negara-negara besar. Tujuannya adalah menggusur peran negara dengan lembaga swasta dan melepaskan kekuatan ekonomi dari belenggu regulasi sehingga ekonomi pasar bebas dapat bergerak seluas mungkin. Suatu contoh negara yang terpaksa kehilangan kedaulatan ekonomi adalah Indonesia, saat itu pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Stiglizt, dalam bukunya berpendapat bahwa ekonomi pasar bebas tidak pernah menghasilkan efisiensi karena adanya informasi asimetris dari pelaku pasar, kritik ini ditujukan untuk IMF. Sudah seharusnya pembangunan berkelanjutan yang dijalankan di Indonesia bukan saja menuntut liberalisasi dan privatisasi namun juga disertai program – program yang dapat menjamin kesejahteraan rakyat Indonesia.

IMF tidak hanya memaksa para pejabat negara untuk melanggar kontrak sosial, bahkan IMF juga tidak memperdulikan adanya kebutuhan pokok yang mendasar. IMF tidak berfikir panjang dalam memberikan solusi ekonomi bagi negara-negara berkembang. Amerika yang menjadikan IMF sebagai instrumen politik luar negerinya, menentukan semua langkah IMF dan Bank dunia serta pada umumnya membuat kerugian pada negara berkembang.

WTO sebagai simbol kesenjangan dan kemunafikan negara-negara industri maju, mereka memaksa negara berkembang untuk membuka selebar-lebarnya pasar untuk produk mereka namun mereka menutup rapat-rapat pasar mereka untuk produk negara berkembang. WTO menjadikan negara berkembang menjadi miskin dan tidak memperoleh keuntungan secara wajar. WTO tidak mengelola ekonomi global secara adil, hanya menguntungkan negara-negara kaya dan korporasi multinasional.

Seharusnya Indonesia sebagai negara berkembang yang kaya akan sumber daya alamnya bisa membangun negara ini menjadi lebih maju di masa depannya, namun kenyataan yang terjadi ternyata Indonesia semakin terpuruk dengan adanya eksploitasi sumber daya alam yang ada. Negara – negara barat hanya membutuhkan kekayaan alam Indonesia saja, mereka memiliki kepentingan lain yang tidak berkaitan dengan upaya memakmurkan Indonesia.

Dalam prakteknya Indonesia lebih memberikan keuntungan besar bagi negara asing. Jika Indonesia lebih berani dalam menegosiasi ulang kontrak karya pertambangan, Indonesia akan mendapat keuntungan lebih besar dari pada yang didapat oleh investor asing, serta menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing, misalnya saja migas.

Para pemimpin Indonesia seharusnya lebih sadar akan akibat yang ditimbulkan, Indonesia akan lebih sengsara bila kekayaan alamnya habis dan masih banyak penduduk Indonesia yang miskin.

Impian Pax Americana tumbuh pada masa Clinton. Mereka ingin perlunya supremasi militer yang tak tertandingi oleh negara manapun. PBB juga harus bisa dikuasai. Cikal bakalnya adalah Defense Planning Guide dari tahun 1992 yang dirancang antara lain oleh Paul Wolfowitz mantan dubes AS di Indonesia. Gagasan intinya adalah anggaran pertahanan harus diperbesar sehingga kesaktian militer AS tidak akan tertandingi siapapun.

Serangan pendahuluan dan pencegahan boleh dilakukan di manapun dan kapanpun bila memenuhi kepentingan global AS. Amerika berhak mengintervensi konflik di mana saja walaupun tidak dalam kepentingan langsungnya apabila masih dalam kepentingan sekutunya atau demi memeiliohara stabilitas internasional.

Gagasan ini dikembangkan dalam Rebuilding America’s Defenses pada September 2000. Para tokohnya seperti Dick Cheney, Paul Wolofowitz dan lain – lain masuk ke pemerintahan Bush. Pada 2002 Gedung Putih menerbitkan dokumen The National Security of the  United States of America. Intinya diambilkan dari R.A.D.

 

Korporatokrasi adalah sistem kekuasaan yang dikontrol oleh berbagai korporasi besar, bank – bank Internasional dan pemerintahan. Kata Perkins, elit baru yang telah berketetapan hati untuk menguasai planet bumi. Mereka berambisi menguasai dan menguras kekayaan bumi dan membangun sistem atau mesin kekuasaan untuk menciptakan imperium global.

Tujuan mereka adalah laba maksimal dengan biaya dan waktu minimal. Semua cara untuk mendapatkannya bisa ditempuh. Akibatnya banyak terjadi skandal. Mereka melakukan banyak kejahatan seperti corporate crime alias white collar crime yang lebih dahsyat daripada kejahatan jalanan.

Mereka mampu mendiktekan pembuatan undang undang. Mereka juga memiliki kekuatan politik sehingga selalu menang bila dibawa ke proses hukum. Banyak jaksa dan hakim membela korporasi dan menghindari keadilan. Lembaga hukum yang ada umumnya tidak memiliki keberanian menjangkau kejahatan korporasi.

Secara teoritis pemerintah lebih kuat daripada korporasi karena memiliki lembaga penegak hukum, kekuatan militer dan legitimasi dari rakyat. Kenyataannya banyak pemerintah yang tunduk pada korporasi. Eksekutif, legislatif dan yudikatif hormat dan takut pada korporasi.

Cara termudah korporasi menguasai pemerintah adalah dengan memberi dana kampanye kepada calon presiden gubernur, walikota, bupati. Setelah menang maka mereka akan membalas budi. Cara lebih efektif korporasi Amerika menguasai pemerintah adalah langsung menduduki pos pos kekuasaaan.

Cara yang dilakukan oleh Condoleezza Rice direktur Exxon dan Dick Cheney CEO Halliburton dan Donald Rumsfeld dari ABB. Bahkan Bush sendiri adalah mantan pengusaha minyak. Itulah sebabnya perebutan Irak disebabkan oleh ambisi minyak seperti kata Henry Kissinger dan Alan Greenspan.

Cara termudah korporasi menguasai pemerintah adalah dengan memberi dana kampanye kepada calon presiden gubernur, walikota, bupati. Setelah menang maka mereka akan membalas budi

IMF dan Bank Dunia (World Bank) berperan sebagai instrumen untuk membela kapitalisme internasional, mengupayakan keuntungan maksimal bagi korporasi besar dan melestarikan dominasi ekonomi Amerika.

Bank Dunia (World Bank) memberi bantuan mendanai proyek jalan, waduk, jembatan, pembangkit listrik, pelabuhan. sekolah, dan infrastruktur lain. IMF membantu negara mencapai stabilitas finansial dan memberikan arahan (tekanan) apa yang harus dilakukan.

Negara penerima hutang harus tunduk pada syaratnya seperti menjual BUMN, lupakan atau minimkan anggaran untuk kesehatan, pendidikan, perawatan anak, dan dana pensiun. Deregulasi, membuka pasar untuk perdagangan bebas, mengurangi subsidi industri lokal, dan memperkecil tarif impor juga harus dilakukan. Nilai tukar uang juga tidak boleh dipatok. Ini semua bersumber dari Washington Consensus.

Penolakan terhadap resep itu datang dari berbagai kalangan seperti akademisi dan bahkan pemerintah seperti Hugo Chavez dari Venezuela, Rafael Correra dari Ecuador, Evo Morales dari Bolivia, Lula da Silva dari Brazil, dan Nestor Kirchner dari Argentina. Ternyata mereka malah mengalami kemajuan ekonomi. Ekonomi Argentina lima tahun terakhir ini tumbuh 8,6% per tahun.

Michael Chussudowski mengatakan bahwa militer Amerika memiliki tautan erat dengan lembaga lembaga keuangan internasional,  perusahaan minyak dan lain lain sehingga kepentinagn mereka identik. Militer Amerika sudah menjadi sebuah pelayanan perlindungan minyak global.

Meskipun dalam teori demokrasi media massa termasuk dalam wilayah demokrasi keempat, dalam prakteknya mereka juga menjadi hamba korporasi. Di Amerika sendiri media massa utama yang mampu membentuk opini publik telah menjadi alat kepentinagn korporasi. Mereka menyuarakan kepentingan korporasi besar.

Ada empat filter bagi mereka. Pertama ukuran, kepemilikan, dan orientasi profit. Media mereka dimiliki korporasi besar seperti General Electric, Walt Disney, Viacom, AOL-Time Warner, Carlyle Group, Coca Cola dan lain lain. Sudah ada beberapa wartawan yang dipecat karena tidak tunduk kepada kepentingan mereka.

Kedua, kekuatan korporasi untuk memasang atau tidak memasang iklan. Koran membutuhkan penghasilan dari iklan jadi mereka lemah terhadap tekanan ini. Ketiga adalah sumber berita seperti Gedung Putih (White House), Pentagon Deplu dan lain lain.

Filter keempat adalah flak alias kritik dan ancaman terhadap media massa. Pers bebas dan penyeimbang kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif hanya tinggal teori. Pada kenyataannya pers dikuasai korporasi sehingga menyuarakan kepentingan mereka. Pers bukan lagi jadi watchdog tapi jadi lapdog bahkan subservient and stupid dog.

Universitas juga ditaklukkan oleh korporasi dengan kekuatan uang. Donasi korporasi diberikan dengan ikatan. bantuan dana untuk riset dan lain lain adalah untuk tujuan korporat. Kasus yang pernah terungkap adalah bantuan dari Joseph Ruthman foundation kepada Universitas Toronto, Kanada.

Di Amerika ada Neo-Lib dan Neo-Cons yang masuk ke pemerintahan Bush. Negara berkembang yang bisa dijadikan komprador, bawahan korporasi asing adalah negara yang pemimpinnya masih menderita penyakit mental. Mereka merasa rendah diri dan kalah dengan asing. Amien khawatir para pemimpin Indonesia masih menderita penyakit ini, masih bermental inlander. Orang yang berjiwa budak bersifat pasif, menunggu perintah, merasa nikmat dalam ketergantungan.

Mental inlander terlihat dalam cara mengelola hutang, hutan dan tambang, termasuk pasir. Akibatnya Indonesia terlilit hutang luar negeri yang besar,  menjadi juara dunia penggundulan hutan, dan kekayaan tambang kita dikuasai korporasi asing. Pasir juga dikuasai asing untuk memperluas Singapura.

Korporasi asing menguasai Indonesia melalui State Capture Corruption atau State – Hijacked Corruption atau korupsi yang menyandera negara. Kekuasaan negara di eksekutif, legislatif dan yudikatif telah menghamba pada kepentingan asing dan melakukan korupsi paling besar dan berbahaya karena mempertaruhkan kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik dan bahkan kedaulatan pertahanan keamanan Indonesia.

Akibat korupsi ini kekayaan negara termasuk sumber daya alamnya dijarah siang – malam selama puluhan tahun oleh korporasi asing dengan bantuan legalisasi, rasionalisasi dan justifikasi pemerintah.

Semasa pemerintahan Presiden Habibi diterbitkan UU tentang perbankan, yaitu UU No. 7 tahun 1992 perubahan atas UU No. 10 tahun 1998. UU ini lebih mendorong salah satu agenda Konsensus Washington, yaitu liberalisasi sektor keuangan dan perdagangan. Pihak asing boleh memiliki saham bank sampai 99% di Indonesia, lebih tinggi dari WTO yang 51%.

Dampaknya 6 dari 10 bank terbesar di Indonesia sudah dimiliki asing. Mereka bisa memiliki dengan harga hanya 8-12% dari total biaya rekapitalisasi dan restrukturalisasi yang dibiayai negara. Negara masih harus membayar obligasi sebesar Rp50-60 trilyun per tahun sampai tahun 2030.

Pemerintahan di bawah Presiden Megawati Diterbitkan UU no 19/2003 tentang BUMN. Dalam bab umum, butir II, alinea pertama ada kalimat “BUMN juga merupakan salah satu sumber negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak, dividen dan hasil privatisasi”. Kalimat ini salah karena privatisasi bukan penerimaan tapi pembiayaan.

Dalam bab umum, butir III dan IV disebutkan kegagalan BUMN memenuhi tujuannya, lingkungan global yang berubah karena globalisasi, privatisasi sebagai solusi, dan privatisasi tidak berarti hilangnya kedaulatan. Ini adalah saran Washington Consensus bahwa kepemilikan negara adalah sumber kegagalan dan masalah, jadi harus dijual.

Padahal sumber kelemahan BUMN adalah intervensi dari elit kekuasaan. Solusinya adalah menghapus intervensi itu, bukan menjual. Temasek adalah bukti bahwa BUMN bisa menjadi pemain global. Mekanisme privatisasi dibuat dengan kontrol minimal dari DPR.

Pasal 79-83 memberikan kekuasaan sangat besar kepada Komite Privatisasi.  Keputusan Komite cukup hanya “dikonsultasikan” kepada DPR, bukan memerlukan “persetujuan” DPR. Akibatnya privatisasi besar – besaran tidak terkendala.

Pada pemerintahan Presiden SBY diterbitkan Peraturan Presiden no 77/2007 dalam bagian c, kepemilikan modal asing diperbolehkan memiliki 95% dalam usaha pembangkit listrik, pengeboran minyak bumi di lepas pantai Indonesia timur, transmisi tenaga listrik,  PLTN, jasa pengeboran minyak bumi dan gas di darat, pengembangan tenaga peralatan penyediaan listrik.

Di sektor pekerjaan umum, kepemilikan asing boleh 95% untuk pengusahaan jalan tol, juga air minum dan pertanian. Di sektor pendidikan, asing boleh memiliki 49% saham pendidikan dasar dan menengah, tinggi dan non formal. Cara korporasi asing mengeksploitasi Indonesia adalah dengan “membeli” legislasi. Banyak UU merupakan pesanan kartel Neo Kolonial.

Sudah seharusnya Indonesia sadar, para pemimpin harus memahami bahwa kekuasaan adalah mandat dari rakyat jadi harus jujur dan bekerja keras untuk rakyat.  Kekuasaan bukan untuk memperkaya diri dan kepentingan pribadi. Kepemimpinan nasional baru harus mempromosikan pentingnya kemandirian nasional.  Merdeka dan berdaulat dalam ekonomi, politik, Hankam dan pendidikan.

Kepemimpinan baru harus tidak lagi jadi bagian State Capture Corruption yang membawa Indonesia ke kemiskinan dan kemunduran multi dimensi. State Capture Corruption harus berhenti. Kepentingan nasional adalah nomor satu. Kepentingan korporasi asing harus tidak di atas kepentingan nasional.

Semua UU strategis harus ditinjau ulang. UU tentang tambang, penanaman modal, BUMN, pertanian, perkebunan, listrik, perairan, kehutanan, yang merugikan Indonesia harus dikaji ulang. Rekonstruksi ulang kebijakan ekonomi nasional, dari yang pro kreditor dan investor asing ke yang pro rakyat. Tegakkan hukum tanpa diskriminasi.

Enam rujukan adalah lagu kebangsaan Indonesia raya, sang saka merah putih, bahasa Indonesia, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, TNI dan Polri dan Pancasila.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Baca Ebook Konspirasi Bencana Alam

Banjir, kekeringan, tsunami, badai dan letusan vulkanik adalah "senjata masa depan". Buku ini menelanjangi fakta suram tentang siapa yang melakukannya dan mengapa?

Baca Ebook Wajah Syariat Islam di Media

Di media, wajah syariat Islam tak ramah. Ia seakan menjadi momok yang menakutkan, terutama bagi orang yang ingin berkunjung ke Aceh. Syariat Islam sering diberitakan secara vulgar.

Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?

catatanmasarief.com - Tulisan saya kali ini merupakan ikhtisar dari sebuah buku yang berjudul “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam” karya Dr. Fathi Yakan.

Baca Ebook Ijtihad Membangun Basis Gerakan

Buku Ijtihad Membangun Basis Gerakan ini merupakan kumpulan gagasan, analisa dan data lengkap tentang pergerakan mahasiswa secara umum wabil khusus KAMMI.

Baca Ebook Orangtua Cermat Anak Sehat

catatanmasarief.com - Orangtua punya tanggung jawab untuk mempelajari dasar - dasar kesehatan anak jika ingin menjadi dokter pertama dan terbaik bagi anaknya. Siap menjadi dokter pertama dan terbaik bagi anak Anda? Gali ilmunya dalam buku ini dan selamat membaca.

Dengan Al Qur’an Hati Bersinar

catatanmasarief.com - Al Qur'an merupakan mukjizat mulia yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!