Ikhtisar Buku Ma’alim Fii Ath Thariq

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Buku Petunjuk Jalan atau Ma’aalim fii Ath-Thariq karya Asy-Syahid Sayyid Quthb Rahimahullah merupakan karya terakhir beliau yang ditulis dalam tahanan pada tahun 1964. Dalam buku ini beliau mengemukakan gagasan tentang perlunya revolusi total, bukan semata-mata pada sikap individu, namun juga pada struktur negara.

Petunjuk Jalan memang buku yang membangkitkan semangat penegakan kalimat Tauhid peng – esa – an Allah Ta’ala, terutama dalam menegakkan hakimiyyah Allah (Kedaulatan Allah). Prinsipnya, penulis mengajak setiap Muslim agar menegakkan kekuasaan Allah dan menolak kekuasaan siapapun selain Allah.

Buku Ma’alim fii Ath-Tahriq ini terdiri dari 11 BAB. Berisi tentang rambu-rambu petunjuk jalan yang diawali dengan mukaddimah (telunjuk yang bersyahadat), sebuah kisah yang menceritakan tentang syahidnya seorang Sayyid Quthb.

Rambu-Rambu Petunjuk Jalan Ilahi

Umat manusia sekarang ini berada di tepi jurang kehancuran. Keadaan ini bukan berasal dari ancaman kematian yang merisaukan pikirannya. Melainkan disebabkan kegagalannya mengenali nilai-nilai Islam. Nilai yang mendorong kehidupan manusia berkembang alami dan mencapai kemajuan.

Kemudian, bukan pula karena lemah secara material atau dari segi kekuatan ekonomi dan militer, namun karena mengadopsi kepemimpinan barat dan maraknya paham-paham yang bertentangan dengan fitrah manusia yang telah habis masanya. Sehingga akibatnya menyebabkan banyak berbagai bangsa menuju pada kehancuran, seperti bangsa eropa, rusia dan bangsa timur. (Hal. 18 – 19)

Maka untuk memulihkan dan membangkitkan kondisi tersebut, langkahnya dengan menerapkan dan mengembalikan kembali sistem Islam. Maka untuk memulai mengembalikan sistem Islam tersebut yaitu harus ada sang pionir yang membulatkan tekad untuk itu.

Kemudian dalam pengamalannya harus memiliki petunjuk jalan. Petunjuk yang memaparkan karakteristik perannya, hakikat fungsinya, tujuan idealnya dan tahapan-tahapannya. Petunjuk jalan tersebut haruslah diluruskan dengan berpangkal dari referensi utama yaitu Al-Qur’an. (Hal. 28 – 29)

Generasi Qur’ani, Generasi yang unik

Dakwah Islam telah melahirkan sekelompok generasi manusia, generasi sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ridhwanullah ‘alaihim. Generasi yang paling istimewa di dalam sejarah Islam dan sejarah manusia pada umumnya.

Dakwah tersebut tidak lagi melahirkan kembali generasi ini pada kesempatan yang lain, karena belum pernah terjadi afiliasi massif dalam jumlah besar sedemikian rupa di satu tempat, sebagaimana yang terjadi pada periode awal dakwah Islam.

Ini adalah fakta mencenangkan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai tertentu yang perlu kita perhatikan dan renungkan dengan sungguh-sungguh, agar dapat kita menyelami rahasianya. (Hal. 32)

Kemudian ada 3 faktor utama keberhasilan generasi pertama yang menjadi generasi pelopor dalam keteladanan. Pertama, Sumber rujukan utama adalah Al-Qur’an. Generasi pelopor hanya mengadopsi Al Qur’an semata.

- Advertisement -

Kedua, Mereka tidak mengkaji Al-Qur’an dengan berorientasikan tradisi dan publikasi, serta tidak pula untuk tujuan hobi dan mencari keuntungan. Hal inilah yang menjadi corak pembeda dalam metode pembelajaran (learning methode) yang ditempuh.

Ketiga, Tatkala mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur’an seketika itu pula mereka melepas seluruh kejahiliyahan. Kemudian manakala dalam kondisi sedang dikuasai hawa nafsunya dan masa lalu jahiliyahnya menarik perhatiannya, seketika itu akan muncul perasaan berdosa yang kemudian perlu untuk menyucikan jiwanya dengan kembali berupaya agar selaras dengan petunjuk Al Qur’an. (Hal. 34 – 42)

Kita sekarang dalam suatu jahiliyah dengan segala yang ada di sekitar kita. Mulai dari ideologi, adat-istiadat, kesenian, hukum, undang-undang, pendidikan dan sampai pada produk yang dianggap Islami. Sebab itulah nilai-nilai Islam tidak bisa konsisten dalam sanubari.

Untuk itu kita harus melepaskan dari segala bentuk kejahiliyahan yang ada di sekitar kita. Kita harus memperbaiki diri sebelum memperbaiki masyarakat kemudian.

Selanjutnya langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mereformasi realitas masyarakat. Maksudnya menaklukan masyarakat jahiliyah berikut dengan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsinya, yang tentunya akan menjumpai rintangan dan hambatan yang butuh pengorbanan. (Hal. 44 – 46)

Karakteristik Manhaj Qur’ani

Al-Qur’an periode Mekah diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam waktu tiga belas tahun. Pada periode ini, Al Qur’an mengemukakan satu persoalan saja. Satu persoalan yang tidak pernah berubah, dikemukakan dengan cara yang hampir tidak berulang-ulang.

Gaya dan penyajian Al-Qur’an yang luar biasa, membuat tampak persoalan itu terkesan baru seperti turun untuk pertama kalinya. Al-Qur’an periode Mekah itu fokus memberikan solusi atas persoalan penting, besar dan mendasar yaitu persoalan akidah. (Hal. 48)

Al Qur’an periode Mekah fokus menancapkan la ilaaha illallaah dalam hati dan akal manusia. Memprioritaskan persoalan keyakinan tanpa menyentuh penjelasan mengenai tatanan atau hukum-hukum muamalah. Sehingga karakteristik agama Islam didasarkan pada landasan ketuhanan yang Esa. (Hal. 66)

Manhaj Islam memfokuskan untuk membangun identitasnya dan mengembangkannya. Kemudian memapankan akidah dan mengokohkannya, serta menjadikannya komprehensif dan berkesan dalam setiap relung jiwa.

Ketika telah terpatri akidah la ilaha illallah di relung hati yang paling dalam maka seketika itu pula menjadi mapanlah tatanan yang diridhai oleh jiwa yang menjadi tempat bersemayamamnya akidah. Kemudian, jiwa akan patuh sepenuhnya untuk memulai tatanan ini, bahkan meski belum diterangkan rincianya dan belum diterangkan juga perundanganya. (Hal. 67)

Islam tidak pernah memaparkan akidah secara teoritis ataupun teologis. Al Qur’an berbicara kepada fitrah manusia, baik mengenai eksistensinya maupun eksistensi yang ada di sekitarnya dengan bukti-bukti dan argumentasi-argumentasinya. Akidah Islam mencerminkan manhaj hidup yang realistis untuk dipraktikkan dalam perbuatan. (Hal. 76 – 77)

Perkembangan Masyarakat Islam dan Karakteristiknya

Dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan babak terakhir dari serangkaian panjang dakwah yang dipimpin oleh para Rasul. Dakwah ini melintang sepanjang sejarah manusia dengan satu tujuan, yakni akidah.

Tujuan yang mengenalkan dan membimbing manusia kepada Tuhan mereka yang Maha Esa dan Yang Haq, agar mereka menyembah dan mengabdi kepada-Nya dengan menafikan segala penghambaan kepada makhluk.

Pada masa tertentu, hanya sedikit yang tidak mengakui eksistensi Allah Ta’ala, tetapi kebanyakan mereka yang mengakui, keliru dalam memahami akan hakikat Tuhan yang haq. Sehingga ada kalanya mereka menyekutukan-Nya dalam hal keyakinan, peribadatan, kedaulatan dan ketundukan. (Hal. 90)

Dakwah ini berusaha keras mewujudkan “Islam” (ketundukan), yakni ketundukan kepada Tuhan manusia, dan membebaskan kepada penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata

Manusia harus berhukum kepada hukum alamiah yang dibuat Allah Ta’ala dalam setiap kondisi. Manusia tidak akan mampu untuk mengubah sunnatullah (ketentuan Allah) dalam hukum alam yang mengatur dan mengendalikan semesta.

Oleh karena itu manusia harus kembali kepada Islam dengan penuh kesadaran. Lalu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai hukum yang mengatur mereka dalam semua urusan hidup. Mereka harus keluar dari kejahiliyahan yang selama ini membelenggu mereka yang berlandaskan kedaulatan ditangan manusia. (Hal. 91 – 93)

Upaya untuk mengikis kejahiliyahan dan mengembalikan manusia kepada Alloh semata tidaklah cukup dan tidak berdaya guna jika cuma teori semata. karena tidak sebanding dengan praktik-praktik kejahiliyahan yang tertanam dalam masyarakat organik yang dinamis. Maka upaya tersebut harus lebih superior di atas kejahiliyahan yang ada. (Hal. 94)

Landasan teoritis yang mendasari Islam sepanjang sejarah adalah prinsip syahadat la ilaha illallah. Penegasan landasan ini mengandaikan kehidupan manusia kembali kepada Allah, kembali pada hukum Allah. Hukum Allah ini wajib dipelajari dari yang menyampaikannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tercermin dalam syahadat Muhammadan Rasulullah.

Lalu dari prinsip inilah kemudian lahir manhaj yang sempurna bagi kehidupan ketika dipraktikkan segala sendi kehidupan. Dengan demikian seorang muslim harus menerapkannya dalam segala unsur kehidupannya bagi dalam lingkup pribadi maupun sesama komunitas muslim atau lintas komunitas lainnya. (Hal. 95 – 96)

Manhaj Islam akan menuai hasil nyata yang luar biasa di dalam menegakkan masyarakat Islam yang berdiri di atas akidah (bukan atas dasar identitas ke-dunia-an) dan menonjolkan, mengembangkan, serta meninggikan karakteristik manusia di luar ciri-cirinya yang sama dengan makhluk hidup lain dalam komunitasnya.

Masyarakat Islam adalah masyarakat terbuka (open society) untuk semua suku, bangsa, dan warna kulit, tanpa terkendala oleh sekat-sekat fisik yang sempit. Semua perbedaan yang bersifat kemanusiaan disatukan, dan terbentuklah struktur organik yang melampaui relativitas yang terbatas.

Dari komunitas yang hebat, koordinatif dan intergratif ini, terciptalah peradaban yang agung  yang meliputi semua potensi manusia yang hidup dalam zaman yang sama, walaupun dengan jarak yang jauh dan lambatnya sarana komunikasi pada zaman tersebut. (Hal. 100 – 101)

Jihad Fii Sabilillah

Sayyid Quthb mengutip kitab Zadul Ma’ad karya Imam Ibnul Qayyim tentang Jihad dalam perspektif Islam. Dalam kitab Zadul Ma’ad, jihad merupakan tahapan terakhir dalam upaya menjaga harga diri Islam setelah sebelumnya bersabar, memaafkan dan berhijrah ketika menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam berdakwah. (Hal. 107)

Dari beberapa tahapan jihad dalam perspektif Islam, terlihat karakteristik-karakteristik yang mendasar dan mendalam dalam manhaj haraki agama Islam, yaitu sebagai berikut:

Pertama, gerakan Islam merupakan gerakan yang tidak cukup hanya beretorikan di hadapan kekuatan kapital, sebagaimana ia tidak bisa memanfaatkan kekuatan kapital untuk menyentuh nurani setiap orang. Gerakan apapun dalam agama ini, asalkan proaktif berupaya melepaskan manusia dari pengabdian kepada hamba menuju pengabdian kepada Allah Ta’ala semata.

Kedua, realitas harakah, yakni harakah yang mempunyai beberapa tahapan. Setiap tahapan memiliki fasilitas yang relevan dengan kebutuhan dan kepentingan kontemporer yang akan mengantarkan pada tahapan berikutnya.

Ketiga, perjuangan yang serius ini dan berbagai fasilitasnya yang modern, tidak membuat agama ini keluar dari prinsip-prinsipnya yang jelas dan keluar dari target-target yang telah dicanangkan.

Keempat, adanya legislative control (kontrol yang bersifat syar’i ) terhadap berbagai persinggungan antara masyarakat muslim dengan masyarakat lainnya. (Hal. 111 – 115)

Seruan jihad adalah langkah pergerakan (Al-Harakah) yang harus diambil disamping langkah wacana (Al Bayan). Langkah ini bertujuan untuk menghadapi realitas kemanusiaan, dengan segala dimensi dan fasilitasnya yang relevan. (Hal. 120)

La ilaha Illallah adalah Manhaj Kehidupan

Syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah merupakan fundamen bagi manhaj integral yang melandasi umat Islam dalam segala bidangnya. Maka kehidupan tidak bisa kokoh  sebelum fundamen ini tegak terlebih dahulu. Lalu tidak bisa disebut kehidupan Islami jika berlandaskan satu atau beberapa fundamen lain secara bersamaan.

Nuansa pertama yang membedakan karakter masyarakat muslim adalah bahwa masyarakat ini berlandaskan pada fundamen ketundukan kepada Allah semata dalam segala perintah-Nya.

Ketundukan inilah yang dicerminkan dan dicorakkan oleh syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah. Ketundukan ini tercermin dalam konsepsi teologis, dalam ritual-ritual ibadah dan dalam hukum-hukum yang diundangkan (asy-syara’i al-qanuniyyah). (Hal. 163 – 164)

Hukum Kosmos

Konsepsi Islam berdiri di atas prinsip bahwa semua alam ini termasuk ciptaan Allah. Ketika Allah berkehendak, maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya dibalik eksistensi alam semesta ini ada kehendak yang mengaturnya, kekuatan yang menggerakkanya, hukum yang menertibkannya. (Hal. 189)

Syari’at Allah yang ditetapkan – Nya untuk mengatur kehidupan manusia. Hukum kosmis (syari’ah kauniyyah) merupakan hukum yang berkaitan erat dan bergerak harmonis dengan undang-undang semesta yang bersifat universal.

Dari sinilah maka komitmen pada syari’at – Nya timbul karena tiga hal. Pertama, pentingnya merealisasikan keharmonisan  antara kehidupan manusia dan pergerakan kosmik sebagai tempat hidup manusia.

Kedua, pentingnya realisasi keserasian antara hukum yang mengatur fitrah tersembunyi manusia dan hukum yang mengatur kehidupan mereka yang kasat mata. Ketiga, Pentingnya keharmonisan antara kepribadian manusia yang tersembunyi dan kepribadian yang tampak. (Hal. 193)

Apabila terjadi keseimbangan mutlak antara kehidupan manusia dan hukum kosmis, maka manusia akan memperoleh manfaat dalam segala hal. Di  samping itu, dalam kondisi ini kehidupan akan terjaga dalam kehancuran. Kondisi di mana manusia akan hidup dalam suasana damai bersama jiwa mereka.

Kedamaian bersama alam timbul karena aktivitas dan orientasi manusia selaras dengan aktivitas dan orientasi alam semesta. Sedangkan kedamaian jiwa timbul dari tidak terjadinya perkelahian antara kepentingan diri dan fitrah mereka. Karena Alloh menyelaraskan antara aktivitas nyata dan fitrah yang tersembunyi dalam kemudahan dan ketenangan. (Hal. 195)

Islam dan Peradaban

Islam hanya mengenal dua corak masyarakat yaitu masyarakat Islami dan masyarakat jahiliyah. Masyarakat Islam yaitu masyarakat yang menerapkan Islam di dalamnya, mulai dari segi akidah, ritual ibadah, peraturan, maupun dari segi tuntunan akhlak dan perilakunya. Sedang masyarakat jahiliyah adalah kebalikan dari masyarakat Islam. Mereka tidak menerapkan Islam di dalamnya. (Hal. 202)

Islam merupakan peradaban, dan masyarakat Islami adalah masyarakat yang berpradaban, yang memilki parameter yang permanen yang tak mungkin meleleh ataupun berubah bentuk. Masyarakat Islami adalah sebuah target yang didambakan oleh semua manusia saat ini dan yang akan datang.

Peradaban Islami adalah peradaban yang mengakomodasi implementasi nilai-nilai kemanusiaan, bukan kemajuan teknologi, ekonomi ataupun ilmu pengetahuan yang diiringi keterbelakangan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan merupakan nilai-nilai aktual aplikatif, yang dapat direalisasikan dengan kerja keras manusia dalam naungan konsep ke-Islam-an yang benar. (Hal. 228)

Peradaban Islami bisa mengambil format yang beraneka ragam, berkenaan dengan komposisi materi dan desainnya. Hanya saja asas-asas dan nilai-nilai yang mendasarinya bersifat permanen, karena hal inilah yang menopang peradaban tersebut.

Adapun asas-asas dan nilai tersebut antara lain, beribadah kepada Allah semata, berhimpun atas dasar akidah, meninggikan sisi kemanusiaan manusia di atas kepentingan materi, membumikan nilai-nilai humanis yang mengembangkan sisi kemanusiaan manusia, bukan sisi kebinatangan, menghormati ikatan keluarga, menjalankan peran khalifah di bumi sesuai perintah dan ketentuan Allah, serta hanya berpedoman pada manhaj dan syari’at Allah berkaitan dengan tugas-tugas khalifah. (Hal. 229 – 230)

Islam dan Kebudayaan

Aktivitas seni dan kaitannya dengan konsepsi Islam dan pada referensi rabbaninya adalah bahwa semua aktivitas seni merupakan ekspresi manusiawi tentang berbagai macam imajinasi, emosi, dan reaksi manusia, juga tentang ilustrasi jiwa manusia atas alam semesta dan kehidupan.

Ekspresi ini didorong atau mungkin juga dimunculkan dalam jiwa seorang muslim oleh konsepsi Islaminya yang komprehensif. Yakni, yang mencakup segala unsur alam semesta, jiwa manusia, dan kehidupan.

Di samping itu juga mencakup keterkaitkan dengan Sang Pencipta alam, jiwa dan kehidupan. Dan juga dengan imajinasinya yang subjektif tentang hakikat manusia, posisinya terhadap alam, tujuan hidupnya, perannya dalam kehidupan, dan nilai-nilai kehidupannya.

Semua ekspresi ini termuat dalam konsepsi Islami yang tentunya bukan sekadar pandangan yang bersifat pemikiran belaka. Lebih dari itu, ia adalah pandangan dogmatis yang aktif, inspiratif, impresif, efekkif, dan implisif, yang mampu membangkitkan semangat hidup manusia.

Sedangkan kaitannya dengan intelektual dan pentingnya mengembalikan kegiatan ini pada naungan konsepsi Islami dan sumber rabbaninya, sebagai bentuk realisasi penghambaan mutlak kepada Allah semata.

Seorang muslim berhak mempelajari ilmu pengetahuan murni, seperti ilmu kimia, ilmu fisika, biologi, astronomi, ilmu kedokteran, teknologi, ilmu pertanian, manajemen, keterampilan yang bernilai seni, teknik perang dan bela diri dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Ia boleh saja mempelajari semua itu, baik dari seorang muslim ataupun non muslim.

Sedangkan ilmu pengetahuan yang berkaitan langsung dengan akidah. Maka seorang muslim hanya boleh mempelajarinya dari seorang muslim yang mumpuni keagamaannya dan konsisten ketakwaannya serta menyadari bahwa semua itu bersumber dari Allah. (Hal. 236 – 239)

Akidah adalah Identitas Seorang Muslim

Identitas seorang Muslim, di negara Islam, dinilai berdasarkan akidah yang telah menjadikannya sebagai anggota dari komunitas “Umat Islam”. Sementara, ikatan kekerabatannya hanyalah kekerabatan yang berlandaskan keyakinan kepada Allah. Pada kondisi ini, ia akan mudah mempererat ikatan dengan keluarganya dalam agama Allah.

Jadi, sanak famili seorang muslim bukanlah ayah, ibu, saudara, istri, ataupun kabilahnya, selama ikatan utamanya dalam naungan Sang Pencipta belum terjalin. Jika ini sudah terjalin, barulah berlaku ikatan nasab. (Hal. 260)

Transformasi yang Luar Biasa

Prinsip Islam semestinya harus kita pegang teguh dan pahami dengan baik. Jangan gugup dan gagap dalam menyampaikannya. Kita tak boleh tinggal diam, sampai mereka (manusia yang masih berada dalam kejahiliyahan) berpaling kepada Islam, niscaya Islam akan benar-benar menghadirkan transformasi dalam kehidupan mereka.

Transformasi ini bertujuan agar pandangan mereka bisa lebih maju dan kondisi mereka bisa lebih dekat pada kedudukan yang mulia yang lebih layak bagi kehidupan manusia. Islam tidak akan menyisakan sedikit pun unsur jahiliyah yang hina yang pernah mereka lalui, kecuali beberapa subkonsep yang secara kebetulan mirip dengan beberapa subkonsep dari sistem yang Islami.

Yang demikian ini tidak akan digunakan secara utuh apa adanya, namun akan diintegrasikan pada keagungan sumber Islam yang sama sekali berbeda dengan sumber yang selama ini integral dengan mereka, yakni sumber jahiliyah yang keruh dan kotor.

Dengan demikian, transformasi ini, seketika itu juga, tidak menolak pengetahuan yang ilmiah-murni, bahkan mendorongnya sekuat tenaga untuk maju dan berkembang. (Hal. 290 – 291)

Berjiwa Besar Karena Memilki Iman

Berjiwa besar atau perasaan serba unggul (superiority complex) harus dipegang teguh oleh jiwa-jiwa kaum mukmin dalam menghadapi segala sesuatu, segala situasi, semua nilai dan semua orang, yakni perasaan serba unggul karena keimanan (faith) dan nilai-nilainya, yang melebihi keseluruhan nilai yang berasal dari sumber  selain mata air keimanan.

Berjiwa besar dengan  keimanan bukan semata-mata kemandirian tekad, bukan pula semangat yang membara ataupun antusiasme yang meluap-luap. Sebaliknya ia adalah superioritas yang established dalam tabiat Sang Wujud.

Kebenaran abadi yang ada di balik kekuatan logika, pandangan lingkungan, konvensi masyarakat dan kebiasaan baik manusia, karena semua ini berhubungan langsung dengan Allah yang Maha Hidup yang tak akan pernah mati. (Hal. 309 – 310)

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Karawang dan Tantangan Bonus Demografi

catatanmasarief.com - Pada rentang tahun 2020 hingga 2035 Karawang akan mengalami bonus demografi. inilah upaya yang dapat dilakukan dalam memanfaatkannya.

Resume Buku Syarah 10 Muwashafat (Part. 2)

catatanmasarief.com – Buku Syarah 10 Muwashafat mengkaji tuntas tentang sejumlah karakter dan muwashafat orang – orang yang sempurna keimanannya. Berikut ini seri kedua dari ikhtisar Buku Syarah 10 Muwashafat.

Ikhtisar Buku Kenapa Umat Islam Tertinggal

catatanmasarief.com - Buku ini ditulis berawal dari sebuah pertanyaan besar "Mengapa Umat Islam Tertinggal?"

Ijtihad Membangun Basis Gerakan

catatanmasarief.com - Buku ini merupakan kumpulan gagasan dari Amin Sudarsono, sebuah upaya untuk membangun fondasi pokok dari gerakan KAMMI.

RUU P-KS, Mengatasi Masalah Tambah Masalah

catatanmasarief.com - Di Indonesia kekerasan seksual menjadi perhatian serius pemerintah sehingga upaya yang kini dilakukan pemerintah untuk menghentikan kasus ini yaitu rencana akan disahkannya RUU P-KS pada tahun ini.

Inilah Tiga Langkah Menjadi Penghafal Al Qur’an

catatanmasarief.com - Mengetahui keutamaan dan mendambakan ingin menjadi penghafal Al Qur’an saja tidak cukup, perlu upaya keras dan sungguh-sungguh untuk dapat menjadi penghafal Al Qur'an.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: Content is protected !!