Advertisement

Orang Tua Hebat Melahirkan Anak Hebat

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan dalam mendidik seorang anak, yang terutama adalah peran orang tua. Karena itu, agar berhasil dalam mendidik anak, orang tua harus mengubah sebagian besar kebiasaannya yang kurang baik. Sebab, salah satu metode pendidikan anak yang cukup efektif adalah dengan teladan.

Pada catatan mas Arief kali ini, akan merangkum sebuah buku bertema parenting Islami yang berjudul Orang Tua Hebat Melahirkan Anak Hebat. Buku ini berisi tentang 20 kebiasaan hebat orang tua untuk mendidik anak agar sukses dunia akhirat. Ditulis oleh Fadlan al-Ikhwani, seorang penulis muda asal Banyuwangi, Jawa Timur.

- Advertisement -

Setiap orang tua, pasti ingin memiliki anak yang saleh. Anak yang menjadi penyejuk mata (Qurrata a’yun) baginya, menaati perintahnya, menjaga amanahnya dan peduli terhadap setiap kebutuhannya serta tidak sekadar memikirkan dirinya sendiri, tapi berjuang keras agar orang tuanya juga bahagia di dunia dan akhirat. (Hal. 7)

Namun, anak saleh bukanlah ‘barang jadi’, yang langsung terbentuk ketika ia lahir. Anak saleh dibentuk dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Diajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak, hingga kebiasaan itu membentuk perilakunya. Di mulai semenjak kecil, kemudian berharap dilakukan berlanjut hingga dewasa bahkan dilanjutkan pula oleh anak keturunannya. (Hal. 8)

Anak saleh bukanlah ‘barang jadi’, yang langsung terbentuk ketika ia lahir. Anak saleh dibentuk dengan penuh kesungguhan dan kesabaran

Kebiasaan 1. Mengenalkan Anak Kepada Rabbnya

Kebiasaan ini membutuhkan kemampuan dan ilmu yang mumpuni. Namun, kita dapat menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak melalui beragam media seperti bercerita atau dongeng, film islami dan dialog dalam bentuk tanya jawab mengenai siapa yang menciptakan langit dan seterusnya.

Mengenalkan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Zat yang layak disembah merupakan pendidikan tauhid dan inti ajaran para Rasul yang menyeru kepada manusia untuk menyembah-Nya, tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun. (Hal. 21)

Kebiasaan 2. Mendidik Anak Rindu Surga Dan Takut Neraka

Kebiasaan ini dengan mengenalkan gambaran kenikmatan surga (Hadist Imam Muslim), ciri-ciri fisik penghuni surga (Hadist Imam Ahmad), pintu-pintu surga dan calon penghuninya (Hadist Imam Muslim), makanan dan minuman surga (QS. al-Insan: 14), pakaian-pakaian penduduk surga (QS. ad-Dukhan: 51-53), tempat tidur surga (al-Waqi’ah: 34), rumah dan istana di surga, dan kenikmatan tertinggi di surga. (Hal. 31-44)

Kemudian mengenalkan kengerian neraka untuk memotivasi anak yang belum balig dan mengajaknya rindu surga itu lebih maslahat. Adapun bila anak telah balig, perlu ditakut-takuti neraka agar alhasil tidak sekadar mengetahui reward namun juga punishment. (Hal. 45)

- Advertisement -

Menggambarkan kengerian neraka meliputi, panasnya api neraka (QS. al-Mudadatstsir: 42-47), makanan dan minuman penghuni neraka (QS. ad-Dukhan: 43-46), para pendosa dan siksaannya, dan malaikat penyiksa (Zabaniyah). (Hal. 45-50)

Dengan memberikan gambaran-gambaran tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami anak, akan menjadikan anak merindukan surga dan takut neraka semenjak kecilnya dan berupaya dengan gigih agar dapat memasuki surga dan menjauhi neraka dalam perbuatannya.

Kebiasaan 3. Melatih Anak Untuk Mengerjakan Salat Sejak Dini

Salat merupakan ajaran pokok dalam Islam. Walaupun perintah untuk mengerjakan salat itu ketika berusia 7 tahun, membiasakan anak untuk mengerjakan salat sebelum usia 7 tahun juga mengandung maslahat. Setidaknya, kita membiasakan anak agar gembira untuk mengerjakan salat. Ketika azan berkumandang anak ringan menuju tempat salat dengan mengajak ayahnya ke masjid atau ibunya untuk salat. (Hal. 54)

Kebiasaan 4. Menunaikan 3 Hak Anak (Memilihkan Ibu, Memberi Nama dan Mengajarkan Al-Qur’an)

Di antara hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang baik, salihah dan berakhlak mulia sebelum menikah. Bila saat ini telah menikah, maka berusahalah untuk mendidiknya agar menjadi istri sekaligus ibu yang salihah. Oleh karena itu, berikanlah kesempatan istri untuk memperdalam ilmu agama. (Hal. 64)

Setelah memilihkan ibu, kewajiban orang tua berikutnya adalah memberikan nama yang baik. Nama merupakan identitas bagi seseorang. Dengan nama, ia bisa disebut dan dikenali. Nama juga menjadi kebanggaan bagi penyandangnya. (Hal. 66)

Selanjutnya mengajarkan Al-Qur’an pada anak. Sebelum menyuruh anak membaca Al-Qur’an, apalagi menuntut mereka istiqamah bertilawah setiap hari, tempalah diri sendiri lebih dulu agar mampu membaca AL-Qur’an, terlebih dapat dengan baik dan fasih. (Hal. 71)

Sungguh disayangkan, bila kita sangat ketat memerintahkan anak untuk pergi ke TKQ/TPA misalnya, agar mahir membaca Al-Qur’an, tapi diri sendiri tidak mau belajar membaca Al-Qur’an dengan dalih merasa sudah “tua” lantas malu untuk belajar. Akibatnya perintah itu bisa menjadi bumerang. (Hal. 72)

Sebelum menyuruh anak membaca Al-Qur’an, apalagi menuntut mereka istiqamah bertilawah setiap hari, tempalah diri sendiri lebih dulu agar mampu membaca AL-Qur’an, terlebih dapat dengan baik dan fasih

- Advertisement -

Kebiasaan 5. Mengajari Anak Zikir-Zikir Utama

Mengajarkan zikir-zikir utama itu meliputi membaca kalimat tasbih ‘Subhanallah’ (HR. Bukhari-Muslim), hamdalah ‘Alhamdulillah’ (HR. Muslim), takbir ‘Allahu Akbar’, tahlil ‘Laailaaha Illallah’ (HR. Bukhari-Muslim), dan membaca kalimat Hauqalah ‘La Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah’ (HR. Muslim). (Hal. 81-88)

Kebiasaan 6. Mengajari Anak Bahasa Arab

Mempelajari bahasa Arab sangat penting, bahkan lebih penting daripada mempelajari bahasa-bahasa asing yang lain. Karena bahasa Arab merupakan modal dasar untuk bisa memahami Al-Qur’an. Bahasa Arab juga sebagai landasan membuka pembendaharaan ilmu pengetahuan dalam Islam. (Hal. 91)

Agar anak mencintai bahasa Arab, kita mulai mengenalkannya pada benda-benda sehari-hari yang berada di sekitarnya. Kalau dalam pembelajaran bahasa Arab, kita bisa memulai dari kitab yang paling mendasar, yakni Durusullughah al-‘Arabiyyah, yang lebih banyak mengacu pada kosakata dan percakapan, alih-alih tata bahasa (grammar). (Hal. 94)

Kemudian, di antara langkah untuk mengajarkan bahasa Arab kepada anak adalah dengan memilihkan sekolah yang Islami, bukan sekolah umum. Karena sekolah umum belum tentu mengajarkan bahasa Arab dan biasanya lebih mengutamakan bahasa Inggris. (Hal. 95)

Kebiasaan 7. Mengajarkan Kepada Anak Adab-Adab Islami

Kepada anak, kita dapat mengajarkan adab-adab Islami ketika berada di rumah dan lingkungannya seperti adab ketika makan, adab ketika tidur, adab ketika berada di toilet, adab berpakaian, adab bertamu dan menerima tamu, adab bergaul, dan adab terhadap alam. (Hal. 101 – 116)

Lalu ketika bepergian seperti mengunci pintu dan mematikan lampu, berdoa sebelum berangkat, adab dalam kendaraan, ketika perjalanan mendaki dan menurun, menjaga salat tepat waktu walau dalam perjalanan jauh, dan mengambil hikmah selama di perjalanan. (Hal. 117-122)

Kemudian termasuk ketika dalam keadaan khusus, seperti adab ketika bersin dan menguap, ketika takjub, ketika mendapat kabar baik dan mendengar atau mengalami kabar buruk, ketika memohon pertolongan Allah, dan adab ketika berjanji dengan mengucap Insya Allah. (Hal. 123-131)

Kebiasaan 8. Mencintai Sunah-Sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sunah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dapat kita ajarkan pada anak sejak kecil yaitu di mulai dari sunah ketika akan memulai aktivitas membiasakan mengucapkan basmallah (HR. Ibnu Hibban), sunah mengucapkan salam ketika masuk dan keluar rumah (QS. an-Nur: 27), membiasakan segala hal baik dimulai dari bagian kanan (HR. Bukhari-Muslim).

Lalu sunah menjawab azan dan berdoa seusai mendengarnya (HR. Bukhari-Muslim), bersyukur ketika mendapat nikmat dan terhindar dari musibah dengan mengucapkan hamdalah, membaca zikir pagi dan petang, berdoa ketika turun hujan, berdoa ketika mendengar petir, mengetahui waktu-waktu aurat (QS. an-Nur: 58), menutup pintu ketika maghrib dan mematikan lampu ketika hendak tidur. (Hal. 135-146)

Kebiasaan 9. Menanamkan di Hati Anak Rasa Cinta Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Agar anak mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kita perlu menanamkan rasa cinta itu kepadanya. Di antaranya dengan mengenalkan anak tentang diri beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik tentang keindahan fisik maupun akhlaknya. Tidak hanya manusia, Allah Ta’ala pun memujinya dalam surat al-Qalam ayat 4. Dalam hal ini juga turut pula mengenalkan keluarga dan para sahabatnya. (Hal. 158-159)

Kebiasaan 10. Membentuk Pribadi Anak Dengan Kisah-Kisah

Ketika kecil, anak belum mampu membedakan antara yang nyata dengan rekayasa. Maka otak anak lebih maslahat bila diisi dengan informasi yang sahih, valid dan kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan. Walaupun Anda orang tua yang seorang cerpenis atau novelis, tetap kisahkanlah true story, alih-alih karya Anda sendiri. (Hal. 167)

Berhati-hatilah memilihkan kisah, terutama kisah yang kurang baik, karena itu bisa meracuni benak anak-anak kita. Jangan biarkan otak anak kita mengonsumsi kisah-kisah yang tidak bermutu, bahkan cenderung meracuni. (Hal. 168)

Berhati-hatilah memilihkan kisah, terutama kisah yang kurang baik, karena itu bisa meracuni benak anak-anak kita

Kita dapat memilihkan kisah-kisah bermutu untuk anak kita dari Al-Qur’an. Di antaranya adalah kisah para nabi (QS. Ghafir: 78) ataupun kisah orang-orang saleh seperti kisah dialog antara Luqman dan anaknya (QS. Luqman: 12-19). (Hal. 169-170)

Pilah dan pilihlah kisah yang hendak kita suguhkan pada anak kita. Jangan sekadar menjejali otak mereka dengan kisah-kisah hebat para tokoh dunia, sehingga memotivasi mereka untuk tergerak menjadi manusia sukses dunia. Kita khawatir, semangat mereka dalam mengejar dunia menjadikannya alpa memikirkan urusan akhirat. Kalau memikirkan keselamatan akhirat sendiri saja lalai, bagaimana akan memikirkan nasib kita orang tuanya, kelak di akhirat? (Hal. 179)

- Advertisement -
Apa yang kamu rasakan?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Advertisement

Must Read

Advertisement

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: