Jalani Masa PSBB Dengan Sikap Qana’ah

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Sudah tiga bulan lebih kita menjalani masa pandemi Covid-19, dan hampir selama itu pula kita jalani aktivitas kita di rumah aja. Mulai dari belajar yang biasanya di sekolah atau di kampus, kita lakukan di rumah. Lalu aktivitas bekerja yang biasanya juga dilaksanakan di tempat kerja, akibat wabah ini kita dipaksa melaksanakannya dari rumah.

Hal ini tentunya membuat kita resah, apalagi jika kita melihat tayangan berita di televisi atau membaca di portal berita online, sampai saat ini tidak ada kepastian kapan pandemi Covid-19 ini berakhir. Kemudian update data korban Covid-19 kian hari belum mengalami penurunan, justru sebaliknya mengalami peningkatan.

Dalam rangka memutus mata rantai penularan Covid-19 ini, pemerintah memberlakukan sistem PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Sistem ini mengharuskan kita membatasi aktivitas di luar rumah. Dengan pembatasan itu akibatnya sangat berdampak bagi kehidupan kita. Mulai dari ketidakstabilan ekonomi sampai pemenuhan kebutuhan sehari-hari kita yang jadi serba sulit.

Bagi kita yang tidak siap secara mental, kondisi ini dapat menimbulkan stress dan panik yang akhirnya membuat kita lebih banyak mengeluh dan kurang bersyukur atas nikmat yang sampai saat ini sudah Allah Ta’ala berikan.

Wabah Covid-19 ini adalah penyakit yang merupakan ujian dari Allah Swt. Sebagai hamba-Nya tentu kita harus yakin bahwa segala penyakit itu datangnya dari Allah dan Allah juga yang akan menyembuhkannya. Kita harus yakin juga bahwa segala ujian dari Allah pasti ada hikmahnya.

Dengan keyakinan itu sudah seharusnya kita bisa sabar dan tawakal. Selain itu juga tumbuh sifat qana’ah agar dapat lebih bersyukur atas segala sesuatu yang kita punya. Pada akhirnya sebagai seorang muslim kita dapat terhindar dari rasa stress dan tetap bahagia dalam menjalani masa PSBB pandemi Covid-19.

Pada catatan kali ini akan membahas tentang qana’ah, lebih tepatnya menjalani masa PSBB pandemi Covid-19 dengan sikap qana’ah.

Mari kita mengulas sedikit tentang pengertian qana’ah untuk menyegarkan kembali pemahaman. Qana’ah adalah suatu sikap yang rela menerima dan selalu merasa cukup dengan hasil yang sudah diusahakan serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas juga perasaan kurang. Singkat kata ikhlas dan bersyukur atas segala sesuatu yang dimiliki saat ini.

Di masa pandemi ini, dimana segala sesuatu jadi serba sulit dengan adanya pembatasan sosial, bersikap qana’ah menjadi sikap yang harus kita kedepankan. Karena dengan sikap qana’ah segala kesulitan yang kita hadapi saat ini minimalnya dapat membuat kita lebih ikhlas dan terhindar dari stres, sehingga dapat berpikir untuk mencari alternatif-alternatif solusi agar kita dapat bertahan.

Dengan sikap qana’ah kita dapat bertahan dengan segala hal yang dimiliki. Lebih fokus memanfaatkan segala yang ada bukan pusing mencari yang tidak ada. Bahkan bisa berbagi membantu saudara di sekitar kita yang terkena dampak pandemi Covid-19 lebih parah dari kita.

Kemudian menurut ustadz Muhammad Abdul Tuasikal, M.Sc. yang dikutip dari rumaysho.com, memiliki sifat dan bersikap qana’ah akan merasakan setidaknya 5 manfaat.

  1. Mendapatkan dunia seluruhnya

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).

  1. Menjadi orang beruntung

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

- Advertisement -

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).

  1. Mudah bersyukur

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim, no. 2963).

  1. Menjauhkan diri dari hasad (iri, dengki pada nikmat orang lain)

Hasad itu begitu bahaya karena seolah-olah protes akan takdir Allah. Sebagaimana disebut dalam ayat,

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf : 32).

Jika qana’ah dimiliki, maka sifat hasad akan hilang dan memudahkan jalan ke surga.

  1. Mengatasi berbagai problema hidup

Jika seseorang memiliki sifat qana’ah, maka ia akan menjadikan kebutuhan hidupnya sesuai standar kemampuan. Sehingga menjalani masa pandemi ini tidak akan mengalami kesulitan yang begitu berat, karena ia akan dapat dengan cepat menyesuaikan diri dan segala kebutuhan hidupnya dengan kondisi perekonomiannya.

Ingatlah, orang yang memiliki sifat qana’ah sungguh terpuji. Makanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dalam doa beliau sifat qana’ah (selalu merasa cukup), “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah).

Itulah manfaat dari sikap qana’ah. Kelima manfaat itu akan benar-benar kita rasakan dalam kehidupan selama menjalani masa pandemi ini jika kita melatih diri bersikap qana’ah.

Memiliki sikap qana’ah itu tidak instan langsung dapat muncul begitu saja. Apalagi bagi kita yang terbiasa dengan gaya hidup yang tinggi, kemudian terkena lockdown atau PSBB seperti sekarang, rasanya sulit dan tidak mengeluh saja itu sudah bagus sekali.

Kiat – kiat berikut ini dapat dijadikan rujukan untuk memulai latihan menumbuhkan sifat dan sikap qana’ah. Dikutip dari muslim.or.id, ustadz Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. menyampaikan sedikitnya ada 5 kiat yang dapat dilakukan.

  1. Memperkuat keimanan terhadap takdir Allah dengan kesabaran dan tawakal

Rezeki termasuk salah satu yang telah ditakdirkan Allah bagi setiap hamba-Nya. Bahkan ketika dia belum terlahir ke dunia dan masih berada dalam rahim sang ibu, atau bahkan sejak azali seluruh hal yang terkait dengan hamba-Nya telah ditetapkan oleh-Nya. Jika kita benar-benar memahami hal ini, maka rasa gelisah atas rezeki yang ada tidak sepatutnya terjadi.

Oleh karenanya, keimanan terhadap takdir Allah merupakan pondasi yang dapat melahirkan sifat qana’ah, diiringi dengan memperkuat sifat sabar dan tawakkal. Ketika sifat qana’ah tidak terdapat dalam diri kita berarti ada kekurangan dalam keimanan terhadap takdir Allah, kesabaran kita masih minim, begitu pula dengan rasa tawakal.

  1. Mentadabburi Al Qur’an dan Hadist Nabi

Merenungi firman-firman Allah ta’ala dan hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama berbagai ayat yang menerangkan tentang rezeki dan usaha yang dikerahkan manusia untuk memperoleh penghidupan, yang semuanya itu berpulang pada takdir Allah.

Salah satunya dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi. Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, sesungguhnya seorang itu tidak akan mati sehingga lengkap jatah rezekinya. Jika rezeki itu terasa lambat datangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan carilah dengan cara yang, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram” (Shahih. HR. Al Baihaqi).

  1. Memahami hikmah Allah yang menciptakan perbedaan rezeki dan kedudukan di antara hamba

Salah satu hikmah adanya perbedaan rezeki yakni, ada yang kaya dan yang miskin adalah agar kehidupan di bumi bisa berlangsung. Perbedaan itu juga menyebabkan terjadinya hubungan timbal-balik di mana kedua pihak saling mengambil manfaat.

Maksudnya, pihak yang kaya memberikan manfaat kepada yang miskin dengan hartanya, sedangkan yang miskin memberikan bantuan tenaga kepada yang kaya. Sehingga keduanya menjadi sebab kelangsungan hidup bagi yang lain. (Tafsir al-Baghawi).

Di sisi lain, hikmah dari perbedaan rezeki bukan hanya pada hubungan timbal balik semacam itu, tetapi juga pihak yang kaya secara syariat dituntut untuk memperhatikan pihak yang berada di bawahnya secara ekonomi, dengan cara menyedekahkan sebagian hartanya untuk memberikan manfaat dan memeratakan kondisi ekonomi umat terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

  1. Perbanyak do’a pada Allah agar diberikan sifat qana’ah

Doa merupakan solusi terbaik atas segala persoalan hidup, termasuk persoalan hati yang selalu merasa kurang dan tidak pandai bersyukur alias tidak qana’ah. Sudah dibahas di awal bahwa sifat dan sikap qana’ah tidak muncul secara instan. Perlu latihan dan juga doa, memohon kepada Allah Ta’ala, sang pemilik hati agar dianugerahi sifat qana’ah.

Praktik nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan hal tersebut, kehidupan ekonomi beliau yang bersahaja tidak membuat beliau mengeluh, bahkan beliau berdo’a kepada Allah agar rezeki beliau dan keluarga sekedar untuk menutup lapar. Menunjukkan betapa qana’ah pribadi beliau.

Kita dapat mencontoh beliau, memohon agar Allah memberikan kita sifat qana’ah. Salah satu do’a yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbad Radhiyallahu ‘anhuma,

Ya Allah, jadikanlah aku orang yang qana’ah terhadap rezeki yang Engkau beri, dan berkahilah, serta gantilah apa yang luput dariku dengan sesuatu yang lebih baik” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Ya Allah, jadikanlah aku orang yang qana’ah terhadap rezeki yang Engkau beri, dan berkahilah, serta gantilah apa yang luput dariku dengan sesuatu yang lebih baik” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)

  1. Melihat kondisi mereka yang berada di bawah kita secara ekonomi

Di dunia ini kita pasti akan menemukan orang yang memiliki kondisi ekonomi di bawah kita. Jika kita ditakdirkan ditimpa musibah, pasti di sana ada mereka yang diuji dengan musibah yang lebih daripada kita.

Pada masa PSBB ini lihatlah mereka yang terkena dampak lebih parah dari kita, dengan demikian akan membuat kita lebih bersyukur dengan kondisi saat ini yang masih diberikan kesehatan dan keselamatan.

Jadi, melihat orang yang berada di bawah kita secara ekonomi dan sosial merupakan salah satu cara efektif agar kita mudah bersyukur dan akan tumbuh sifat dan sikap qana’ah dalam kehidupan kita.

Itulah 5 kiat yang dapat kita pahami dan lakukan selama menjalani masa pandemi Covid-19 ini, agar mudah bagi kita membiasakan diri bersikap qana’ah atas segala pemberian Allah Ta’ala.

Semoga sifat dan sikap qana’ah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, sehingga dalam menjalani setiap ujian dari Allah Ta’ala, membuat kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

- Advertisement -

Jadilah Yang Paling Update

Mas Ariefhttps://catatanmasarief.com/
Assalamu'alaikum, Hai saya Arief Riyanto atau biasa dipanggil Mas Arief. Saya seorang anak muda yang ingin melakukan perubahan untuk Karawang dan Indonesia. Berawal dari tulisan ini. Semoga terinspirasi dan selamat berkontribusi untuk perubahan yang lebih baik.
- Advertisement -

Baca Juga

- Advertisement -

Jangan Lewatkan

Baca Ebook Mukaddimah Ibnu Khaldun

Pemikiran Ibnu Khaldun tentang sosiologi, filsafat sejarah, dan politik menjadi bahan kajian para pemikir dan cendikiawan muslim di Timur dan Barat.

Baca Ebook Orangtua Cermat Anak Sehat

catatanmasarief.com - Orangtua punya tanggung jawab untuk mempelajari dasar - dasar kesehatan anak jika ingin menjadi dokter pertama dan terbaik bagi anaknya. Siap menjadi dokter pertama dan terbaik bagi anak Anda? Gali ilmunya dalam buku ini dan selamat membaca.

Resume Buku Syarah 10 Muwashafat (Part. 1)

catatanmasarief.com - Buku Syarah 10 Muwashafat mengkaji tuntas tentang sejumlah karakter dan muwashafat orang - orang yang sempurna keimanannya, yang berorientasi ketuhanan, berlapang dada dan bersih hatinya berdasar pada salah satu risalah Imam Hasan Al Banna.

Jadilah Tokoh Publik dengan Memenuhi Tiga Level Personal Branding

Menjadi tokoh publik yang kredibel, kita harus memiliki personal branding yang baik. Caranya adalah dengan memenuhi tiga level dalam personal branding.

Mewujudkan Karawang Menjadi Kota Bahagia

catatanmasrief.com - Karawang kota bahagia merupakan suatu cita - cita yang ingin diwujudkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Baca Ebook Dalam Dekapan Ukhuwah

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara - menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta.

Kategori Populer

- Advertisement -

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
error: