Advertisement

Kembali Sekolah, Kembali Belajar Orang Tuanya Bukan Muridnya

- Advertisement -

catatanmasarief.com – Liburan sekolah akan segera berakhir. Para peserta didik akan segera kembali masuk sekolah. Tentu saja arti masuk sekolah di masa pandemi adalah sekolah virtual. Hal ini mengingat Kemendikbud telah membatalkan rencana sekolah diadakan secara tatap muka pada semester genap mendatang tahun ajaran 2020/2021.

Di Kabupaten Karawang sendiri, saat ini ditetapkan sebagai daerah zona merah dengan status siaga satu. Akibatnya bupati belum mengizinkan sekolah untuk dibuka dan pembelajaran kembali diadakan secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

- Advertisement -

Pembelajaran jarak jauh hingga saat ini telah dilakukan selama 10 bulan. Awalnya para siswa dan orang tua menyambut antusias pembelajaran dengan cara ini. Karena belajar dari rumah dianggap sebagai hal yang baru dengan memanfaatkan teknologi. Namun belakangan, mulai bermunculan berbagai persoalan dari dinamika yang terjadi selama menjalani belajar dari rumah.

Ketika pembelajaran jarak jauh diberlakukan, sudah jelas bahwa proses pembelajaran dilakukan secara virtual. Pola sekolah dari rumah yang dilakukan bermacam-macam. Salah satunya tatap muka virtual antara guru dan para peserta didiknya. Guru memberikan pelajaran pada peserta didik melalui tatap muka secara virtual.

Seiring berjalannya waktu, proses PJJ melalui pertemuan virtual ini memunculkan beberapa kendala. Misalnya soal peserta didik yang orang tuanya tidak memiliki telepon genggam yang canggih. Sehingga sang anak harus ikut belajar bersama teman lainnya yang memiliki telepon genggam yang canggih.

Pada saat bersamaan, ketika seorang murid ikut belajar bersama temannya, kadang protokol kesehatan menjaga jarak jelas tidak maksimal dapat dilaksanakan. Sebab ketika belajar, mereka harus saling berdekatan agar keduanya terpantau oleh kamera telepon genggam.

Selain itu ada kendala lain yang dihadapi, yakni soal jaringan dan kemampuan orang tua dalam menggunakan telepon genggam untuk tatap muka virtual. Kendala jaringan terkait dengan sinyal telepon genggam. Di beberapa wilayah di kab. Karawang, ada daerah yang memang tidak memiliki sinyal yang bagus. Ini akan membuat peserta didik tidak maksimal mendapatkan informasi dari sang guru.

Kemudian adalah kemampuan orang tua dan guru dalam menguasai teknologi. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa tidak semua orang tua dan guru siap menjalani pembelajaran secara virtual. Ketidaksiapan dalam kemampuan mengoperasikan teknologi inilah yang mengakibatkan juga belajar menjadi kurang maksimal.

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa tidak semua orang tua dan guru siap menjalani pembelajaran secara virtual

Misal, pada suatu kasus sang guru tidak tahu cara mengoperasikan perangkat digitalnya untuk memulai pembelajaran secara virtual. ketika telah berhasil, selanjutnya pada saat pembelajaran virtual berlangsung, tiba-tiba ada hambatan jaringan atau hambatan dari perangkat digitalnya, sang guru pun akhirnya bingung kenapa hambatan itu terjadi dan tidak tahu cara mengatasinya.

Selain pertemuan virtual, ada kalanya proses belajar mengajar melalui aplikasi pengirim pesan. Sang guru memberikan soal melalui grup aplikasi tersebut. Kemudian peserta didik menjawab soal tersebut dan dikumpulkan sesuai dengan jadwalnya.

- Advertisement -

Dari pengalaman belajar dari rumah, sejatinya nanti pada semester genap, ketika liburan telah usai dan para peserta didik kembali belajar jarak jauh, adalah kembali sekolah, kembali belajar bagi orang tua murid bukan anaknya. Khususnya orang tua murid TK dan SD kelas 1 sampai 3.

Kenapa dikatakan begitu? Karena fenomenanya memang begitu. Para orang tuanya yang belajar. Orang tuanya yang sibuk menjawab soal, membuatkan kerajinan tangan, tekun mengikuti arahan guru dalam pertemuan virtual yang diikutinya. Semua itu alih-alih mendampingi anak ketika belajar.

Peserta didik tingkat TK dan kelas 1 sampai 3 memang butuh pendampingan ekstra. Apalagi tingkat TK yang sudah jelas dan kelas 1 masih ada yang belum bisa baca dan tulis. Selain itu, mereka adalah anak-anak yang masih suka bermain, yang jika dalam kondisi normal mereka belajar sambil bermain.

Kembali Sekolah, Kembali Belajar Orang Tuanya Bukan Muridnya

Pendampingan dalam belajar adalah hal yang sangat wajib dilakukan oleh setiap orang tua. Namun fenomena yang terjadi, adalah pada saat belajar orang tua murid mengambil alih tugas anaknya, akibatnya mereka kelabakan sendiri dalam menjawab soal dari sang guru. Sedangkan sang anak malah main dan asyik sendiri.

Pikiran orang tua yang biasanya digunakan untuk mencari uang, akhirnya digunakan untuk kembali belajar. Orang tua harus mencari informasi ke sana ke mari untuk menjawab soal sang guru.

Bahkan, kembali terjadi lagi kebiasaan sebagian orang tua pada masa muda, yakni saling menyontek. Orang tua A tanya ke orang tua B. Orang tua B tanya ke orang tua C, dan seterusnya. Mereka saling menyontek untuk memastikan bahwa jawaban memang benar.

Sehingga akibat segala tuntutan agar nilai anaknya tidak turun, nilai-nilai kejujuran pun akhirnya dikesampingkan. Dan sungguh ironi, jika apalagi terjadi pada orang tua yang anaknya belajar di sekolah berlabel Islami.

Maka, ketika kembali belajar adalah orang tua, orang tua harus kembali menyiapkan diri. Orang tua harus memeras otak agar bisa membantu anaknya menjawab soal dan tugas dari guru. Orang tua harus turut sering baca literatur anak-anak.

Itulah fenomena yang terjadi dalam sekolah dari rumah untuk anak-anak SD kelas awal. Tak dipungkiri, orang tualah yang sebenarnya kembali belajar. Selain mencari nafkah, orang tua juga mencari jawaban soal-soal sekolah yang diberikan sang guru.

- Advertisement -

Nah, rapor yang didapatkan di akhir semester itu adalah potret kemampuan orang tua, bukan kemampuan anak. Kalau rapornya jelek, ya berarti orang tuanya kesulitan membuatkan tugas dan menjawab soal. Bukan begitu?

Fenomena orang tua belajar dan mengambil alih tugas anaknya diharapkan dapat dikurangi atau bahkan berhenti. Orang tua belajar itu adalah untuk mendampingi dan membantu anaknya ketika belajar. Membantu mereka dengan membimbing dan mengarahkan dalam menjawab setiap soalnya, bukan mengambil alih dalam pengerjaannya.

Orang tua belajar itu adalah untuk mendampingi dan membantu anaknya ketika belajar. Membantu mereka dengan membimbing dan mengarahkan dalam menjawab setiap soalnya, bukan mengambil alih dalam pengerjaannya

Jika fenomena kebiasaan ini tidak dikurangi atau berhenti. Nantinya, ketika masa pandemi ini berakhir, kemudian sekolah kembali dibuka dan belajar dilakukan secara normal, para peserta didik tingkat dasar itu akan mengalami kesulitan belajar. Karena sebelumnya merek terbiasa segala tugasnya ditangani oleh orang tuanya.

Keberhasilan belajar bagi peserta didik tingkat dasar (TK dan SD kelas 1 sampai 3) akan menentukan prestasi dan keberhasilan belajar pada tingkat berikutnya. Oleh karena itu, sejatinya orang tua itu membantunya. Membantu keluar dari kesulitan belajar dengan proses yang baik, bukan menjerumuskannya dengan cara pintas mengambil alih pekerjaan sekolahnya.

- Advertisement -
Apa yang kamu rasakan?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Advertisement

Must Read

Advertisement

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

error: